BERITA DIY –Indonesia terkenal sebagai negara yang memiliki berbagai tradisi yang muncul dari perpaduan agama, budaya, dan adat istiadat. Salah satu tradisi yang masih bertahan hingga saat ini adalah perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW di dua keraton besar Jawa, yakni Keraton Surakarta dan Keraton Yogyakarta.
Tradisi ini disebut dengan nama Sekaten, sebuah perayaan tahunan yang tidak hanya kaya akan makna spiritual, tetapi juga diisi dengan unsur budaya Jawa.
Puncak perayaan disebut dengan Grebeg Maulud, yaitu prosesi suci yang diikuti oleh ribuan warga.
Kemudian, apa saja rangkaian kegiatan yang terdapat dalam Sekaten dan kapan tradisi ini diadakan?
Sejarah dan Makna Sekaten
Sekaten di Surakarta dan Yogyakarta berasal dari ajaran Wali Songo pada abad ke-15. Berdasarkan catatan sejarah, Sunan Bonang memanfaatkan gamelan sebagai alat untuk menarik perhatian masyarakat agar datang ke masjid. Setelah tertarik oleh suara gamelan, masyarakat kemudian diajak mendengarkan syair yang berisi pesan-pesan agama Islam.
Dari sini muncul tradisi Sekaten, yang merupakan bentuk gabungan antara seni, budaya, dan spiritualitas Islam. Tradisi ini diadakan setiap tahun pada bulan Rabiulawal, yaitu tanggal 12 Rabiulawal dalam kalender Hijriah, sebagai peringatan kelahiran Nabi Muhammad SAW.
Sekaten di Surakarta
Berdasarkan keterangan resmi Pemerintah Kota Surakarta (surakarta.go.id), Perayaan Sekaten di Surakarta secara rutin diselenggarakan dengan berbagai acara yang meriah. Salah satu ciri khasnya adalah pasar malam yang berlangsung sekitar sebulan penuh di sekitar alun-alun keraton.
Pasar malam Sekaten menyediakan berbagai penjual makanan, mainan, serta produk lokal. Namun, inti dari tradisi ini tetap berada pada permainan gamelan keraton yang dianggap sebagai warisan Wali Songo. Bagi warga Solo, Sekaten bukan hanya sebagai hiburan, tetapi juga kesempatan untuk memperkuat hubungan sosial dan spiritual.
Sekaten di Yogyakarta
Sekaten di Yogyakarta memiliki karakteristik khas. Menurut buku Pasti Bisa Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti (Tim Duta Madani, 2017:127), Sunan Bonang mengiringi gamelan dengan menyisipkan lagu-lagu dakwah Islam. Berdasarkan tradisi ini, Sekaten terus berkembang dan dilestarikan hingga saat ini.
Selain alat musik gamelan dan pasar tradisional, Keraton Yogyakarta memiliki kebiasaan khas bernama Udhik-udhik. Dalam acara ini, Sri Sultan membagikan uang logam, beras, dan bunga kepada masyarakat. Simbol ini diartikan sebagai wujud kemakmuran dan berkah yang diharapkan dapat dirasakan oleh seluruh rakyat.
Grebeg Maulud: Puncak Sekaten
Di Surakarta dan Yogyakarta, perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW mencapai puncaknya melalui acara Grebeg Maulud. Prosesi ini ditandai dengan pengeluaran gunungan, yaitu tumpukan hasil bumi, makanan, serta simbol keberkahan yang dibawa dari keraton menuju masjid.
Gunungan kemudian akan diperebutkan oleh warga yang hadir. Tradisi ini dianggap membawa berkah dan rezeki bagi siapa saja yang berhasil memperoleh sebagian dari gunungan. Berdasarkan penelitian yang diterbitkan diGaruda Kemdikbud, gunungan juga menggambarkan jiwa manusia yang memiliki berbagai sifat baik dan buruk, sehingga perayaan ini mengingatkan umat untuk selalu menjaga diri.
Perbedaan antara Sekaten Surakarta dan Yogyakarta
Meskipun keduanya memiliki akar dari tradisi Wali Songo, perayaan Sekaten di Surakarta dan Yogyakarta sedikit berbeda dalam pelaksanaannya:
- Solo: tidak memiliki prosesi Udhik-udhik. Fokus utama adalah kesenian gamelan dan pasar malam yang ramai.
- Yogyakarta: memiliki prosesi tambahan bernama Udhik-udhik, di mana Sultan membagikan uang koin, beras, dan bunga sebagai lambang pembagian kebahagiaan.
Meskipun memiliki perbedaan dalam hal detail, keduanya tetap memiliki tujuan yang sama, yakni memperingati kelahiran Nabi Muhammad SAW dengan cara yang menghadirkan nilai-nilai Islam kepada masyarakat melalui budaya Jawa.
Kapan Sekaten Dilaksanakan?
Sekaten selalu diadakan pada bulan Rabiulawal, yaitu bulan ketiga dalam kalender Hijriah. Puncak perayaannya jatuh pada tanggal 12 Rabiulawal, yang merupakan hari lahir Nabi Muhammad SAW.
Karena menggunakan kalender Hijriah, tanggal perayaan dalam kalender Masehi berbeda setiap tahunnya. Masyarakat biasanya menantikan pengumuman resmi dari pihak keraton terkait jadwal kegiatan, mulai dari pertunjukan gamelan, pembukaan pasar malam, hingga prosesi Grebeg Maulud.
Perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW di Keraton Surakarta dan Yogyakarta bukan hanya sekadar ritual, tetapi merupakan warisan budaya Islam-Jawa yang masih terjaga hingga saat ini. Melalui perayaan Sekaten dan puncaknya Grebeg Maulud, masyarakat diajak untuk mengingat kelahiran Nabi sambil merasakan makna kebersamaan dan spiritualitas.
Kombinasi antara alunan gamelan, pasar tradisional, hingga upacara gunungan menunjukkan bagaimana penyebaran agama Islam di masa lalu mampu menyesuaikan diri dengan kebudayaan setempat. Perbedaan detail antara Surakarta dan Yogyakarta justru memperkaya makna tradisi, tanpa menghilangkan inti dari perayaan Maulid Nabi.




