Chelsea Mempertimbangkan Pergantian Bek Tengah Axel Disasi
Chelsea sedang mempersiapkan perubahan besar dalam skuatnya menjelang penutupan bursa transfer musim panas 2025. Salah satu nama yang muncul dalam daftar jual adalah bek tengah Axel Disasi, yang kini semakin dekat dengan pintu keluar Stamford Bridge. Bournemouth disebut telah menggelar pembicaraan resmi untuk mendapatkan jasa pemain asal Prancis tersebut.
Menurut laporan dari jurnalis Sacha Tavolieri, Bournemouth menawarkan skema peminjaman dengan opsi pembelian permanen di akhir musim. Namun, Chelsea masih mencari format terbaik karena mereka lebih menginginkan transfer permanen agar bisa meningkatkan ruang finansial sekaligus mengurangi beban gaji. Dalam laporan tersebut, disebutkan bahwa Bournemouth tertarik meminjam Disasi, sementara The Blues ingin melihat kesepakatan permanen.
Axel Disasi bergabung dengan Chelsea pada musim panas 2023 dengan harga yang cukup mahal, yaitu sekitar 38,5 juta Poundsterling atau setara Rp770 miliar. Ia datang dari AS Monaco dengan harapan bisa memperkuat lini belakang Chelsea yang sempat rapuh. Sayangnya, ekspektasi tinggi tidak berjalan mulus. Disasi kesulitan menemukan konsistensi dan persaingan di jantung pertahanan membuat menit bermainnya terbatas. Musim lalu, ia bahkan dipinjamkan ke Aston Villa untuk paruh kedua kompetisi.
Bersama tim asuhan Unai Emery, Disasi hanya tampil dalam 10 pertandingan sebelum kembali ke Chelsea. Kembali ke Stamford Bridge musim ini, nasibnya tidak banyak berubah. Pelatih baru Enzo Maresca sudah menyatakan bahwa Disasi bukan bagian dari rencana jangka panjangnya.
Di sisi lain, Bournemouth sedang mencari tambahan pemain bertahan. Pasalnya, dua bek andalan mereka, Dean Huijsen dan Illia Zabarnyi, telah hengkang. Huijsen memilih Real Madrid, sementara Zabarnyi direkrut oleh Paris Saint-Germain. Untuk mengisi kekosongan, Bournemouth telah mengamankan jasa Bafodé Diakité dari Lille dengan biaya awal sebesar 30,3 juta Poundsterling (sekitar Rp606 miliar) plus bonus tambahan 4,3 juta Poundsterling (Rp86 miliar). Namun, manajer Andoni Iraola masih membutuhkan satu bek tengah lagi.
Disasi dianggap sebagai target ideal. Selain harganya yang relatif lebih terjangkau dibanding bek elit Eropa lainnya, ia juga masih berusia 27 tahun dan berada dalam periode emas kariernya. Bournemouth telah memulai diskusi baik dengan Chelsea maupun kubu pemain. Tawaran awal berupa peminjaman dengan opsi beli disambut dengan hati-hati oleh The Blues. Meski begitu, fleksibilitas disebut tetap terbuka.
Chelsea diyakini tidak akan terlalu kaku, mengingat mendepak Disasi akan membuka ruang bagi bek muda seperti Levi Colwill untuk tampil lebih sering. Bagi Disasi sendiri, peluang pindah ke Bournemouth bisa menjadi kesempatan kedua untuk membuktikan kualitasnya di Premier League. Meskipun gagal menembus skuat utama Chelsea, performanya di Ligue 1 bersama Monaco dulu tidak bisa dipandang sebelah mata. Ia dikenal sebagai bek tangguh dengan fisik kuat serta kemampuan duel udara yang mumpuni.
Iraola diyakini melihat potensi tersebut. Bournemouth yang mengandalkan permainan kolektif dan pressing agresif bisa menjadi tempat ideal bagi Disasi untuk kembali menemukan sentuhan terbaiknya. Keputusan melepas Disasi bukan hal mengejutkan. Chelsea memang sedang fokus memangkas skuat gemuk peninggalan era belanja besar-besaran di bawah Todd Boehly. Sejumlah nama lain seperti Romelu Lukaku, Trevoh Chalobah, dan Malang Sarr juga masuk daftar jual.
Maresca tampaknya ingin membangun tim yang lebih ramping dengan prioritas pada pemain muda potensial. Dengan begitu, mereka bisa menjaga keseimbangan antara kualitas skuat dan stabilitas finansial. Bursa transfer masih menyisakan waktu hingga 1 September, dan saga Axel Disasi bisa menjadi salah satu cerita menarik di penghujung pasar pemain. Bournemouth jelas membutuhkan bek tengah baru, sementara Chelsea tak lagi melihat masa depan bagi sang pemain.
Jika kesepakatan tercapai, Disasi berpeluang besar membuka lembaran baru di pesisir selatan Inggris. Baginya, pindah ke Bournemouth bukan sekadar mencari menit bermain, melainkan juga kesempatan untuk membuktikan bahwa label harga Rp770 miliar dulu bukan kesalahan besar.




