BENGKULU.COM – Nama Purbaya Yudhi Sadewa tiba-tiba muncul di panggung politik nasional setelah dilantik menjadi Menteri Keuangan menggantikan Sri Mulyani.
Populeritas seorang ekonom yang sebelumnya menjabat sebagai Ketua Dewan Komisioner Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) meningkat drastis, sehingga ia disebut-sebut memiliki kemungkinan menjadi calon wakil presiden (cawapres) yang akan mendampingi Prabowo Subianto dalam periode pemerintahannya yang kedua.
Tokoh Menteri Keuangan Purbaya akhir-akhir ini memang mendapat perhatian masyarakat Indonesia melalui berbagai inisiatifnya.
Sehari setelah dilantik sebagai Menteri Keuangan, Purbaya segera mengeluarkan kebijakan dengan menyalurkan dana sebesar Rp200 triliun ke Bank Himbara.
Beberapa hari setelahnya, ia kembali mendapat perhatian dengan menegaskan bahwa tidak akan menaikkan tarif pajak atau mengenakan pajak tambahan.
Alih-alih menaikkan pajak atau mengenakan pajak baru, dalam upaya mencapai target pajak, Menteri Keuangan Purbaya justru memilih fokus pada penagihan pajak yang tertunggak sebesar Rp60 triliun dari 200 wajib pajak besar.
Usaha tersebut tampaknya sulit dilakukan mengingat tren penurunan penerimaan, kesenjangan kepatuhan wajib pajak, serta kemungkinan berkurangnya pendapatan karena kebijakan insentif masih mengancam target APBN 2025.
Sampai saat ini, Menteri Keuangan Purbaya menyatakan akan menganggarkan program Makanan Bergizi Gratis (MBG) jika dana tersebut tidak digunakan secara optimal.
Beberapa kebijakan tersebut mendapat tanggapan positif dari masyarakat dan pasar.
Bahkan belakangan muncul istilah “Purbaya Effect”, yang menggambarkan respons pasar dan perubahan harapan kebijakan ekonomi setelah Purbaya Yudhi Sadewa menjabat sebagai Menteri Keuangan.
Melalui berbagai inisiatif tersebut, beberapa pihak tampaknya merasa terganggu oleh langkah-langkah yang diambil oleh Menteri Keuangan Purbaya.
Ketua Dewan Ekonomi Nasional (DEN), Luhut Binsar Pandjaitan, bahkan menyentuh langsung kebijakan Menteri Keuangan Purbaya.
Namun, banyak masyarakat yang menghargai tindakan dan inisiatif Menteri Keuangan Purbaya.
Baru-baru ini, Menteri Keuangan Purbaya menjadi perbincangan hangat dan dianggap sebagai calon Wakil Presiden yang mungkin menggantikan Gibran Rakabuming dalam periode kedua Prabowo nanti.
Reaksi Purbaya
Namun, Purbaya menjawab isu tersebut dengan tenang dan menyatakan bahwa dirinya hanya ingin fokus pada tugasnya di bidang ekonomi, sekaligus membantah spekulasi politik yang menghubungkannya dengan posisi Boediono saat mendampingi Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) pada tahun 2009.
Purbaya menegaskan bahwa ia sama sekali tidak mempertimbangkan kesempatan politik dan lebih memilih mengarahkan perhatiannya pada tugas barunya di sektor ekonomi.
“Saya tidak terlalu memperhatikan soal pencalonan atau urusan politik. Yang utama saat ini adalah bagaimana kita dapat mempertahankan laju pemulihan ekonomi,” kata Purbaya saat diwawancarai di kompleks Kementerian Keuangan, Jakarta, Jumat (10/10/2025).
Menurutnya, peningkatan ketenaran yang terjadi belakangan ini bukan disebabkan oleh faktor politik, tetapi karena keadaan ekonomi Indonesia yang menunjukkan arah yang menguntungkan.
Ia menilai, peningkatan indikator ekonomi seperti inflasi yang terkendali, pertumbuhan pengeluaran rumah tangga, serta penguatan kurs rupiah turut menarik perhatian masyarakat terhadap kinerja pemerintah.
“Orang mungkin melihat kondisi ekonomi sedang membaik, sehingga perhatian terhadap Kementerian Keuangan meningkat. Hal ini wajar,” ujar Purbaya.
Ia menegaskan, tugas utama yang diembannya saat ini adalah memastikan stabilitas fiskal tetap terjaga serta memperkuat keyakinan pasar terhadap kebijakan ekonomi nasional.
Sikap tenang Purbaya dianggap mencerminkan sifat seorang teknokrat yang lebih mengutamakan hasil kerja daripada upaya membangun citra politik.
Beberapa pakar ekonomi juga menganggap, perannya selama menjabat di LPS serta kontribusinya dalam menjaga stabilitas sistem keuangan nasional menjadi bekal yang penting bagi pemerintah dalam melanjutkan program reformasi ekonomi.
