Pasca Tragedi Ponpes Al Khoziny, Azis Terus Menggema Tangisan Santri

Pengalaman Traumatis dari Tim Rescue dalam Penyelamatan Tragedi Ponpes Al Khoziny

Dua minggu telah berlalu sejak tragedi ambruknya bangunan Pondok Pesantren (Ponpes) Al Khoziny di Buduran, Sidoarjo. Namun bagi para korban selamat dan tim rescue, kejadian mengerikan itu masih terasa menyakitkan. Bahkan bagi anggota Tim Rescue 1 Damkar Kota Surabaya, Abdul Azis, pengalaman tersebut masih terus menghantui.

Azis mengungkapkan bahwa bayangan tragedi tersebut sering muncul ketika ia akan tidur. Tangisan dan teriakan minta tolong dari para santri yang tertimbun reruntuhan bangunan masih terngiang di telinganya. Ia bahkan mengatakan bahwa upaya para santri mengetuk-ngetuk reruntuhan sebagai kode bahwa mereka masih hidup juga masih teringat jelas.

“Iya masih terngiang, tangisan mereka, teriakan minta tolong, sampai upaya mereka mengetuk-ngetuk reruntuhan sebagai kode kalau masih bertahan (hidup). Semuanya masih terngiang,” ujar Azis saat ditemui di kantor PMK Pasar Turi Surabaya, Minggu (12/10) malam.

Baja Juga  Pandangan: Kekacauan Geopolitik, Bagaimana Bisnis Bertahan?

Salah satu momen yang paling membekas dalam dirinya adalah saat bisa berkomunikasi dengan salah satu santri yang terjebak di bawah reruntuhan beton. Momen percakapan dengan santri bernama Syailendra Haical atau Haikal ini lantas viral di media sosial.

“Iya waktu itu kami dari tim rescue berkomunikasi dengan Haikal, mencoba menguatkannya, memberinya dorongan semangat. Karena kondisi Haikal waktu itu memang cukup sulit dievakuasi. Sejak berhasil ditemukan pada hari Senin (29/9) malam, Haikal baru bisa dievakuasi tim Basarnas pada hari Rabu (1/10),” kata ayah dua putri ini.

Berada di bawah reruntuhan beton yang rawan ambruk lagi, bersama rekannya, Elvanio Widya Santosa, Azis berhasil menemukan sejumlah santri yang masih bertahan hidup, salah satunya Haikal.

Baja Juga  Cegah Balap Liar, Polres Banjarbaru Pantau Wilayah Gubernuran Kalsel dan Lianganggang

“Ada 6 santri, salah satunya Haikal itu,” tambahnya.

Hingga kini, Azis mengaku masih sering memantau kondisi dari keenam santri tersebut. Bahkan ia tak bisa menyembunyikan kesedihan saat mengetahui kondisi Haikal yang harus diamputasi kaki kirinya.

“Ya gimana ya, memang kondisi Haikal waktu (di bawah reruntuhan) itu sangat sulit. Kakinya terjepit beton,” ujarnya.

Bagi Azis, terlibat dalam proses penyelamatan korban tragedi ambruknya ponpes Al Khoziny menjadi pengalaman pertama yang dilakukannya dengan jumlah korban banyak dan besarnya bangunan yang ambruk.

“Kalau rescue korban reruntuhan bangunan pernah, tapi bangunannya tidak sebesar ponpes itu. Bahkan saya merasa sedang berada di Palestina karena saking besarnya bangunan yang ambruk dan korbannya banyak,” tegasnya.

Pengalaman Unik dan Kesedihan yang Tak Terlupakan

Selain pengalaman fisik, Azis juga mengungkapkan perasaan emosional yang mendalam akibat kejadian ini. Baginya, setiap kali melihat gambar atau mendengar kabar tentang korban, hatinya terasa sakit. Ia mengatakan bahwa kejadian ini bukan hanya tentang evakuasi, tetapi juga tentang bagaimana manusia bisa saling membantu dalam situasi yang sangat sulit.

Baja Juga  Purbaya Usulkan Pengelolaan SDA Hanya untuk BUMN dan Lembaga Negara

Ia juga berharap agar masyarakat lebih waspada terhadap bangunan-bangunan yang sudah tua atau tidak memiliki izin. “Semoga kejadian seperti ini tidak terulang lagi,” harapnya.

Azis juga mengungkapkan bahwa ia dan rekan-rekannya selalu berdoa bagi para korban dan keluarga mereka. “Doa adalah bentuk dukungan terbaik yang bisa kami berikan,” katanya.

Dengan pengalaman ini, Azis berharap dapat menjadi pelajaran berharga bagi semua pihak, baik dari pemerintah maupun masyarakat, untuk lebih menjaga keselamatan dan kenyamanan dalam pembangunan serta penggunaan bangunan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *