Mediapresisi.com -.CO.ID, ISTANBUL — Pemerintah Amerika Serikat menyadari bahwa Israel berencana untuk menghadapi Palestina selama ‘puluhan tahun’ meskipun pihak Zionis secara resmi terlibat dalam pembicaraan gencatan senjata di Jalur Gaza. Hal ini disampaikan oleh mantan Juru Bicara Departemen Luar Negeri AS, Matthew Miller.
Miller, sebagaimana dilaporkan Anadolu, Sabtu, menyampaikan pernyataan tersebut kepadaChannel 13 Israelbahwa mantan Menteri Luar Negeri Antony Blinken pernah memberi peringatan kepada kabinet perang Israel di awal konflik bahwa negara tersebut berisiko menghadapi pemberontakan yang tak berkesudahan. Pemberontakan ini akan terus berlangsung jika Israel tidak memiliki rencana jelas mengenai masa depan Gaza.
“Benar. Kita akan terus berperang selama beberapa dekade ke depan. Itulah kenyataannya, dan akan tetap demikian,” kata Miller meniru pernyataan Kepala Otoritas Israel Benjamin Netanyahu merespons pernyataan Blinken.
Channel 13juga melaporkan bahwa Netanyahu, bersama Kepala Keamanan Nasional Itamar Ben Gvir dan Kepala Keuangan Bezalel Smotrich, telah menghalangi kesepakatan pertukaran tahanan dengan Hamas sebanyak lima kali.
Miller mengonfirmasi laporan tersebut dan menyatakan bahwa Washington menyadari Israel melemahkan upaya gencatan senjata, tetapi memutuskan untuk tidak bersuara.
“Kami tidak memiliki wewenang yang luas. Terkadang bahkan tidak ada wewenang sama sekali,” kata Miller, sambil mencatat bahwa situasi sering berubah secara tiba-tiba, bahkan ketika utusan Amerika Serikat sedang bersiap naik pesawat.
Saat Amerika Serikat memaksa kelompok perlawanan Palestina untuk menyetujui gencatan senjata selama enam minggu guna menghindari serangan Israel ke kota Rafah pada April 2024, Netanyahu secara terbuka menyatakan bahwa ia berjanji akan tetap menyerang Rafah, baik dengan atau tanpa adanya gencatan senjata.
Selanjutnya, Miller menyampaikan bahwa Israel pernah mengajukan tuntutan tambahan terkait Koridor Philadelphi pada Juli 2024. Padahal, saat itu Hamas telah menerima usulan mediasi dari Amerika Serikat, namun Israel menunda selama hampir sebulan karena Netanyahu bersikeras mempertahankan kehadiran pasukannya di sepanjang perbatasan Gaza-Mesir.
Pejabat Amerika menggambarkannya sebagai titik balik yang paling merugikan, karena menghentikan laju menuju kesepakatan.
“Ini sesuai dengan pola yang telah kami amati selama beberapa bulan. Pihak Israel selalu berusaha mencari cara untuk menambahkan persyaratan baru atau memperumit aturan yang sudah ada,” kata Miller.
Itu mungkin yang paling mengganggu, karena saat itu kami sudah sangat dekat dengan kesepakatan yang mungkin bisa memulangkan tawanan dan mungkin mengakhiri perang selamanya.
Channel 13melaporkan bahwa pada akhir 2024, Netanyahu mengabaikan usulan inovatif dari lembaga keamanan Israel Shin Bet, dan memutuskan untuk menunggu kemungkinan kembalinya Donald Trump ke Gedung Putih.




