Munir Said Thalib, tokoh perjuangan hak asasi manusia di Indonesia, tewas akibat tindakan jahat pada 7 September 2004 saat sedang dalam penerbangan dari Jakarta menuju Amsterdam. Sampai saat ini, identitas pelakunya masih menjadi teka-teki.
Penulis: Tasnim Yusuf, berdasarkan surat-surat yang ditulis oleh Sri Rusminingtyas di Belanda. Sri adalah orang yang seharusnya menjemput Munir ketika tiba di Belanda.
—
mediapresisi.com hadir di Channel WhatsApp, ikuti dan dapatkan berita terkini kami di sini
—
mediapresisi.comOnline.com –Pada 7 September 2004, pejuang HAM, Munir Thalib, dibunuh oleh tangan-tangan jahat di dalam pesawat saat sedang melakukan perjalanan dari Jakarta menuju Amsterdam. Meskipun sudah ada yang ditetapkan sebagai tersangka, siapa dalang sebenarnya di balik pembunuhan pria asal Malang, Jawa Timur, tersebut masih menjadi misteri.
Majalah mediapresisi.comPernah menulis artikel mengenai Cak Munir yang ditulis oleh Tasnim Yusuf berdasarkan surat-surat dari Sri Rusminingtyas yang berada di Belanda. Mbak Sri adalah orang yang menjemput Cak Munir di Bandara Schiphol, Amsterdam. Artikel ini diterbitkan pada September 2010.
JEMPUTAN TERAKHIR UNTUK MUNIR
Saat pesawat Garuda mendarat di Bandara Schiphol, saya masih belum juga menemukan Munir di antara penumpang yang tiba. Yang harus saya hadapi kemudian, sahabat kami itu sudah tergeletak tak bernyawa.
Sampai hari ini, setelah enam tahun kepergian Munir, saya masih tetap percaya bahwa permintaan teman saya Poengky Indarti (Direktur Imparsial – LSM di bidang HAM -Red.) untuk menjemput Munir di Schiphol memang rencana yang telah disusun dari atas. Saat itu saya berpikir, mengapa seorang Munir yang sangat independen,blebar-bleberpergi ke luar negeri sendirian, perlu dijemput oleh seorang pendatang yang baru tinggal tiga bulan di Belanda. Namun demikian adalah situasi yang sebaiknya terjadi, dan saya diminta sebagai salah satu pelaku.
Jumat, 3 September 2004, Poengky menelepon untuk memastikan bahwa empat hari lagi Munir akan tiba di Belanda. Kata Poengky, “Saya serahkan Munir kepada Mbak!”Tenan lo(benar kamu), saya serahkan dia. Jika terjadi sesuatu, tolong bantu ya.
Saya spontan menjawab siap. Tapi setelah itu saya berpikir, apakah seorang Munir yang sangat mandiri perlu diserahkan kepada saya? Mengenai penitipan Munir ini, saya baru mengetahuinya belakangan, ternyata Munir justru tertawa lebar di depan Poengky ketika dia tahu bahwa saya akan mengambilnya. Dengan gaya yang santai, ia berkata kepada Poengky, “Mbak Sri sudah jadi orang London ya? Kok tiba-tiba ketemu aku di Schiphol.(Mbak Sri sudah menjadi orang Belanda ya? KokpakeAmbil saya di semua tempat di Schiphol.)
“Banyak yang harus dijemput oleh Bu Sri. Aku sudah menitipkan kalian kepada Bu Sri. Jangan terlalu banyak bicara.(Kamu harus dijemput Mbak Sri. Aku sudah menitipkan kamu pada Mbak Sri, jangan banyak bicara lagi).
Munir merasa hal itu lucu. Ia kemudian bercerita bahwa dulu pernah hanya diberi peta dan tiket oleh panitia, dan dengan peta tersebut ia bisa pergi ke mana-mana sendirian. Tidak perlu diantar jemput saat harus ke Eropa. Kini justru harus dijemput terus-menerus. Namun Poengky tetap bersikeras agar Munir dijemput di Schiphol.
Hingga Senin, tanggal 6 September, saya belum menerima informasi apa pun dari Munir. Pada pagi hari, saya langsung menghubungi nomor ponselnya, dan suara Munir yang khas terdengar dari seberang. Ceria dengan aksen Jawa Timurnya yang kental. Saya bertanya tentang kepastian jadwal penerbangannya ke Belanda. Setelah berbicara melalui telepon, Munir mengirim pesan singkat bahwa dia akan naik Garuda dan tiba di Schiphol pada Selasa, tanggal 7 September 2004. Dia juga menyertakan jam kedatangan yang lengkap. Sayangnya, ponsel itu hilang, sehingga pesan terakhir Munir tersebut ikut lenyap.
7 September Kelabu
Pagi hari kami sudah bangun. Leo, suami saya berjanji akan mengantarkan saya ke Rotterdam Centraal Station agar bisa naik kereta menuju Bandara Schiphol. Sebelum berangkat, saya memanggangbaguettemakanan tuna sebagai bekal perjalanan. Masih terlalu dini untuk mencari sarapan dan mungkin belum ada toko yang menjual makanan di Schiphol. Selain itu, harganya pasti mahal. Saya membuat empat roti tuna, dua untuk saya dan sisanya akan saya berikan kepada Munir.
Masih sebelum pukul 06.00, kami telah berangkat menuju Rotterdam Centraal Station. Leo mengantarkan saya di dekat stasiun tersebut. Pada saat itu, saya sempat berpikir bahwa lebih baik membeli tiket pergi-pulang karena harganya lebih murah. Namun, akhirnya saya membatalkan rencana tersebut dan hanya membeli tiket satu arah saja. Saya berpikir, mungkin saja saya harus mengantar Munir ke Utrecht atau ke Almere, tempat Munir sedang menempuh gelar master. Ternyata, saya benar-benar tidak pulang melalui stasiun yang sama.
Angin bulan September menimbulkan rasa kedinginan hingga ke tulang. Meskipun sudah melebihi pukul 06.00, masih gelap karena di Belanda telah memasuki musim gugur. Nanti ketika saya bertemu Munir, saya akan mengatakan ini kepadanya, “Kalau bukan kamu, saya tidak mau mengambilnya. Sangat dingin sekali.” Karena sangat dinginnya, teh hangat yang saya bawa hanya mampu menghangatkan tubuh sejenak.
Sampai di Schiphol masih terlalu dini. Pesawat Garuda yang saya tunggu belum juga tiba. Namun tidak lama, papan pengumuman elektronik bandara memberi tahu bahwa Garuda telah mendarat, saya sentuh roti tuna dari bagasi Munir, hmm… selamat datang di Belanda.
Saya sedang menunggu Munir di pintu kedatangan. Saya membayangkan dia keluar sambil mendorong kereta bagasi dengan senyum biasanya. Hampir satu setengah jam menunggu, saya mulai meragukan dalam hati, mengapa penumpang Garuda belum juga muncul. Awalnya saya berpikir, mungkin masih antre di imigrasi, lalu mengambil bagasi dan mengurus hal-hal lain di kedatangan. Tapi anehnya, tidak ada satupun penumpang Garuda yang keluar. Apakah antrean di imigrasi terlalu panjang?
Tiba-tiba muncul pengumuman dalam bahasa Belanda yang menyebutkan kata “Munir”. Saat itu kemampuan berbahasa Belanda saya masih terbatas, sehingga saya tidak mengerti apa yang sebenarnya diumumkan. Saya hanya menggerutu, mengapa Munir belum keluar justru diminta ke Informasi? Ternyata isi pengumumannya adalah: “Bagi yang akan menjemput Munir, harap menghubungi meja informasi.”
Setelah menunggu cukup lama, akhirnya keluar beberapa penumpang Garuda. Saya yakin mereka adalah orang Indonesia. Namun kemudian terjadi jeda lagi dengan jarak yang sangat panjang, baru kemudian penumpang lainnya keluar. Selama masa tunggu tersebut, tiba-tiba Poengky menelepon dan bertanya di mana saya berada. Suara Poengky terdengar bingung dan cemas. Dia ingin memastikan apakah saya sudah bertemu Munir di Schiphol, karena di Jakarta ada kabar bahwa Munir meninggal dalam penerbangan dari Singapura ke Belanda. “Mungkin hanya isu, mengingat tekanan yang dialami Munir sebelum dia berangkat, tolong cari informasi ya, Mbak,” katanya.
Ditanyai polisi
Saya tetap menunggu Munir di depan pintu gerbang tersebut. Semakin banyak wajah-wajah orang Indonesia yang keluar dari sana. Namun, saya tidak melihat Munir. Ada pengumuman dalam bahasa Inggris yang menyebutkan nama Munir, tetapi kali ini saya juga melewatkan informasi itu, karena masih berharap Munir keluar dari gerbang bersama keretanya. Saya tidak percaya kepada gosip, saya masih yakin bahwa Munir belum meninggal. Akhirnya, sebuah rombongan kru pesawat Garuda keluar, saya tahan mereka dan bertanya tentang kabar kematian Munir. Pramugari yang saya tanyai menyarankan saya untuk menghubungi Garuda.
Saya mulai merasa cemas, namun masih berusaha menahan air mata. Saya berlari menuju meja informasi. Saya menyampaikan bahwa saya adalah penjemput Munir dan mencari kejelasan apakah Munir benar-benar meninggal di pesawat. Ketika saya bertanya tentang lokasi kantor Garuda, petugas perempuan yang melayani justru meminta saya menghubungi tiga orang pria yang berdiri tidak jauh dari saya. Salah satu dari mereka mengenakan jas hitam dan dua lainnya berpakaian seragam polisi biru. Saya kemudian mengetahui bahwa yang mengenakan jas hitam adalah Wim van Broekhoven dari Luchthaven Pastoraat. Dari Wim, saya mendapatkan kepastian bahwa Munir memang telah meninggal.
Saya kehilangan kendali, saya tidak mampu menahan air mata. Dia memeluk dan memberi ketenangan kepada saya. Mereka kemudian mengajak saya ke kantornya. Di ruangan yang berada di lantai dua, saya diberi minum. Dengan sekuat tenaga saya berusaha menenangkan diri. Rasa sesak terasa di dada. Sangat sulit bagi saya untuk percaya dan menerima penjelasan dari petugas Luchthaven Pastoraat bahwa Munir meninggal di pesawat. Dalam kekacauan dan kesedihan, saya tetap berdoa, orang yang meninggal itu bukanlah Munir yang sedang saya jemput. Pasti bukan. Dia tidak sakit, dia dalam kondisi sehat ketika berbicara dengan saya kemarin pagi.
Setelah saya tenang, mereka melakukan wawancara terhadap saya. Polisi meminta saya menunjukkan kartu identitas dan saya menunjukkan paspor karena surat tempat tinggal belum dikeluarkan oleh pejabat setempat. Mereka
Menanyakan siapa Munir, di mana saya mengenal Munir, apakah Munir mengalami masalah kesehatan, apakah Munir memiliki musuh dan informasi lainnya. Tampaknya pertanyaan-pertanyaan ini adalah hal-hal dasar yang perlu diajukan dalam kasus-kasus kematian di pesawat.
Saya menceritakan tentang Munir, seorang aktivis HAM, bagaimana saya mengenalnya, dan termasuk salah satu tamu yang hadir dalam pesta pernikahan kami tiga bulan lalu. Saya juga menyampaikan bagaimana Munir sering kali mendapatkan ancaman pembunuhan (karena Munir pernah menceritakannya kepada saya). Tidak lupa saya sampaikan bahwa Munir juga pernah menerima ancaman bom yang ditempatkan di halaman rumah orangtuanya di Malang.
Dua anggota polisi tersebut berusaha memastikan bahwa kematian Munir terkait dengan pekerjaannya. “Kemungkinan itu ada, mengingat perjalanan karier beliau,” jawab saya.
Saya lupa berapa lama proses wawancara tersebut berlangsung. Setelah wawancara dianggap selesai, saya diberi izin untuk menghubungi siapa pun yang ingin saya hubungi menggunakan telepon mereka.
Saya menghubungi Poengky dan memberitahukan apa yang saya ketahui. Saya melihat seorang polisi berpakaian biru juga sedang menelepon. Tidak jelas siapa yang dia hubungi, tetapi yang saya dengar adalah dia beberapa kali menyebut nama Munir.
Saat berhenti menghubungi teman-teman di Jakarta, suami saya menelepon dan bertanya apakah saya sudah sampai di Utrecht. Saya hanya mampu menjawab, “Saya masih di Schiphol. Munir telah meninggal dunia ….” Air mata saya kembali tumpah. Leo sangat terkejut dan langsung pergi ke Schiphol.
Saya segera dibawa ke kamar jenazah di mana jenazah Munir disemayamkan setelah Leo tiba. Di tempat tersebut, sudah menunggu dua orang detektif dari The Royal Netherlands Marechaussee. Ternyata, polisi berpakaian biru yang sebelumnya kami temui telah menyerahkan kasus ini kepada Marechaussee karena dianggap sebagai kasus yang sangat penting. Kematian Munir dinilai cukup mencurigakan. The Royal Netherlands Marechaussee merupakan polisi militer dengan tiga tugas khusus, yaitu menjaga keselamatan ratu, mengawasi perbatasan, serta menangani kasus-kasus penting yang berkaitan dengan negara lain.
Leo mengangguk
Saya masih sangat mengingat kejadian pada saat itu. Saya memasuki ruangan. Jenazah berada di sebelah kiri saya. Saya tidak berani melihat ke arah jenazah tersebut karena pada saat itu hati saya masih menolak untuk percaya bahwa yang terbaring di sana adalah jenazah Munir. Saya menatap wajah Leo dan masih berharap ia akan menggeleng. Namun, ternyata Leo mengangguk. Saya langsung memandang ke kiri, dan benarlah bahwa yang terbaring di tempat tidur itu adalah Munir yang sudah tidak bernyawa.
Tangis saya kembali meledak. Kedua detektif menginterogasi kami berdua. Kami menceritakan kembali segala sesuatu yang kami ketahui mengenai Munir. Detektif memutuskan untuk melakukan autopsi guna pemeriksaan lebih lanjut. Mereka akan memverifikasi apakah kematian Munir wajar atau tidak.
Leo memberi peringatan agar tidak ada orang yang dapat mengakses barang dan dokumen Munir. Detektif berjanji hanya orang-orang tertentu saja yang diperbolehkan mengaksesnya sebelum keluarga Munir tiba. Jadi, pada saat itu, yang bisa mengakses kasus ini selain pihak berwenang adalah kami berdua dan ICCO (lembaga pemberi beasiswa, lihat boks).
Pada hari yang sama, kami telah menerima kepastian bahwa Suciwati, Poengky, Usman Hamid, Ucok, serta salah satu saudara Munir akan tiba di Schiphol pada tanggal 9 September 2004 untuk mengambil jenazah. Marechaussee dan Tuan Wim van Broekhoven menyusun rencana agar kami semua dapat bertemu.
Saya merasakan betapa hebatnya rencana Tuhan. Semua hal telah ditata dengan sangat rinci dan rumit. Mungkin pihak yang ingin menyakiti Munir tidak pernah membayangkan bahwa Munir akan dijemput di Schiphol Airport. Mungkin dalam rencana pembunuh, setelah tiba di Schiphol, jenazah akan segera diserahkan ke KBRI oleh pihak Schiphol dan langsung dikirim kembali ke Indonesia tanpa adanya otopsi sama sekali. Namun ternyata Tuhan memiliki rencana yang berbeda.
Enam tahun berlalu, namun kesedihan pada 7 September masih sulit untuk saya lupakan. Terlebih penyelesaian kasus Munir masih dinilai belum mencapai keadilan yang diharapkan. Kapan hukum akan benar-benar mengungkap kebenaran? Meskipun demikian, keluarga, sahabat, dan para korban kekerasan tetap terus berjuang, berdoa, serta berharap bahwa keadilan akan segera tiba. Semangat Munir tidak akan pernah padam. Selamat jalan Munir.
Kamu telah memberikan lebih dari cukup untuk bangsa dan negara ini. Ucapan terima kasih kami tidak akan pernah cukup.
Masih Misteri
Munir Said Thalib atau dikenal dengan Munir, berangkat dari Jakarta menuju Amsterdam melalui Singapura menggunakan pesawat Garuda dengan nomor penerbangan GA-974 yang lepas landas pada pukul 21.55 WIB. Perjalanan Munir ke Belanda bertujuan untuk melanjutkan studi S2 di Fakultas Hukum Universitas Utrecht, didanai oleh beasiswa yang ia peroleh dari Interchurch Organization for Development Cooperation (ICCO) atau Organisasi Antar-gereja untuk Kerja Sama Pembangunan.
Berdasarkan fakta persidangan terkait kasus pembunuhan Munir, diketahui bahwa saat pesawat singgah di Singapura, Munir turun dan duduk di Coffee Bean, Bandara Changi. Seorang saksi mengungkapkan bahwa pada waktu itu ia melihat Pollycarpus Budihari Prijanto membawa dua minuman dan duduk bersama Munir.
Setelah perjalanan dari Singapura, Munir merasa mual dan sering pergi ke kamar mandi untuk buang air besar. Ia sempat mendapatkan pengobatan dari dr. Tarmizi Hakim, salah satu penumpang pesawat. Namun tiga jam sebelum mendarat, tepatnya di atas Rumania, Munir ditemukan telah meninggal dunia.
Januari 2008, Mahkamah Agung akhirnya menghukum Pollycarpus dengan hukuman 20 tahun penjara karena terbukti melakukan pembunuhan terhadap Munir. Meskipun demikian, hingga kini motif dari tindakan Pollycarpus masih menjadi teka-teki. Siapa di balik peristiwa pembunuhan ini?




