Sejarah Penting Bahasa Melayu di Kepulauan Riau
Kepulauan Riau memiliki peran penting dalam sejarah lahirnya Bahasa Indonesia. Di bumi Melayu ini, lahir tokoh besar bernama Raja Ali Haji yang dikenal sebagai Bapak Bahasa Melayu. Karyanya menjadi dasar pembakuan bahasa yang akhirnya menjadi fondasi Bahasa Indonesia.
Pertanyaannya, siapa yang pertama kali mengusulkan agar Bahasa Melayu menjadi bahasa persatuan? Dalam catatan sejarah, ide ini disampaikan oleh R.M. Soewardi Soerjaningrat (Ki Hajar Dewantara) dalam makalahnya pada Kongres Pengajaran Kolonial di Den Haag pada 28 Agustus 1916.
Perkembangan dari Kongres Pemuda ke Sumpah Pemuda
Dalam Kongres Pemuda I tahun 1926, muncul dua pendapat besar. Pertama, Muhammad Yamin mengusulkan tetap menggunakan istilah Bahasa Melayu. Kedua, M. Tabrani mengusulkan nama baru: Bahasa Indonesia. Akhirnya, usulan Tabrani diterima dan pada Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928, Bahasa Melayu secara resmi berubah menjadi Bahasa Indonesia.
Menurut Abdul Malik, budayawan sekaligus Dekan FKIP Universitas Maritim Raja Ali Haji, tidak ada keraguan bahwa Bahasa Indonesia berasal dari Bahasa Melayu. Hal ini didasarkan pada fakta sejarah yang jelas.
Masa Kejayaan Bahasa Melayu
- Zaman Sriwijaya (Abad VII–XIV)
Bahasa Melayu sudah digunakan sejak 4.000 tahun lalu. Pada abad ke-7, bahasa ini mencapai puncak kejayaannya di bawah Kemaharajaan Sriwijaya. Catatan dari pendeta Tiongkok Yi Jing menyebut bahasa ini sebagai Kunlun, yang menjadi bahasa resmi, agama, perdagangan, dan ilmu pengetahuan di Asia Tenggara.
Prasasti di Kedukan Bukit (683 M), Talang Tuwo (684 M), dan Kota Kapur (686 M) menunjukkan perkembangan pesat bahasa Melayu Kuno yang berinteraksi dengan bahasa Sansekerta.
- Zaman Melaka (Abad XIII–XVI)
Setelah Sriwijaya meredup, pusat kebesaran Melayu bergeser ke Kerajaan Melaka. Pada masa ini, bahasa Melayu terpengaruh oleh Islam dan bahasa Arab. Ulama dan pedagang dari Gujarat, Persia, hingga Pasai menyebarkan Islam sambil menggunakan bahasa Melayu sebagai lingua franca.
Bahasa ini bahkan menjadi bahasa internasional kedua setelah Arab di dunia Islam.
- Zaman Riau-Johor (Abad XVI–XIX)
Setelah Melaka ditaklukkan Portugis (1511), pusat tradisi Melayu bergeser ke Johor, Riau, Lingga, dan Penyengat. Karya monumental seperti Sejarah Melayu (Sulalatus Salatin) lahir di era ini.
Abad ke-18, Raja Haji memperkuat posisi bahasa Melayu di kawasan Nusantara melalui perjuangannya melawan Belanda.
- Zaman Riau-Lingga (Abad XIX–XX)
Ini adalah puncak tamadun Melayu-Islam. Raja Ali Haji melahirkan karya-karya monumental seperti Gurindam Dua Belas (1847), Bustanul Katibin (1857), Kitab Pengetahuan Bahasa (1858), dan Tuhfat al-Nafis (1865).
Bahasa Melayu Riau yang dibakukan Raja Ali Haji dikenal sebagai Bahasa Melayu Tinggi: murni dalam pelafalan, baku dalam ejaan, dan menjadi standar pengajaran di sekolah-sekolah Hindia Belanda.
Perkembangan Menuju Bahasa Indonesia
Ketika Belanda membuka sekolah pribumi (1872), mereka menetapkan bahasa pengantar dengan standar bahasa daerah “yang paling murni”. Untuk bahasa Melayu, dipilih Melayu Riau-Semenanjung karena dianggap paling baku dan berkembang.
Kebijakan ini membuat bahasa Melayu Riau menyebar luas ke seluruh Hindia Belanda. Ketika tokoh pergerakan nasional seperti Ki Hajar Dewantara, Muh. Yamin, dan M. Tabrani mengusulkan bahasa persatuan, semua pihak bisa menerima.
Perdebatan Mengenai Asal-Usul Bahasa Indonesia
Beberapa sarjana Barat sempat menyebut bahasa Indonesia lahir dari pijin atau kreol Melayu, namun pendapat ini dibantah oleh pakar bahasa Indonesia Harimurti Kridalaksana. Menurutnya, saat 1928, bahasa Melayu sudah menjadi bahasa penuh (full-fledged language) dengan tradisi sastra panjang sejak abad ke-14, sehingga tidak mungkin disebut pijin atau kreol.
Tokoh besar seperti Sutan Takdir Alisjahbana (1933) dan Ki Hajar Dewantara (1938) juga menegaskan bahwa Bahasa Indonesia adalah Bahasa Melayu, khususnya Melayu Riau.




