MediaPresisi.com-Pertandingan Indonesia melawan Arab Saudi dalam Kualifikasi Piala Dunia 2026 bukan hanya tentang taktik di lapangan, tetapi juga persaingan kualitas pemain. Dari segi komposisi tim, skuad Garuda kini lebih beragam dibanding lawannya yang masih mengandalkan kekuatan lokal.
Patrick Kluivert datang dengan persediaan yang sebagian besar telah merasakan suasana tujuh dari sebelas liga terbaik di dunia. Mulai dari Serie A Italia, Bundesliga Jerman, hingga Eredivisie Belanda.
Ada sepuluh pemain asal Indonesia yang bermain di kompetisi papan atas. Jay Idzes sering tampil bersama Sassuolo di Serie A, sementara Calvin Verdonk bermain untuk Lille di Ligue 1 Prancis.
Kedua tim memperkuat kubu tengah yang selisih poinnya hanya 5–9 poin dari pemimpin klasemen.
Empat pemain lainnya juga mempertahankan semangat kompetitif di Eredivisie, misalnya Justin Hubner di Fortuna Sittard dan Dean James di Go Ahead Eagles.
Kondisi dan ritme permainan di tempat tersebut jelas memengaruhi kepribadian dan rasa percaya diri pemain.
Di sisi lain, Arab Saudi menyajikan pemain yang sebagian besar berasal dari kompetisi lokal. Mayoritas pemainnya berlaga di Saudi Pro League yang kini dihiasi oleh bintang-bintang dunia seperti Cristiano Ronaldo, Karim Benzema, dan Neymar.
Kualitas liga mereka memang semakin baik, namun pengalaman bermain di level internasional masih terbatas.
Hanya dua pemain dari tim nasional Arab Saudi yang bermain di Eropa: Marwan Al Sahafi, sayap dari Royal Antwerp (Belgia), dan Saud Abdulhamid, bek yang mencatatkan sejarah sebagai pemain Saudi pertama yang mencetak gol di kompetisi Eropa saat AS Roma mengalahkan Braga 3-0 dalam Liga Europa pada Desember 2024.
Dari segi variasi pengalaman, Indonesia lebih unggul. Namun, Arab Saudi tetap menantang karena faktor mental juara dan disiplin taktik yang telah terbentuk sejak usia dini.
Selain itu, mereka tampil dengan semangat yang tinggi. Tiket menuju Piala Dunia 2026 akan menjadi langkah awal menuju Piala Dunia 2034, ketika Arab Saudi menjadi tuan rumah.
Kluivert beserta para pemainnya diwajibkan tidak hanya bermain dengan keterampilan dan kebugaran, tetapi juga mengontrol perasaan mereka.
Melawan Arab Saudi, suasana bisa menjadi panas dan penuh tekanan. Namun dengan semangat sebagai underdog dan kemampuan untuk menyebarluaskan pengalaman dari liga-liga Eropa, Timnas memiliki kesempatan memberikan kejutan.
Terlebih jika mereka mampu mencetak gol terlebih dahulu, momentum dapat berubah arah, dan Arab Saudi bisa kehilangan keseimbangan di markas sendiri. (*)




