Sahur di Jalan, Patroli dan Tari Topeng di Kampung Budaya Polowijen

mediapresisi.com, MALANG — Kegiatan Sahur on The Roaddi Desa Budaya Polowijen sepanjang Jalan Cakalang dan Jalan Polowijen II,Malang, yang diadakan oleh mahasiswa KKN Tematik Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) 2026 kelompok 14 ditampilkan dengan kombinasi penyiaran Ramadan bersama tradisi patroli membangunkan sahur yang kaya akan nilai budaya serta pertunjukan tari topeng.

Suasana sahur terasa lebih meriah berkat dukungan dari Dormi Hostel dan Kuliner Sengkaling UMM yang memberikan nasi kotak kepada warga sepanjang jalur patroli. Tindakan berbagi ini memperkuat makna persatuan dan kepedulian sosial pada bulan suci.

Ciri khas kegiatan ini terlihat dari hadirnya penari Topeng Malang di barisan depan rombongan. Tradisi membangunkan sahur digabungkan dengan ekspresi seni, sehingga patrol bukan hanya rutinitas biasa, tetapi menjadi perayaan budaya.

Baja Juga  Ramalan Zodiak Cinta Hari Ini: Cancer Tenang, Sagitarius Romantis

Di barisan paling belakang, para mahasiswa dan warga memukul kentongan, kendang perkusi, galon air, ompreng, serta berbagai alat dapur. Suara yang dihasilkan secara teratur menciptakan semangat bersama sekaligus menghidupkan suasana desa.

“Sahur On The Road menghadirkan semangat Ramadan untuk membangkitkan kembali kebersamaan, kerja sama, budaya gotong royong, dan saling berbagi. Tahun ini, acara ini akan mengunjungi komunitas gang motor, para pedagang pasar krempyeng, serta kampung bertema di Kota Malang. Semoga berjalan lancar dan mendapat berkah dari Allah SWT,” katanya.

Bagi mahasiswa KKN Kelompok 14, ini merupakan penyelenggaraan yang kedua dan terlihat semakin terampil dalam menggunakan alat patroli. Mereka sebelumnya mendapatworkshopoleh Aak Agus Wayan (Arca Tatasawara) serta berdiskusi dengan Redy Eko Prasetyo (Duo Etnicholic), pengabdi Kampung Cempluk, dan Arik Sugiyanto, pelestari gamelan Malang dari Lesanpuro.

Baja Juga  Polisi Buru Pelaku Penjarahan Rumah Uya Kuya

Proses pembelajaran ini memperluas pemahaman mahasiswa bahwa tarian tidak hanya sekadar gerakan yang berirama, tetapi juga warisan budaya yang memiliki makna sejarah dan sosial yang mendalam.

Kegiatan dimulai dan selesai di Kampung Budaya Polowijen, dilanjutkan dengan tampilnya Tari Topeng Grebeg Sabrang pada pukul 03.00 dini hari, sebuah peristiwa yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Makna dari tarian tersebut, yaitu para pemuda tidak hanya “menyeberang” desa untuk membangunkan sahur, tetapi juga menunjukkan simbol keberanian dan semangat melalui tari Grebeg Sabrang.

Ki Demang, inisiator Kampung Budaya Polowijen, menyampaikan rasa terima kasih atas perhatian UMM terhadap pelestarian tradisi patrol kentongan.

“Kami mengucapkan terima kasih karena UMM memperhatikan pelestarian tradisi. Kentongan merupakan alat komunikasi untuk peringatan dan informasi; setiap ketukan memiliki makna dan arti, selain sebagai kesenian musik tradisional,” katanya.

Baja Juga  Ramalan Shio Hari Ini: Kuda, Kambing, Monyet, Ayam, Anjing, dan Babi

Ia menegaskan bahwa menghidupkan kembali kentongan penting untuk menyeimbangkan perubahan dalam patroli modern yang saat ini banyak menggunakan musik tong-tong bahkan suara horeg, agar akar budaya tetap terjaga.

Kehadiran UMM dalam mendukung Patrol Sahur On The Road di Kampung Budaya Polowijen, menurutnya, menjadi contoh bahwa Ramadan bisa menjadi kesempatan untuk membangunkan tidak hanya masyarakat untuk berbuka puasa, tetapi juga kesadaran generasi muda dalam melestarikan tradisi dan warisan budaya Nusantara.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *