MediaPresisi.com—Di tengah meningkatnya investasi dan harapan besar terhadap kecerdasan buatan (AI), pendiri Amazon, Jeff Bezos, menyampaikan pendapat yang sejalan dengan CEO OpenAI, Sam Altman, bahwa dunia saat ini sedang berada dalam “gelembung AI”.
Namun, keduanya berpendapat bahwa di balik antusiasme tersebut, manfaat jangka panjang dari teknologi ini akan sangat besar bagi masyarakat dunia.
Dalam forum Italian Tech Weekdi Turin, Bezos menekankan bahwa fenomena saat ini bukan hanya kenaikan nilai yang bersifat spekulatif, tetapi tanda dari perubahan besar dalam industri.
“Ini merupakan semacam gelembung industri, bukan gelembung keuangan,” katanya, menekankan bahwa perbedaan ini penting karena gelembung industri cenderung menghasilkan inovasi yang bertahan lama.
Dilansir dari Fortune,Rabu (8/10/2025), Bezos menganggap perkembangan investasi di bidang AI mirip dengan ledakan bioteknologi dan farmasi pada tahun 1990-an.
Saat itu, banyak perusahaan publik mengalami kebangkrutan, namun temuan penelitian dan inovasi yang muncul justru menghasilkan obat-obatan yang menyelamatkan nyawa.
“Kegelapan industri tidak seburuk yang dibayangkan. Bahkan bisa menjadi sesuatu yang positif, karena ketika debu mereda dan pemenangnya jelas, masyarakat akan mendapatkan manfaatnya,” katanya.
Bezos menganggap pola serupa juga sedang terjadi dalam bidang AI. Dalam kondisi semacam ini, katanya, hampir semua gagasan, baik yang menjanjikan maupun yang bersifat spekulatif, mendapatkan pendanaan.
“Para investor kesulitan membedakan mana ide yang baik dan mana yang buruk. Dan hal ini mungkin sedang terjadi saat ini,” katanya, menambahkan bahwa gelombang investasi yang berlebihan sering kali justru mempercepat proses seleksi alami dalam dunia teknologi.
Pandangan ini memperkuat pernyataan Sam Altman pada bulan Agustus lalu.
Altman, yang memimpin OpenAI, mengatakan bahwa pasar AI sedang berada dalam tahap gelembung, di mana “orang-orang pintar terlalu antusias terhadap satu kebenaran.”
Namun, ia menegaskan bahwa secara keseluruhan, peristiwa ini akan menjadi “keuntungan besar bagi perekonomian global.”
Meskipun memahami bahaya yang ada, Bezos menolak perspektif pesimis yang membandingkan kondisi ini dengan dot-com bubble di akhir tahun 1990-an, ketika perusahaan internet berkembang pesat secara spekulatif sebelum banyak dari mereka bangkrut karena valuasi yang tidak realistis.
Ia menekankan bahwa inti dari perkembangan AI saat ini bukan hanya sekadar fenomena pasar, tetapi perubahan mendasar yang akan mengganggu berbagai sektor industri.
“Tidak berarti apa yang terjadi saat ini tidak nyata. AI benar-benar ada, dan akan mengubah seluruh sektor industri,” tegasnya.
Di sisi lain, sejumlah pakar pasar memberi peringatan mengenai kemungkinan perlambatan setelah masa euforia ini berakhir.
Namun bagi Bezos, nilai strategis AI tidak terletak pada kenaikan harga saham, tetapi pada bagaimana teknologi ini menciptakan model bisnis yang baru dan membuka peluang ekonomi di tingkat global.
Meskipun banyak proyek yang berpotensi gagal, Bezos percaya perubahan ini akan menjadi dasar baru bagi ekonomi digital global.
Baik Bezos maupun Altman melihat fenomena AI bukan sebagai bahaya, tetapi sebagai bagian dari proses perkembangan alami dari perubahan teknologi yang lebih luas.
Saat euforia pasar mulai reda dan proses seleksi alam di dalam industri berlangsung, mereka yakin dunia akan menyaksikan munculnya para inovator asli yang mengubah cara manusia bekerja, berekspresi, dan berkomunikasi di era baru kecerdasan buatan. (*)




