Perjalanan Krisis Keuangan Evergrande yang Berujung pada Pemutusan Ketercatatan di Bursa Hong Kong
Perusahaan pengembang properti terbesar di Tiongkok, China Evergrande Group, resmi dikeluarkan dari daftar pencatatan Bursa Efek Hong Kong. Keputusan ini diambil setelah saham perusahaan gagal kembali diperdagangkan setelah 18 bulan disuspensi. Dengan penurunan signifikan dalam nilai pasar dan kegagalan untuk memenuhi kewajiban utang, Evergrande menjadi salah satu perusahaan dengan nilai terbesar yang dikeluarkan dalam beberapa tahun terakhir.
Evergrande pernah menjadi perusahaan pengembang properti dengan penjualan terbesar di Tiongkok. Namun, krisis keuangan yang dimulai pada 2021 membuatnya terjebak dalam utang yang sangat besar. Sejak saat itu, perusahaan menghadapi tantangan berat dalam memenuhi kewajiban utangnya, terutama akibat penurunan penjualan rumah serta keterbatasan akses pendanaan.
Berikut adalah rangkuman linimasa krisis keuangan Evergrande:
Agustus 2021
Banyak proyek Evergrande di seluruh negeri terhenti karena pembayaran yang tertunda. Otoritas keuangan Tiongkok memanggil eksekutif perusahaan dan memberi peringatan untuk menurunkan risiko utang serta menjaga stabilitas keuangan.
September 2021
Evergrande gagal membayar kupon obligasi luar negeri senilai USD 131 juta. Perusahaan kemudian menunjuk penasihat keuangan untuk mencari solusi, sambil memperingatkan risiko default lintas.
November 2021
Pendiri Evergrande, Hui Ka Yan, menjual sebagian besar sahamnya, menurunkan kepemilikannya dari 77% menjadi 67,9%.
Maret 2022
Perusahaan menangguhkan perdagangan saham karena tidak mampu menerbitkan laporan keuangan audit. Selain itu, penyelidikan atas unit manajemen propertinya menyebabkan penyitaan aset hingga USD 1,87 miliar.
November 2022
Rumah mewah milik pendiri Evergrande disita oleh bank Tiongkok, menjadi tanda semakin sulitnya situasi keuangan perusahaan.
Januari 2023
Auditor PricewaterhouseCoopers mengundurkan diri karena perbedaan pendapat terkait laporan keuangan 2021.
Februari 2023
Komite independen menemukan bahwa direksi Evergrande tidak memenuhi standar karena terlibat dalam transfer pinjaman yang dijaminkan oleh unit perusahaan.
Maret 2023
Evergrande mengumumkan rencana restrukturisasi utang luar negeri, memberi opsi bagi kreditur untuk menukar utang mereka menjadi obligasi baru atau instrumen ekuitas.
April 2023
Sebanyak 77% pemegang utang kelas A dan 30% pemegang utang kelas C menyatakan dukungan terhadap proposal restrukturisasi.
Juli 2023
Evergrande melaporkan kerugian bersih yang sangat besar pada 2021 dan 2022, jauh lebih rendah dibandingkan laba pada 2020.
Agustus 2023
Perusahaan melaporkan kerugian pada Januari hingga Juni, meski sedikit berkurang dibandingkan tahun sebelumnya. Saham Evergrande kembali dibuka setelah 17 bulan ditangguhkan.
September 2023
Otoritas keuangan Tiongkok menyetujui pembentukan perusahaan asuransi milik negara untuk mengambil alih aset dan kewajiban Evergrande Life Insurance. Selain itu, sejumlah staf Evergrande Financial Wealth Management ditahan.
Oktober 2023
Pengadilan Tinggi Hong Kong memberi waktu tambahan lima minggu untuk menyusun rencana restrukturisasi yang lebih konkret.
Desember 2023
Evergrande kembali mendapat penundaan dari pengadilan Hong Kong untuk menyelesaikan rencana restrukturisasi. Kelompok kreditur menolak syarat restrukturisasi yang diajukan.
Januari 2024
Unit kendaraan listrik Evergrande mengumumkan penahanan wakil ketua. Sementara itu, kelompok kreditur mengajukan petisi likuidasi. Pengadilan Hong Kong akhirnya mengeluarkan perintah likuidasi.
Maret 2024
Pemerintah Tiongkok memberi denda besar kepada Hengda Real Estate Group atas pelanggaran informasi dan penerbitan obligasi palsu. Ketua Evergrande juga dikenai denda dan larangan beraktivitas di pasar modal.
Agustus 2025
Bursa Efek Hong Kong secara resmi membatalkan pencatatan Evergrande. Likuidator perusahaan menyebut telah menjual aset senilai USD 255 juta dalam 18 bulan proses likuidasi, sementara klaim kreditur mencapai USD 45 miliar.




