Hari Ke-1.277 Perang Rusia-Ukraina: Agenda Pertemuan Zelensky-Putin Belum Siap

NEWS.COM – Perang Rusia-Ukraina telah berlangsung selama 1.277 hari pada hari Sabtu (23 Agustus 2025) hari ini.

Tensi geopolitik antara Rusia dan Ukraina semakin memburuk, sementara upaya perdamaian belum menunjukkan kemajuan.

Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump kembali mengancam akan menerapkan sanksi terhadap Rusia, jika dalam jangka dua minggu tidak ada kemajuan menuju penyelesaian perang.

Di sisi lain, Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky menuduh Moskow berusaha keras menghalangi pertemuan langsung antara dirinya dan Presiden Vladimir Putin.

Merespons hal tersebut, Menteri Luar Negeri Rusia, Sergei Lavrov menyatakan bahwa hingga saat ini belum ada rencana yang disusun untuk pertemuan puncak antara kedua pemimpin tersebut.

Perselisihan antara kedua negara bukanlah konflik yang muncul secara mendadak, melainkan akibat dari ketegangan sejarah yang terus berkobar sejak jatuhnya Uni Soviet pada 1991.

Ketika Ukraina mengumumkan kemerdekaannya, hubungan antara Moskow dan Kyiv mulai dipengaruhi oleh ketidakpercayaan dan persaingan kekuasaan.

Tensi memuncak secara signifikan pada tahun 2014, ketika Revolusi Euromaidan menggulingkan pemerintahan yang dekat dengan Rusia di Ukraina.

Sebagai tanggapan, Rusia mengambil alih Krimea dan mulai mendukung kelompok pemberontak bersenjata di wilayah Donbas.

Konflik yang awalnya bersifat lokal akhirnya berkembang menjadi serangan penuh pada Februari 2022, menandai masa baru dalam sejarah perang modern Eropa.

Baja Juga  Kapten Marc Klok: Persib Bandung Tak Akan Kalah! PSIM Jogja Jadi Sasaran Gol Maung Bandung

Perang ini tidak hanya berkaitan dengan wilayah dan kekuasaan, tetapi juga tentang narasi, legitimasi, serta masa depan sistem internasional.

Pada hari ke-1.277, dunia melihat bahwa akar perpecahan masih dalam, dan jalur menuju perdamaian masih panjang.

Berikut adalah penjelasan detail mengenai peristiwa yang terjadi dalam perang Rusia-Ukraina pada hari ke-1.277:

1. Trump Ancam Rusia

Donald Trump mengancam akan memberikan sanksi terhadap Rusia jika tidak ada kemajuan menuju perdamaian di Ukraina dalam waktu dua minggu.

Dilansir dari The Guardian, ancaman tersebut muncul seminggu setelah pertemuan mereka dengan Presiden Rusia Vladimir Putin di Alaska.

“Saya akan mengambil keputusan mengenai apa yang akan kita lakukan, dan keputusan ini akan sangat penting, apakah itu sanksi besar, tarif tinggi, atau keduanya, atau kita tidak melakukan apa-apa,” kata Trump pada Jumat (22/8/2025).

Ia juga menyampaikan ketidakpuasan terhadap serangan Rusia terhadap sebuah pabrik Amerika di Ukraina yang mengakibatkan kebakaran dan melukai beberapa karyawan.

2. Trump Memperlihatkan Gambar Pertemuan Bersama Putin

Pada acara Gedung Putih pada hari yang sama, Trump memperlihatkan foto pertemuan dengan Putin di karpet merah Alaska.

Trump menyebutkan bahwa Putin berkeinginan untuk hadir dalam pertandingan sepak bola Piala Dunia 2026 yang akan dihelat di Amerika Serikat.

Baja Juga  Indeks Bisnis-27 Dibuka merah, Saham BBCA, BBRI hingga BMRI Kompak Lesu

“Saya akan menandatangani ini untuknya. Namun saya menerima satu, dan saya rasa Anda ingin melihatnya, ini seorang pria bernama Vladimir Putin, yang saya yakin akan datang, tergantung apa yang terjadi,” kata Trump.

Menurut Trump, kehadiran Putin dalam Piala Dunia masih tergantung pada perubahan kondisi dunia.

Pada hari Jumat (15 Agustus 2025), Donald Trump dan Vladimir Putin bertemu di Alaska guna membahas perselisihan Ukraina serta hubungan antara Amerika Serikat dan Rusia.

Sesi pertemuan berlangsung selama tiga jam, tetapi belum membuahkan kesepakatan yang jelas.

Trump menggambarkan percakapan tersebut sebagai efektif, sementara Putin menyatakan telah mencapai kesepahaman.

Zelenskyy mengkritik pertemuan tersebut karena Ukraina tidak turut serta.

Putin mengundang Trump ke Moskow untuk pertemuan lanjutan, dan kemudian Trump bertemu dengan Zelenskyy pada 18 Agustus 2025.

Meskipun belum ada kemajuan signifikan, pertemuan ini membuka kesempatan untuk diplomasi yang lebih baru di tengah ketegangan internasional.

3. Zelensky: Rusia Menghalangi Perjanjian Damai

Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky mengklaim bahwa Rusia melakukan segala upaya untuk menghalangi pertemuan langsung antara dirinya dan Putin.

Zelensky menyatakan bahwa pertemuan tersebut adalah satu-satunya metode untuk membicarakan berakhirnya konflik.

Ia menekankan bahwa Rusia berusaha memperpanjang waktu.

“Kunjungan tersebut merupakan salah satu elemen dalam upaya mengakhiri konflik. Dan karena mereka tidak ingin menghentikannya, mereka akan mencari cara untuk menghindarinya,” kata Zelensky pada Jumat (22/8/2025) dalam konferensi pers di Kyiv bersama Sekretaris Jenderal NATO Mark Rutte.

Baja Juga  Wall Street Bersorak Jumat: Dow Rekor Baru Usai Isyarat Powell

4. Lavrov: Agenda Pertemuan Masih Belum Siap

Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Lavrov menyatakan bahwa belum ada rencana khusus untuk pertemuan antara Putin dan Zelensky.

“Putin siap bertemu dengan Zelensky ketika jadwal pertemuan puncak tersebut telah selesai disusun. Dan jadwal ini sama sekali belum siap,” kata Lavrov kepada NBC.

Sergei Lavrov menjabat sebagai Menteri Luar Negeri Rusia sejak 9 Maret 2004, membuatnya menjadi diplomat dengan masa bakti terpanjang di Rusia sejak masa Soviet.

Ia dilahirkan di Moskow pada 21 Maret 1950 dan lulus dari Institut

Lembaga Hubungan Internasional Moskow (MGIMO). Lavrov terkenal sebagai diplomat khas abad ke-20 dengan pendekatan negosiasi yang keras dan profesional.

5. Putin Mengapresiasi Kepemimpinan Trump

Presiden Rusia Vladimir Putin mengapresiasi kemampuan kepemimpinan Donald Trump saat berkunjung ke pusat penelitian nuklir pada hari Jumat (22/8/2025).

“Kedatangan Presiden Trump, menurut saya, membawa sedikit harapan akhirnya muncul,” kata Putin.

Ia menyampaikan bahwa pertemuan yang berlangsung di Alaska berjalan dengan sangat baik, bermakna, dan jujur.

(news.com/Andari Wulan Nugrahani)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *