Gaza Kehilangan Makanan, Anak-anak Jadi Korban

Serangan Israel di Gaza Terus Berdampak Mengerikan

Serangan militer Israel terhadap wilayah Jalur Gaza kembali menimbulkan korban jiwa dalam jumlah besar. Menurut laporan sumber medis, sedikitnya 63 warga Palestina tewas dalam 24 jam terakhir. Korban sipil semakin meningkat seiring dengan intensifikasi operasi darat yang dilakukan oleh pasukan Israel di kota Gaza. Tank-tank milik Israel dilaporkan sudah memasuki lingkungan Sabra, menandai perluasan invasi ke kawasan padat penduduk. Operasi ini disebut sebagai bagian dari upaya militer untuk menguasai kota Gaza dan memaksa sekitar satu juta warga setempat untuk mengungsi.

Selain serangan darat, Israel juga melancarkan serangan artileri ke wilayah pengungsian di Khan Younis. Serangan tersebut menewaskan puluhan orang, termasuk anak-anak. Di tengah situasi ini, kondisi kelaparan semakin memburuk dan mulai merenggut nyawa warga Gaza. Hal ini memperparah penderitaan penduduk yang telah bertahan hampir dua tahun dalam kondisi perang yang mencekam.

Israel Memperluas Invasi ke Wilayah Gaza

Salah satu lokasi yang menjadi target serangan adalah lingkungan Sabra di Gaza City. Rekaman yang ditayangkan oleh Al Jazeera Arabic menunjukkan tank Israel bergerak masuk ke kawasan tersebut. Lokasi ini berada dekat Zeitoun, wilayah yang sering menjadi target serangan. Seorang sumber dari Rumah Sakit Al-Ahli menyebutkan bahwa seorang anak termasuk dalam korban terbaru pengeboman di Sabra.

Baja Juga  Nama Ahok dan Nicke Widyawati Muncul dalam Kasus LNG Pertamina, KPK: Harusnya Disampaikan ke Penyidik

Di bagian selatan, artileri Israel menyerang tenda pengungsi di kawasan Asdaa, Khan Younis, yang menewaskan 16 orang, termasuk enam anak. Selain itu, sedikitnya 22 warga Palestina tewas saat mencoba mendapatkan bantuan kemanusiaan. Dalam laporan tersebut, seorang warga ditembak mati Israel dekat titik distribusi di Poros Morag di tenggara Khan Younis, sementara seorang lainnya ditembak di dekat Koridor Netzarim yang dikuasai Israel.

Beberapa anak Palestina juga dilaporkan hilang saat mencari bantuan di Gaza Utara. Kondisi ini menunjukkan betapa mengerikannya situasi yang dialami oleh warga setempat.

Krisis Kelaparan Semakin Mengancam

Selain gempuran militer, krisis kelaparan juga menambah penderitaan warga Gaza. Kementerian Kesehatan Palestina mencatat bahwa dalam sehari terakhir, delapan orang meninggal akibat malnutrisi, termasuk dua anak. Sejak perang dimulai hampir dua tahun lalu, sudah ada 281 warga Gaza yang tewas karena kelaparan, di antaranya 114 anak.

Baja Juga  Israel Mulai Bombardir Pengungsian di Selatan Gaza

Munir Al-Bursh, Direktur Jenderal Kementerian Kesehatan Gaza, menjelaskan bahwa situasi ini merupakan tragedi yang merampas masa depan generasi muda. “Kelaparan sedang merusak tubuh warga sipil secara diam-diam, merampas hak hidup anak-anak, dan mengubah tenda serta rumah sakit menjadi pemandangan tragedi sehari-hari,” tulisnya di media sosial.

Sehari sebelumnya, PBB resmi menyatakan adanya kelaparan massal di Gaza. Sekretaris Jenderal PBB, Antonio Guterres, menegaskan bahwa kelaparan ini merupakan bencana buatan manusia. Menurut sistem IPC, sekitar 514 ribu orang di Gaza sudah masuk kategori kelaparan, dan jumlah ini diprediksi meningkat menjadi 641 ribu pada akhir September. Reporter Al Jazeera, Hind Khoudary, juga menekankan bahwa deklarasi PBB datang terlambat.

Baja Juga  Tanjabbar Timur, Kabupaten Baru yang Dinantikan Warga Jambi

“Laporan PBB tentang kelaparan sangat terlambat menurut warga Palestina. Mereka sudah menyaksikan berbulan-bulan kelaparan yang terus berlanjut,” jelasnya.

Kelaparan sebagai Rekayasa Genosida

Kementerian Kesehatan Gaza menyambut baik pengumuman resmi PBB soal kelaparan, namun menilai pernyataan itu sudah terlalu lama ditunda. “Kami menekankan rekayasa kelaparan adalah salah satu bab dari genosida, yang juga mencakup penghancuran sistematis sektor kesehatan dan sektor lain, pembunuhan massal, serta kebijakan pemusnahan generasi,” begitu pernyataan resmi Kementerian Kesehatan Gaza.

Sejak 27 Mei, Israel memberlakukan mekanisme distribusi bantuan sepihak bernama GHF (Global Humanitarian Framework) yang didukung Amerika Serikat. Namun, PBB dan lembaga bantuan menolak skema tersebut karena dianggap tidak independen dan tidak memenuhi prinsip kemanusiaan.

Menurut data Kementerian Kesehatan Gaza, lebih dari 2.076 warga Palestina tewas dan 15.300 lainnya terluka saat berusaha mencari bantuan sejak skema itu dijalankan. Hingga kini, total korban jiwa akibat perang Israel di Gaza sejak Oktober 2023 sudah melampaui 62.600 orang.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *