MediaPresisi.com– Ethereum kembali membuat sejarah. Pada pertama kalinya sejak masa bull market kripto tahun 2021, harga Ethereum melewati rekor tertingginya dan mencatatkan angka yang mengejutkan, yaitu USD 4.866 atau sekitar Rp 79 juta.
Peningkatan ini menjadi tanda bahwa Ethereum tidak hanya mengikuti langkah Bitcoin, tetapi mulai menunjukkan kekuatannya sebagai aset kripto utama yang semakin diminati oleh lembaga dan investor besar.
Dikutip dari The Block dan Coin World, Sabtu (23/8), kenaikan harga Ethereum dipicu oleh pernyataan yang cenderung lebih lunak dari Ketua The Fed Jerome Powell dalam simposium tahunan di Jackson Hole.
Di dalam pidatinya, Powell menyatakan bahwa “keseimbangan risiko saat ini mulai berubah”, dan perubahan tersebut bisa memicu perubahan dalam kebijakan moneter. Kalimat tersebut langsung ditangkap oleh pasar sebagai tanda kuat adanya kemungkinan pengurangan tingkat bunga pada bulan September mendatang.
Tiba-tiba, pasar merespons secara agresif. Ethereum melonjak 15 persen dan menciptakan rekor baru, sementara Bitcoin juga naik ke kisaran USD 124.500 atau sekitar Rp 2,02 miliar. Saham perusahaan yang terkait dengan kripto seperti Coinbase, Circle, dan Sharplink juga mengalami kenaikan, dengan kenaikan lebih dari 7 persen.
Peningkatan ini bukan hanya respons alami terhadap pengumuman suku bunga. Ethereum semakin menarik bagi investor lembaga karena memiliki lingkungan yang luas, mulai dari keuangan terdesentralisasi (DeFi), tokenisasi aset, hingga penggunaan stablecoin untuk pembayaran.
Bahkan, berdasarkan data dari Bloomberg, dana yang masuk ke ETF Ethereum berbasis tunai di Amerika Serikat telah mencapai lebih dari 2,5 miliar dolar AS hanya dalam bulan Agustus, jauh melebihi arus dana yang masuk ke ETF Bitcoin yang justru mengalami pengeluaran sebesar 1,3 juta dolar AS.
“Untuk pasar kripto, responsnya cepat dan positif. Dalam siklus bull market yang didorong oleh likuiditas seperti saat ini, para investor segera merespons sinyal dovish, dan pernyataan Powell memberikan hal tersebut,” ujar Katalin Tischhauser, Kepala Penelitian di Sygnum Bank.
Yang juga menarik, Ethereum tidak hanya didukung oleh spekulan individu. Banyak perusahaan saat ini membeli ETH sebagai bagian dari strategi keuangannya. Platform seperti BitMine bahkan memiliki ambisi untuk menguasai 5 persen dari total pasokan Ethereum dunia.
Di sisi lain, komunitas Ethereum mengeluarkan lembaga baru yang diberi nama Etherealize guna meningkatkan penggunaan jaringan Ethereum oleh perusahaan dan institusi.
Semangat optimis mulai muncul. Arthur Hayes, CIO Maelstrom, memprediksi harga Ethereum dapat mencapai USD 10.000 bahkan USD 20.000 di akhir siklus. Geoffrey Kendrick dari Standard Chartered juga memperkirakan Ethereum bisa mencapai USD 7.500 pada akhir tahun ini dan USD 25.000 pada 2028. Jika prediksi ini terwujud, maka nilai Ethereum bisa mencapai lebih dari Rp 407 juta per koin.
Selain faktor makroekonomi, pergerakan Ethereum juga dipengaruhi oleh aktivitas on-chain yang tinggi. Data dari CoinGlass menunjukkan terjadinya likuidasi posisi short sebesar USD 120 juta dalam waktu satu jam, yang memicu tekanan pembelian yang besar. Harga Ethereum terus meningkat seiring dengan penutupan paksa posisi short oleh sistem.
Keunggulan Ethereum terlihat dari kinerjanya yang lebih baik dibandingkan koin-koin besar lainnya seperti Solana, XRP, dan Litecoin.
Saat Bitcoin berada di kisaran USD 116.000 atau sekitar Rp 1,89 miliar, Ethereum justru terus mendominasi dengan ekosistem yang semakin rumit dan terhubung secara menyeluruh dengan sistem keuangan global, termasuk kemungkinan pemanfaatannya dalam proyek digital euro oleh Uni Eropa.
Peningkatan kejelasan regulasi di Amerika dan Eropa menjadi faktor penting yang mempercepat perkembangan. Undang-Undang Genius Act yang memberikan dasar hukum untuk stablecoin serta pertimbangan Uni Eropa yang menganggap Ethereum sebagai infrastruktur digital euro menunjukkan bahwa Ethereum kini dianggap lebih dari sekadar aset spekulatif.
Jika tren ini terus berlanjut, Ethereum tidak hanya akan menjadi pelopor teknologi blockchain, tetapi juga aktor utama dalam sistem keuangan global yang baru.




