Presiden Tunda Kunjungan ke Beijing
Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, memutuskan untuk menunda rencana kunjungan ke Beijing, Tiongkok, yang sebelumnya dijadwalkan berlangsung pada pekan pertama September 2025. Keputusan ini diumumkan oleh Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg) Prasetyo Hadi, yang juga bertindak sebagai Juru Bicara Presiden RI, dalam pernyataannya pada Sabtu, 31 Agustus 2025.
Rencana kunjungan tersebut awalnya ditujukan untuk menghadiri pertemuan dengan Presiden Tiongkok, Xi Jinping, serta menyaksikan parade militer angkatan bersenjata Tiongkok di ibu kota negara tersebut pada 3 September. Namun, keputusan untuk menunda kunjungan tersebut diambil setelah Presiden Prabowo ingin lebih fokus memantau situasi dalam negeri yang sempat mengalami ketegangan di beberapa wilayah selama beberapa hari terakhir.
Prasetyo Hadi menjelaskan bahwa Presiden Prabowo memilih untuk tidak hadir dalam undangan dari Pemerintah Tiongkok karena ingin terus memantau dinamika dan situasi di dalam negeri secara langsung. “Karena dinamika di dalam negeri, Bapak Presiden ingin terus memantau secara langsung, Beliau juga ingin terus memonitor secara langsung, kemudian juga Beliau ingin memimpin secara langsung, dan mencari penyelesaian-penyelesaian yang terbaik,” ujar Prasetyo.
Ia menambahkan bahwa Presiden Prabowo, dengan kerendahan hati dan memohon maaf kepada Pemerintah Tiongkok, memutuskan untuk belum dapat menghadiri undangan dari pihak Tiongkok. Hal ini dilakukan sebagai bentuk penghormatan terhadap hubungan bilateral antara Indonesia dan Tiongkok.
Sebelumnya, Presiden Prabowo sebenarnya memiliki rencana untuk memenuhi undangan Pemerintah Tiongkok. Salah satu alasan utamanya adalah adanya undangan untuk berbicara dalam Sidang Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNGA) Ke-80 di New York, Amerika Serikat, pada 23 September 2025. Undangan ini menjadi salah satu faktor pertimbangan dalam menentukan apakah Presiden akan hadir atau tidak dalam acara parade militer di Beijing.
Agenda Parade Militer di Beijing
Presiden Xi Jinping mengundang Presiden Prabowo Subianto beserta 25 kepala negara lainnya, termasuk Pemimpin Korea Utara Kim Jong-un dan Presiden Rusia Vladimir Putin, untuk menghadiri parade militer di Beijing. Parade ini bertujuan untuk memperingati 80 tahun kemenangan dalam Perang Rakyat Cina Melawan Agresi Jepang dan Perang Dunia Anti-Fasis.
Pengundangan ini menunjukkan pentingnya hubungan diplomatik antara Tiongkok dan negara-negara lain, termasuk Indonesia. Namun, keputusan Presiden Prabowo untuk menunda kunjungan tersebut menunjukkan prioritas pemerintah dalam menghadapi situasi dalam negeri yang sedang berkembang.
Dinamika di Dalam Negeri
Dinamika yang disebutkan oleh Prasetyo merujuk pada aksi massa yang terjadi di beberapa daerah pada 25 Agustus, dan 28-30 Agustus 2025, termasuk Jakarta, Makassar, Bandung, Solo, Semarang, Surabaya, dan Yogyakarta. Aksi massa ini awalnya dimulai sebagai protes terhadap tunjangan perumahan anggota DPR dan sikap arogan beberapa wakil rakyat.
Namun, situasi semakin memanas setelah seorang pengendara ojek online (ojol) berusia 21 tahun, Affan Kurniawan, meninggal dunia akibat tertabrak kendaraan taktis (rantis) Barracuda Brimob Polri di lokasi massa bentrok dengan aparat di kawasan Bendungan Hilir, Jakarta Pusat. Akibatnya, massa mulai memprotes sikap brutal polisi dalam menghadapi demonstran.
Kerusuhan, perusakan, dan penjarahan terjadi di berbagai kota, sehingga menimbulkan kekhawatiran terhadap stabilitas sosial dan keamanan di dalam negeri. Presiden Prabowo memilih untuk tetap berada di tanah air guna memastikan situasi dapat segera dikendalikan dan ditemukan solusi terbaik.




