PR SURABAYA– Kota Surabaya kembali membuat kejutan! Kali ini, bukan tentang mal terbaru atau taman menarik, tetapi munculnya Monumen Ayam Jago yang langsung menjadi ikon baru di Kelurahan Lidah Wetan, Kecamatan Lakarsantri.
Berdiri setinggi tujuh meter, monumen ini bukan sekadar hiasan, tetapi merupakan tanda sejarah mengenai Raden Sawunggaling atau Joko Berek, tokoh legendaris yang sangat berkaitan dengan lahirnya Kota Pahlawan.
Kepala Desa Lakarsantri, Yongky Kuspriyanto Wibowo, menyatakan bahwa pembangunan monumen ini muncul dari aspirasi masyarakat sejak tahun 2023.
Pada masa itu, masyarakat mengajukan permintaan kepada Wali Kota Surabaya, Eri Cahyadi, untuk menyediakan simbol sejarah yang dapat menjadi sumber kebanggaan bersama. Dan tiba-tiba… Permintaan tersebut akhirnya terwujud.
Jejak Legenda Raden Sawunggaling
Belum tahu? Raden Sawunggaling atau Joko Berek adalah anak dari Adipati Jayengrono yang berasal dari Kadipaten Surabaya.
Sejak kecil, ia dikenal memiliki minat dalam merawat dan memelihara ayam jago. Perjalanan hidupnya menjadi lebih menarik ketika ibunya, Dewi Sangkrah, memberinya selendang kuning sebagai tanda pengenal ayahnya di Kadipaten Surabaya.
Saat tiba di sana, Joko Berek dihadapkan dengan dua saudara tirinya, Sawungrana dan Sawungsari.
Pertandingan ayam, permainan panah, semuanya berhasil dikalahkan! Akhirnya, dia bertemu dengan ayahnya dan menyerahkan ikat pinggang kuning itu.
Perjalanan belum berakhir, karena Jayengrono meminta Joko Berek untuk membuka hutan Wonokromo. Dari sana, lahir cikal bakal Surabaya yang kita kenal saat ini.
Simbol Keberanian yang Abadi
Ayam jago yang selalu menang bersama Joko Berek bukan hanya tentang pertarungan, tetapi menggambarkan keberanian, ketangguhan, dan semangat pantang menyerah.
Angka tersebut kini diabadikan melalui Monumen Ayam Jago, ikon terbaru yang siap menjadi daya tarik wisata sejarah serta pengingat bahwa Surabaya lahir dari semangat tidak pernah menyerah.




