Mediapresisi.com – Baru-baru ini, Universitas Gajah Mada kembali memberikan pernyataan terkait polemik ijazah mantan Presiden Joko Widodo.
Rektor UGM Prof. dr. Ova Emilia, M.Med.Ed., Sp.OG(K)., Ph.D, menegaskan bahwa Presiden Indonesia, Joko Widodo, merupakan alumnus Program Studi S1 di Fakultas Kehutanan UGM angkatan tahun 1980.
Presiden Joko Widodo dinyatakan lulus dari UGM pada tahun 1985 sesuai ketentuan dan bukti kelulusan yang dimiliki oleh UGM.
“Atas data dan informasi yang kami miliki dan terdokumentasi dengan baik, kami meyakini keaslian ijazah sarjana Ir. Joko Widodo dan yang bersangkutan benar-benar lulusan Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada,” ucapnya seperti dikutip dari website resmi UGM Rabu 10 Desember 2025.
Klarifikasi ini, menurut Rektor, disampaikan sebagai bentuk tanggung jawab UGM sebagai institusi penyelenggara pendidikan tinggi kepada para alumninya.
Menjawab pertanyaan terkait ijazah Joko Widodo yang dianggap berbeda dengan ijazah alumni fakultas lain di angkatan yang sama, Rektor mengungkapkan bahwa pada masa itu belum dilakukan komputerisasi sehingga penulisan ijazah masih menggunakan tulisan tangan halus.
“Waktu itu juga belum sampai ada penyeragaman seperti saat ini di mana Dikti memiliki format khusus sehingga ada perbedaan antara satu dan lainnya. Tetapi kami punya dokumen arsip untuk hal itu,” imbuh Rektor.
Ahli digital forensik, Rismon Sianipar membantah pernyataan UGM soal keaslian ijazah Jokowi.
Dalam acara Rakyat Bersuara iNews, Selasa 9 Desember 2025, Rismon menungkap fakta baru soal ijazah mantan presiden ke 7 ini,
Ia menyebut bahwa Kasmudjo, mantan dosen Universitas Gadjah Mada (UGM), tidak pernah kenal dengan Jokowi.
Rismon mengaku jika ia dapatkan fakta baru ini saat turun langsung ke lapangan untuk mencari informasi terkait dengan ijazah Jokowi.
“Pak Kasmudjo sendiri sudah membantah (bukan dosen pembimbing skripsi Jokowi). Bahkan info terakhir (Kamsudjo) nggak kenal sama sekali dengan orang tersebut (Jokowi),” kata Rismon Sianipar.
Rismon mengaku ia mendapatkan informasi dari salah satu orang.
Namun, rekaman dari orang yang mengatakan Kasmudjo tidak kenal dengan Jokowi itu tidak bisa ia rekam.
“Iya (Pak Kasmudjo tidak kenal Pak Jokowi). Saya kan turun ke lapangan, meskipun nggak bisa direkam, nggak mau direkam,” kata Rismon.
“Bukan lewat Pak Kasmudjo, tetapi ada seseorang. Iya (Kasmudjo tidak pernah kenal Jokowi), tetapi bukan statement dari Pak Kasmudjo, satu orang yang kenal dekat,” imbuhnya.
Soal pernyataan UGM, Rismon mengatakan jika itu adalah pernyataan sepihak. “Hal-hal yang teknis tidak pernah terjawab oleh rektor karena statementnya berdiri sendiri,” katanya.
“Coba dia bentuk dewan guru besar, cari semua fakta itu baru saya pun akan hormat,” tuturnya.
Rismon menyebut, 9 poin yang diungkapkan oleh Ova Emilia tidak mewakili institusi UGM.
Dia hanya rektor dan tidak pernah memfondasikan statement-nya berdasarkan temuan fakta dari tim ahli di UGM atau tim dewan guru besar UGM,” kata Rismon.
“Menurut saya nggak ada basis sama sekali statement dari Prof Ova Emilia,” pungkasnya.
Pernyataan Joko Widodo
Dalam acara Program Khusus Kompas TV, Jokowi secara gamblang menjawab pertanyaan seputar tudingan ijazah palsu.
Jokowi mengaku selama ini diam dan tak banyak menanggapi isu yang dilontarkan sejak 4 tahun lalu.
“Iya ini kan sebuah isu yang sudah 4 tahun dibicarakan dan sebetulnya sudah 4 tahun saya selama ini diam dan tak banyak menanggapi. Karena apa wong ijazahnya saya pegang,” kata Jokowi.
Soal kenapa ijazah tersebut tak ditunjukkan ke publik, Jokowi punya alasan tersendiri.
“Kenapa tak tunjukkan ke publik karena pertama ada aduan ke Bareskrim,” jelas Jokowi.
“Kedua saya dituduh ijazah palsu artinya yang menuduh yang harus membuktikan. Dan itu yang saya tunggu coba dibuktikannya seperti apa.
Dan itu akan lebih baik kalau pembuktiannya di Pengadilan, sehingga betul-betul akan kelihatan proses hukumnya, akan kelihatan adilnya karena yang memutuskan dipengadilan.
Karena yang membuat ijazah aja sudah menyampaikan asli masih tidak dipercaya, mau bagaimana,” sambung Jokowi.
Jokowi menyebut jika isu ini ditunggangi oleh isu politik.
“Saya lihat ada agenda besar politik, ada operasi politik sehingga bisa bertahun-tahun gak rampung-rampung karena keinginan mereka untuk menurunkan reputasi yang saya miliki, meskipun saya tak merasa ada reputasi apa-apa,” ungkap Jokowi.
“Kenapa harus mengolok-olok, menjelek-jelekkan, meredahkan, menghina, semua dilakukan untuk apa kalau hanya untuk main-main?, pasti ada kepentingan politiknya,” sambungnya.
Bahkan Jokowi menyinggung ada orang besar di balik semua ini.
“Ada agenda besar dan ada orang besar? saya pastikan ya,” sebut Jokowi.
Saat ditanya siapa orang besar itu? Jokowi menjawab “Ya saya kira gampang ditebak tak perlu saya sampaikan,” kata Joko Widodo.
Jokowi secara gamblang menolak adanya mediasi.
“Lebih baik dibawa ke ranah hukum untuk pembelajaran semua orang jangan mengolok-olok, menjelek-jelekan, meredahkan, menghina,” kata Jokowi saat ditanya soal adanya kemungkinan mediasi dengan Roy Suryo.
“Lebih baik dilakukan penegakan hukum, diputuskan di Pengadilan lebih baik,” sambungnya.
Lantas apakah Jokowi akan menunjukkan ijazah di Pengadilan? Ia menjawab iya.
“Itu forum yang lebih baik untuk saya tunjukkan dari ijazah SD, SMP, SMA maupun ijazah UGM akan saya tunjukkan,” jelas Jokowi.***




