Ringkasan Berita:
- Reihan Sharab (32) mengubah kotak bekas bantuan menjadi lampu hias Ramadan guna membangkitkan kembali tradisi serta membawa kegembiraan bagi anak-anak di kamp pengungsi Gaza.
- Lampion yang dibuat secara manual bukan hanya menjadi lambang semangat Ramadan di tengah keterbatasan, tetapi juga membantu Sharab memperoleh penghasilan tambahan bagi keluarganya.
- Warga Gaza mengalami situasi ekonomi yang sangat berat karena konflik yang terus berlangsung, seluruh penduduk tinggal dalam kemiskinan dan bergantung pada bantuan.
NEWS.COM –Di tengah situasi kemanusiaan yang masih sulit akibat perang yang berlarut, seorang wanita Palestina di Gaza berusaha membangkitkan kembali tradisi Ramadan melalui cara sederhana namun penuh makna.
Ia mengubah kotak bantuan kemanusiaan menjadi lampu hias berwarna-warni guna menciptakan kegembiraan bagi anak-anak dan keluarga pengungsi.
Reihan Sharab (32), penduduk yang tinggal di kamp pengungsian wilayah Mawasi, sebelah barat Khan Younis, menggunakan kotak kardus bekas dari paket bantuan yang kosong dan rusak untuk membuat lampu lentera Ramadan.
Berada di depan tendanya, ia memotong kotak untuk membentuk kerangka lampu hias, kemudian menutupinya dengan kain berpola geometris tradisional yang berwarna cerah.
“Lampion ini bukan sekadar hiasan, melainkan mengandung pesan bahwa kita masih mampu menciptakan kebahagiaan dari hal-hal yang sederhana,” ujar Sharab, seperti dikutip dari Anadolu.
Menggunakan peralatan sederhana dan bahan yang ada, Sharab tetap berupaya menciptakan lampion yang terlihat terang dan meriah. Ia mengakui ingin memulihkan suasana Ramadan yang sempat hilang selama dua tahun terakhir.
“Saya berharap dapat menghidupkan kembali tradisi Ramadan di rumah-rumah warga Palestina setelah lama tidak dilakukan akibat perang,” katanya.
Sharab sebenarnya sudah membuat lampion sejak lima tahun yang lalu, awalnya untuk anaknya sendiri. Namun, kegiatan tersebut sempat terhenti ketika ia harus pindah dan kehilangan rumahnya.
Sekarang, ia kembali membuat lampion untuk anak-anak di kamp, masjid, toko kecil, dan lingkungan pengungsian.
Selain menjadi simbol tradisi, kegiatan ini juga berfungsi sebagai sumber pendapatan tambahan untuk memenuhi kebutuhan dua anaknya di tengah kesulitan kondisi ekonomi.
Kebahagiaan Kecil untuk Anak-anak
Lampion yang dibuat oleh Sharab mendapatkan respon positif, khususnya dari para anak-anak. Ia menyebutkan setiap kali lampion baru diberikan, wajah mereka langsung berbinar.
“Anak-anak menyentuhnya dengan hati-hati dan membawanya dengan bangga. Lampion ini membuat mereka bahagia sebelum orang dewasa merasakannya,” katanya.
Lampion Ramadhan dahulu merupakan simbol yang penting dan sering ditemukan di rumah serta jalan-jalan, sekaligus membawa kegembiraan bagi anak-anak. Namun, konflik yang terjadi sejak Oktober 2023 telah mengubah segalanya.
Karena itu, menjelang Ramadan, ia membagikan lampion dengan berbagai ukuran dan warna untuk menghiasi wilayah kamp. Baginya, perayaan tetap memiliki arti meskipun warga tinggal di tenda dan menghadapi keterbatasan.
“Kita perlu menyambut Ramadan meskipun dalam situasi yang berat. Lampion ini memberikan sedikit kegembiraan,” tambahnya.
Ramadan di Tengah Kekacauan Ekonomi
Meskipun pertempuran besar telah berakhir, laporan dari lapangan menunjukkan bahwa tembakan dan serangan masih terjadi hampir setiap hari. Sejak gencatan senjata diumumkan, lebih dari 600 warga Palestina dilaporkan meninggal dunia.
Dampak perang yang berlangsung selama lebih dari dua tahun menyebabkan sebagian besar penduduk kehilangan pekerjaan dan sumber penghasilan.
Kegiatan ekonomi di pasar-pasar tradisional Gaza mengalami penurunan yang signifikan akibat kemampuan belanja masyarakat yang sangat rendah.
Banyak pedagang mengakui jumlah pembeli sedikit, sementara masyarakat kesulitan memenuhi kebutuhan pokok, termasuk persiapan menyambut Ramadan.
“Tidak ada uang tunai dalam masyarakat. Tidak ada pekerjaan. Ramadan membutuhkan dana,” ujar Waleed Zaqzouq, penduduk Kota Gaza. Menurutnya, situasi yang terus berlangsung telah menyebabkan masyarakat tidak hanya mengalami tekanan ekonomi, tetapi juga kelelahan mental akibat ketidakpastian dalam kehidupan.
Data Bank Dunia menunjukkan bahwa seluruh penduduk Gaza kini berada dalam kondisi miskin dan sangat bergantung pada bantuan kemanusiaan. Namun, penyaluran bantuan masih terbatas akibat hambatan akses serta pembatasan yang berlaku di wilayah tersebut.
Krisis kemanusiaan semakin memburuk akibat cuaca yang tidak menentu. Musim dingin yang sangat keras mengakibatkan hujan lebat yang menggenangi tenda-tenda pengungsian sementara.
Banyak keluarga terpaksa tinggal di tenda dengan perlindungan yang sedikit, sementara suhu dingin dilaporkan menyebabkan kematian, khususnya pada anak-anak.
Di tengah keterbatasan yang ada, Ramadan tahun ini dijalani dalam suasana penuh kekhawatiran, dengan sebagian besar masyarakat lebih menitikberatkan pada upaya mempertahankan hidup daripada menjalani tradisi seperti tahun-tahun sebelumnya.
(news.com / Namira)




