Siswa Kurang Mampu? Jangan Harap Bisa Menabung Emas

Tidak semua individu beruntung. Tidak semua orang juga memiliki kekayaan yang melimpah. Banyak dari mereka yang kesulitan menghadapi tantangan dalam menjalani kehidupan agar bisa tetap bertahan dan bersemangat.

Saat sedang menempuh studi, saya termasuk mahasiswa yang kurang beruntung. Dari segi ekonomi, keluarga saya tidak mampu memenuhi kebutuhan sehari-hari, apalagi mengcover biaya kuliah yang sangat besar. Namun, dengan usaha keras, tekad yang kuat, serta doa dari orang tua, akhirnya saya berhasil menyelesaikan pendidikan sarjana, meskipun harus bekerja terus-menerus selama masa kuliah.

Kita kembali ke masa lalu…

Saya bekerja sebagai pembawa acara radio. Pastinya akan sangat melelahkan baik siang maupun malam.

Saya bekerja sebagai guru di sebuah lembaga bimbingan belajar. Tugas dan tanggung jawab terhadap siswa-siswa yang masih duduk di bangku sekolah sudah sangat jelas.

Kuliah sambil bekerja sudah menjadi hal yang biasa pada masa itu. Bukan hanya saya saja, orang lain juga bekerja dengan konsep yang berbeda.

Saat bekerja, saya merencanakan dengan matang agar bisa menabung meskipun jumlahnya sedikit. Honor dari radio yang cukup besar, saya sisihkan sedikit untuk SPP di awal semester berikutnya. Honor dari mengajar les, saya gunakan untuk kebutuhan sehari-hari mulai dari makan hingga menutupi biaya print dan fotokopi tugas kuliah.

Baja Juga  Dua Anak Kuli Bangunan Masuk Sekolah Rakyat di Bangkalan, Impian Jadi Koki dan Guru Terwujud

Saya tidak merasa terbebani dengan hal tersebut. Saya juga tidak memiliki rencana jelas mengenai ‘masa depan’ karena yang saya ketahui, uang saku dari pekerjaan paruh waktu saya simpan dengan baik untuk membayar SPP yang kini tidak lagi ditanggung oleh orang tua.

Itulah pelajaran berharga. Saya memberi tahu Ayah dan Ibu agar tidak lagi mengirimkan uang untuk SPP, bahkan biaya makan sehari-hari. Saya sudah bersedia menanggungnya sendiri meskipun dalam kelelahan yang pasti.

Saat adik saya mengikuti perkuliahan, orang tua tidak lagi memberikan uang kepada kami karena penghasilan saya dari pekerjaan di radio dan les privat sudah cukup memadai untuk mendukung kebutuhan kami sebagai mahasiswa yang kurang mampu.

Baja Juga  Energize Sport Fest: PLN UP3 Ambon Ajak Masyarakat Peduli Lingkungan

Konsep menabung itu…

Menghemat adalah tentang kemauan atau tidak.

Menabung itu, siapa yang mampu menahan lapar.

Ternyata, teman saya di stasiun radio dan bimbingan belajar yang bahkan memiliki honor jauh lebih besar harus meminta uang kepada orang tua di kampung untuk membayar SPP dan biaya makan setiap bulannya.

Ke mana mereka membawa kehormatan mereka?

Ngopi.

Nongkrong.

‘Kapal-kapal’ yang tidak lagi masuk akal.

Mereka sama seperti saya, mengajar dan memimpin acara—itu artinya bekerja. Namun setelah bekerja, mereka akan duduk rileks di kafe tanpa batasan waktu. Menghirup udara segar tanpa beban. Menikmati kelezatan kopi yang tidak membuat mengantuk, serta menghisap asap rokok agar terlihat perkasa sebagai seorang pria.

Harga diri yang berarti bagi saya, bagi mereka hanya untuk ‘bersenang-senang’ dalam sekejap mata.

Bagian keuangan memberikan uang jasa kepada kami secara tunai. Saya langsung menyisihkan beberapa lembar untuk keperluan jangka panjang. Sedangkan mereka, segera pergi ke warung kopi atau bahkan ke kafe yang sedang tren dan habis dalam sekejap.

Baja Juga  JATIM TERPOPULER: Pembunuhan Akibat Utang Rp60 Juta dan Siswa SMP Ditikam Teman

Saya selalu menolak, “Belum sekarang,”

Mereka menjawab, “Kau tidak keren,”

Sudahlah. Saya tidak keberatan terlihat kurang ramah, daripada pulang ke kosan dengan sakit kepala karena memikirkan secangkir kopi atau sepiring makanan lezat yang dibayar dari hasil kerja keras saya tadi. Padahal, jika langsung pulang ke kosan, saya bisa memasak sendiri, menghemat pengeluaran, dan tabungan tersebut bisa digunakan terutama untuk membayar SPP serta kebutuhan adik saya.

Susah memang.

Jika dijalani, gampang-gampang saja.

Pengalaman ini, apakah masih ada di masa kini?

Tentu saja masih ada beberapa yang tidak dipublikasikan karena orang-orang seperti saya tidak semuanya perlu ditampilkan dalam konten.

Dan, mereka yang ‘hedon’ itu lihatlah bagaimana mereka memperlihatkan kehidupan dari kafe ke kafe di timeline media sosial padahal hidupnya pasti penuh dengan kesulitan.

Menyimpan uang bisa berbagai macam.

Mahasiswa berhemat, itulah yang saya bagikan!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *