MediaPresisi.com, JAKARTA — Menteri Keuangan (Menkeu) tetap yakin bahwa nilai tukar rupiah akan mengalami penguatan setelah beberapa hari terakhir mengalami penurunan akibat berbagai faktor.
Purbaya mengatakan bahwa investor pekan lalu sempat terdampak oleh sentimen terkait kebijakan himbara yang menaikkan bunga deposito valas hingga 4%. Padahal, Bendahara Negara itu mengakui Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) tidak memiliki pengetahuan apa pun tentang kebijakan tersebut.
Sementara pemerintah masih berusaha memahami situasi yang terjadi, Purbaya tetap yakin bahwa rupiah akan kembali menguat dalam beberapa waktu mendatang. Terutama setelah kementeriannya memastikan bahwa kebijakan himbara tersebut bukan bagian dari kebijakan pemerintah.
Oleh karena itu, mantan Ketua Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) yakin para investor tidak akan terburu-buru mengubah uangnya dari mata uang rupiah ke dolar karena godaan bunga deposito valas yang lebih besar.
“Maka seharusnya rupiah akan menguat. Jika kita lihat… artinya orang yang tadinya ingin menukar rupiah ke dolar akhirnya tidak jadi karena ternyata nilai tukar rupiah masih tinggi,” kata Purbaya saat diwawancarai dalam acara Akad Massal 26.000 Kredit Pemilikan Rumah Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (KUR FLPP) dan Serah Terima Kunci di Cileungsi, Bogor, Senin (29/9/2025).
Purbaya menyampaikan bahwa para investor akan mempertimbangkan kondisi perekonomian suatu negara sebelum melakukan investasi. Oleh karena itu, ia yakin bahwa investor akan kembali masuk ke Indonesia dengan aliran dana yang mengalir setelah kondisi ekonomi Indonesia meningkat.
Ia memberikan contoh proyek-proyek yang memiliki dampak multiplier besar seperti perumahan rakyat, yang baru saja diluncurkan bersama Presiden Prabowo Subianto. Ia yakin proyek sejenis akan menciptakan suasana positif bagi para investor untuk kembali memperhatikan pasar dalam negeri.
“Kaget akan masuk ke sini. Ya, pada saat itu rupiah cenderung menguat,” jelasnya.
Jika merujuk pada data Bank Indonesia (BI), aliran modal asing yang keluar bersih dari pasar keuangan dalam negeri mencapai Rp2,71 triliun pada periode 22-25 September 2025.
Kepala Eksekutif Departemen Komunikasi BI Ramdan Denny Prakoso menjelaskan bahwa investor tercatat melakukan penarikan bersih di pasar Surat Berharga Negara (SBN) dan Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) masing-masing sebesar Rp2,16 triliun dan Rp5,06 triliun.
Namun, terdapat aliran modal asing masuk bersih di pasar saham sebesar Rp4,51 triliun. Dengan demikian, modal asing yang keluar bersih mencapai sebesar Rp2,71 triliun.
Sejak awal tahun ini hingga 25 September 2025, arus dana asing keluar bersih di pasar saham dan SRBI masing-masing mencapai Rp51,34 triliun dan Rp128,85 triliun. Sementara itu, dana asing masuk bersih di pasar SBN sebesar Rp36,25 triliun.
Di tengah situasi tersebut, premi risiko investasi (credit default swaps/CDS) Indonesia 5 tahun tenor mengalami peningkatan dari 69,59 basis poin (bps) pada 19 September menjadi 83,18 bps pada 25 September 2025.
Peningkatan CDS mencerminkan pandangan pasar global yang lebih waspada terhadap surat utang Indonesia. Rupiah juga mengalami penurunan nilai tukarnya.
“Rupiah dibuka melemah pada angka Rp16.750 per dolar Amerika Serikat (AS) pada Jumat (26/9), berbeda dengan posisi di akhir perdagangan Kamis (18/9) yang berada di kisaran Rp16.735 per dolar AS,” ujar Ramdan.