Namun demikian, isu mengenai kesempatan Purbaya dalam dunia politik nyata tetap terdengar.
Beberapa pihak menganggap bahwa sosoknya yang dianggap bersih dan berprestasi mampu menjadi wajah dari kalangan profesional di lingkungan politik nasional.
Namun bagi Purbaya sendiri, perhatian tersebut tampaknya tidak terlalu berarti.
“Saya fokus pada pekerjaan saya. Jika ekonomi kuat, itu merupakan kontribusi terbaik yang bisa saya berikan kepada negara,” katanya menutup pernyataannya.
Diketahui bahwa Boediono menjadi wakil presiden pertama yang memiliki latar belakang ekonomi dan tidak terkait partai politik setelah Mohammad Hatta (wakil presiden pertama Republik Indonesia). Ia diumumkan sebagai calon wakil presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada 15 Mei 2009 di Sasana Budaya Ganesha, Kota Bandung.
Indikasi Purbaya akan kuat seperti Boediono ketika jejak kerjanya setelah bergabung dengan pemerintah mendapatkan respons positif dari masyarakat.
Saat Boediono ditunjuk menggantikan Aburizal Bakrie sebagai Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, pasar merespons dengan sangat positif sejak hari sebelumnya, terlihat dari kenaikan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) serta penguatan nilai tukar rupiah.
Rupiah mengalami penguatan hingga berada di bawah Rp10.000 per dolar Amerika Serikat.
IHSG di Bursa Efek Jakarta (BEJ) juga ditutup mengalami kenaikan hingga 23,046 poin atau meningkat sekitar 2 persen, berada pada angka 1.119,417, dan berhasil melewati ambang batas 1.100.
Hal ini terjadi karena Boediono dianggap mampu mengelola kebijakan makroekonomi yang pada masa itu belum sepenuhnya didukung pemulihan sektor riil dan moneter.
Kondisi yang sama juga terjadi ketika Purbaya ditunjuk sebagai Menteri Keuangan oleh Prabowo.
Dipuji Mahfud MD
Di unggahan terkini, Mahfud MD mengunggah tulisannya bersama tautan halaman Wikipedia Purbaya Yudhi Sadewa.
Di dalam unggahannya, Mahfud menyoroti kinerja Purbaya yang dianggap tidak memberatkan masyarakat dengan pengenaan pajak baru, sekaligus melakukan tindakan tegas terhadap praktik korupsi, serta meningkatkan efektivitas dan efisiensi di lingkungan kementerian/lembaga dan BUMN.
“Kagum kepada Menteri Keuangan Bapak Purbaya. Dia tidak memberatkan rakyat dengan pajak-pajak baru. Dia membersihkan korupsi. Dia melakukan efektivitas dan efisiensi di K/L dan BUMN. Dia mulai menindak korupsi dan ilegalitas dalam perpajakan serta kepabeanan. Terus maju, Pak. Bravo.????????????????,” tulis Mahfud.
Tulisan ini mendapatkan perhatian masyarakat dengan lebih dari 76 ribu tayangan dalam waktu singkat. Tulisan tersebut juga diunggah ulang hampir 1.000 kali, diberi suka oleh lebih dari 4.000 akun, dan memicu lebih dari 327 komentar.
Beberapa pengguna internet menyampaikan dukungan mereka terhadap tindakan-tindakan Menteri Keuangan Purbaya.
Akun Ibnu Fallah menulis, “Gelombang kecil mulai terasa mengganggu Menteri Keuangan: ‘Jangan tarik dana MBG, sudah bagus saja terserap,’ ujar sumber dekat. ‘Jangan merasa paling pandai,’ kata salah satu anggota partai. Tidak menyadari bahwa gangguan-gangguan terhadap menteri keuangan sama saja memicu kemarahan rakyat.”
Sementara akun Elle menganggap kinerja Purbaya sebagai angin segar di tengah berbagai kebijakan pejabat yang dinilai menimbulkan kontroversi.
“Anomali ya pak, dari banyak pejabat dan kebijakannya yang membuat hati panas, yang memberikan angin segar terasa sangat seperti oase di gurun. Meskipun kita belum melihat hasilnya, semoga nantinya terjadi perubahan yang baik,” tulisnya.
Komentar lain juga menempatkan Purbaya dalam daftar tokoh nasional yang diharapkan mampu membawa perubahan positif, bersama beberapa nama tokoh publik lainnya.
Pujian Mahfud ini juga menyentuh perbedaan kebijakan pajak saat ini dibandingkan masa sebelumnya, menunjukkan dukungan terhadap langkah-langkah Menteri Keuangan Purbaya yang lebih berpihak pada rakyat dan tegas dalam menangani korupsi.
Artikel ini sudah tayang di news




