Energi Terbarukan Lebih Kompetitif dengan Biaya Penyimpanan Baterai yang Lebih Rendah

mediapresisi.com, JAKARTA — Pengembangan energi terbarukanberpotensi mendapatkan dukungan besar seiring dengan penurunan biaya penyimpanan energi baterai ke tingkat terendah dalam sejarah pada 2025. Perkembangan ini meningkatkan daya saing proyek-proyek yang menggabungkan baterai dengan sumber daya matahari dan angin, sekaligus membantu mengatasi keterbatasan produksi (curtailment).

Biaya penyimpanan baterai mengalami penurunan lebih dari 25% sepanjang tahun lalu. BloombergNEF (BNEF) mencatatlevelized cost of electricity(Biaya Produksi Listrik Terstandar) untuk proyek baterai dengan kapasitas empat jam secarastandaloneturun sebesar 27% secara tahunan menjadi US$78 per megawatt-jam (MWh) pada 2025. Harga tersebut diperkirakan akan terus menurun menjadi US$58 per MWh pada 2035.

“Seiring dengan penurunan biaya, kami memprediksi penyimpanan baterai akan meningkatkan pendapatan proyek tenaga surya, mendukung ekspansi energi terbarukan secara lebih luas, serta mempercepat peralihan ke sistem penyeimbang berbasis penyimpanan dibandingkan pembangkit puncak yang mengandalkan bahan bakar fosil,” kata Amar Vasdev, Associate Ekonomi Energi Senior BNEF sekaligus penulis utama laporan, dilansir dari Bloomberg.

Baja Juga  Musim Kemarau 2026, Khofifah Pastikan Produksi Pertanian Lancar

Penurunan biaya baterai dianggap sangat penting karena teknologi ini mampu menyerap kelebihan listrik pada siang hari dan mengembalikannya saat permintaan meningkat pada malam hari. Situasi ini semakin mendesak mengingat peningkatan kapasitas energi surya dan angin di berbagai negara mulai memberatkan jaringan listrik dan memaksa pembatasan produksi energi terbarukan.

Penerapan sistem penyimpanan energi yang lebih luas juga memperkuat ketahanan jaringan listrik menghadapi lonjakan permintaan, serta berkontribusi dalam mengurangi dampak badai musim dingin yang ekstrem di Amerika Serikat beberapa waktu lalu.

Untuk negara-negara berkembang, penyediaan energi bersih yang lebih murah dan stabil menjadi kunci dalam meningkatkan kompetitif terhadap bahan bakar fosil serta mendorong pengurangan emisi karbon.

Baja Juga  Mengapa Mobil Drift Mengandalkan Penggerak RWD?

BNEF mencatat bahwa penyimpanan baterai menghadapi tren yang berbeda pada 2025, sementara biaya beberapa teknologi energi lain meningkat akibat kendala rantai pasok dan faktor-faktor lain, termasuk pembangkit listrik tenaga angin dan proyek surya.fixed-axis,dan turbin gas siklus gabungan.

Penurunan harga baterai, peningkatan dalam desain, serta persaingan yang lebih ketat mendorong penghematan biaya, bahkan melebihi perkiraan awal BNEF yang memprediksi penurunan sebesar 11% pada tahun 2025.

Dalam laporan terpisah pada bulan lalu, BNEF memprediksi kapasitas penyimpanan energi stasioner akan naik sepertiga pada 2026 menjadi 122,5 gigawatt (GW). Pertumbuhan ini didorong oleh peningkatan di Eropa, Timur Tengah, Afrika, dan Amerika Latin. Peningkatan pemasangan dipengaruhi oleh perluasan proyek skala utilitas, permintaan dari sektor rumah tangga, serta pengintegrasian baterai dengan pembangkit tenaga surya.

Baja Juga  Manchester City Kirim Bintang Muda ke Bayern Leverkusen: Bocah Emas Messi Era Baru

Meskipun biaya pendanaan lebih mahal serta tekanan kebijakan proteksionis dan gangguan dalam rantai pasok masih menjadi tantangan, BNEF memprediksi bahwa inovasi dan persaingan akan terus mengurangi biaya energi bersih.

Hingga tahun 2035, penurunan LCOE diperkirakan mencapai 30% untuk energi surya, 25% untuk penyimpanan baterai, 23% untuk angin darat, dan 20% untuk angin laut.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *