Dr Umarulfaruq Abubakar: Dari Lantai Masjid ke Mimbar Dakwah, Pernah Jadi Cleaning Service di Mesir

Ringkasan Berita:

  • Dr. Umarulfaruq Abubakar Lc., M.H.I,Ketua Majelis Syar’i PPTQ Ibnu Abbas Klaten | Ketua Formaqi
  • Jalur menuju panggung dakwah tidaklah pendek.
  • Umarulfaruq Abubakar pernah membersihkan lantai dan menjadi petugas pembersih agar bisa bertahan hidup di negara orang.

BANYUMAS.COM– Seorang anak laki-laki memulai langkahnya dari sebuah desa kecil di Tilamuta, Kecamatan Boalemo, Kabupaten Gorontalo, Provinsi Gorontalo, Hungayonaa. Di kampung yang damai tersebut, cahaya Ramadhan selalu tiba dengan cara yang unik.

Lentera minyak dinyalakan selama tiga malam terakhir bulan suci dalam tradisi Tumbilotohe. Cahaya kecil berkedip di sepanjang jalan, seolah menjadi tanda harapan.

Anak tersebut bernama Dr Umarulfaruq Abubakar, Lc., M.H.I. Sekarang, ia dikenal sebagai Ketua Majelis Syari PPTQ Ibnu Abbas Klaten dan Ketua Forum Maahid dan Madaris Quran Indonesia.

Namun, perjalanan menuju panggung dakwah tidaklah pendek. Ia pernah membersihkan lantai dan menjadi petugas kebersihan agar bisa bertahan hidup di negeri orang.

Cahaya dari Kampung Halaman

Waktu kecil Umar dihabiskan dalam lingkungan yang penuh dengan nilai-nilai agama. Rumahnya terletak berdekatan dengan Pondok Pesantren Alkhairaat Tilamuta, tempat ia menjalani pendidikan dasar hingga menengah atas.

Lantunan Ayat Suci dan nasihat para guru menjadi irama keseharian.

“(Masa kecil) dihabiskan di Gorontalo hingga SMA, lalu pergi ke Mesir,” kata Umarulfaruq saat diwawancarai di Pondok Pesantren Tahfizhul Qur’an Ibnu Abbas, Klaten, Jawa Tengah, Jumat (13/2/2026).

Baja Juga  Mahasiswi Makassar Ditemukan Tewas di Kamar Kos, Polisi Selidiki Kasus

Tradisi Tumbilotohe menjadi kenangan yang selalu ia bawa. Pada malam ke-27 Ramadan, meskipun sudah jauh dari kampung halaman, ia tetap menyalakan lampu sebagai lambang harapan.

Baginya, cahaya itu bukan sekadar tradisi, melainkan penanda mimpi yang mulai tumbuh sejak kecil.

Mimpi ke Negeri Para Ulama

Di pesantren, Umar kecil bertemu sejumlah guru dari Mesir. Salah satunya adalah Syekh Abdussalam Fatkhi Harun. Suatu hari, ketika usianya sekitar 12 tahun, sang syekh berkata, “Umar, nanti kalau sudah besar belajar ke Mesir. Saya yang jemput.”

Kalimat itu terpatri kuat. Terlebih, ayahnya pernah memiliki mimpi yang sama, tetapi terhalang biaya. Mimpi itu kemudian menjadi amanah keluarga.

Tujuh tahun kemudian, ia benar-benar pergi ke Mesir pada tahun 2003. Pertemuan kembali dengan gurunya menjadi momen yang menyentuh sekaligus awal dari ujian kehidupan di luar kampung halaman. Pesan ayahnya sebelum berangkat selalu terpahat dalam ingatannya, yaitu agar tidak menangis agar tidak menyebabkan kesedihan bagi keluarga yang ditinggalkannya.

Tujuh Lebaran Tanpa Pelukan

Hidup di Mesir bukanlah hal yang mudah. Selama tujuh kali hari raya Idulfitri, ia tidak bisa kembali ke rumah. Komunikasi dengan keluarga masih dilakukan melalui surat-menyurat yang balasannya membutuhkan waktu bertahun-tahun.

Untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, ia bekerja sambil menuntut ilmu. Ia bekerja sebagai petugas pembersih, membantu tugas di masjid, serta menerjemahkan buku. Segala sesuatu dilakukan agar bisa bertahan dan melanjutkan pendidikannya.

Baja Juga  Jadwal Imsakiyah Ternate 22 Februari 2026: Salat, Imsak, dan Buka Puasa

“Rasanya pengalaman membentuk pikiran dan perasaan,” katanya.

Ujian paling berat terjadi pada tahun 2005. Dua tahun setelah ia pergi, ayahnya meninggal dunia. Ia masih mengingat pesan terakhir yang ia terima, “Selamat belajar, Nak.” Esok harinya, kabar duka tersebut tiba. Ia ingin kembali ke rumah, tetapi terhalang oleh visa dan biaya.

Sejak saat itu, Ramadhan, kerinduan, dan rasa kehilangan menjadi bagian dari proses menuju dewasa.

Mempertahankan Silsilah dan Menghafal Kata-Kata Ilahi

Untuk Umar, belajar di Mesir bukan hanya tentang memperoleh gelar pendidikan. Ia memanfaatkan kesempatan tersebut untuk menyelesaikan hafalan Al-Qur’an serta mengikuti jalur sanad qiraat. Menurutnya, Mesir merupakan salah satu pusat ilmu Al-Qur’an yang memiliki jaringan sanad yang kuat. Proses ini kemudian dilanjutkannya di Indonesia bersama Syekh Abdul Hamid Isa Qurqur Al-Mishri.

Menghafal Al-Qur’an, menurutnya, merupakan jalur menuju kebahagiaan rohani. Pengetahuan bukan hanya sekadar informasi, tetapi alat untuk menyucikan jiwa.

Cinta dan Kepulangan

Pada tahun 2011, ia kembali ke Indonesia. Namun, perjalanannya tidak langsung menuju Gorontalo. Ia terlebih dahulu pergi ke Banjarmasin untuk melamar seorang wanita yang kemudian menjadi pasangan hidupnya. Pada tanggal 4 Syawal 2011, keduanya secara resmi menikah.

Baja Juga  Tonton dan Unduh Film Inspector Zende (2025) Sub Indonesia di Bilibili

Sekarang, di tengah kesibukannya sebagai dosen dan pimpinan organisasi, ia berusaha menyisihkan waktu untuk keluarga. Setelah shalat Isya, ia memutuskan untuk berada di rumah, menaruh ponselnya, dan bersantai bersama anak-anaknya.

Menulis sebagai Warisan

Selain berdakwah, Umar juga mengarang. Paling sedikit 18 buku telah ia terbitkan. Menulis, menurutnya, merupakan cara menjaga ide agar tetap segar.

“Menulis adalah bekerja untuk keabadian,” katanya.

Ia berharap ilmu yang ditulisnya dapat menjadi warisan yang bermanfaat setelah ia pergi.

Merawat Jiwa di Tengah Kecemasan

Di tengah perkembangan yang pesat, ia menekankan pentingnya menjaga kebersihan jiwa. Menurutnya, manusia perlu memiliki rasa takut yang menghasilkan harapan takut yang membawa pada perbaikan diri, bukan ketakutan yang melemahkan.

Ia juga menegaskan bahwa generasi muda jangan sampai memandang materi sebagai satu-satunya tolok ukur keberhasilan. Karena, bila dasar hidup hanya berada pada uang, kecemasan akan mudah berkembang.

Untuk Umar, bulan Ramadhan merupakan kesempatan terbaik untuk memperbaiki jiwa, mengurangi gangguan, serta memperkuat arah hidup.

Perjalanan hidupnya menunjukkan bahwa mimbar dakwah tidak selalu dimulai dari panggung yang megah. Terkadang, awalnya berasal dari lantai masjid yang dibersihkan dengan kesabaran melalui kerja diam-diam seorang pendatang yang menjaga impian dan memelihara cahaya dalam hatinya.(-Video.com/ Nila Irda)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *