Prajurit Yonif TP 814 dan Dokter Puskesmas Beri Pengobatan Cepat Malaria

Upaya Memutus Mata Rantai Penyebaran Malaria di Kabupaten Jayapura

Di tengah upaya memperkuat kesehatan masyarakat, berbagai langkah inovatif terus dilakukan untuk menangani penyakit malaria yang masih menjadi ancaman serius. Salah satu inisiatif yang dilaksanakan adalah kegiatan Early Diagnosis and Treatment (EDAT) atau pemeriksaan dini dan pengobatan cepat malaria. Kegiatan ini digelar oleh prajurit Yonif TP 814/Jaya Sakti bersama tenaga kesehatan Puskesmas Distrik Yapsi di Kampung Bumi Sahaja/SP 2, Distrik Yapsi, Kabupaten Jayapura, pada Sabtu (30/8/2025).

Kegiatan dimulai sejak pukul 09.00 WIT dengan briefing di Puskesmas Yapsi, kemudian dilanjutkan dengan pembagian tim menjadi delapan kelompok. Seluruh anggota tim, termasuk para tenaga kesehatan dan prajurit, menyebarkan diri ke rumah-rumah warga untuk melakukan pemeriksaan langsung. Pendekatan jemput bola dipilih agar seluruh warga dapat dijangkau, terutama mereka yang kesulitan mengakses fasilitas kesehatan.

Baja Juga  Jangan Ketinggalan SPayLater Super Festival dengan Lyodra, Flash Sale 9RB dan Bonus 500RB!

Metode pemeriksaan menggunakan alat Rapid Diagnostic Test (RDT) malaria yang memberikan hasil cepat dan akurat. Dalam proses ini, warga juga diperiksa secara umum, seperti tekanan darah, berat badan, dan kondisi kesehatan umum. Bagi warga yang positif malaria, obat langsung diberikan di tempat sesuai standar penanganan, termasuk DHP, Primaquin, Paracetamol, dan obat pendukung lainnya.

Danyonif TP 814/JZA, Mayor Inf Bayu Setia Yogasara, menjelaskan bahwa kegiatan ini merupakan bentuk kepedulian TNI terhadap kesehatan masyarakat serta kolaborasi dengan pihak daerah. Ia menilai bahwa malaria masih menjadi ancaman serius, terutama di wilayah pedalaman. Melalui EDAT, diharapkan warga mendapatkan penanganan cepat dan tepat, sehingga penularan bisa ditekan sejak dini.

Baja Juga  Ketua PPWI Wilson Lalengke Ucapkan Selamat atas Peluncuran Dapur Sehat SPPG di Mesuji Lampung

Selain prajurit Yonif 814, kegiatan ini melibatkan belasan tenaga kesehatan Puskesmas Yapsi, Kepala Seksi Pencegahan Penyakit Dinas Kesehatan Kabupaten Jayapura, Agustina Ratnawati, serta perwakilan Global Fund sebagai penyedia alat deteksi malaria. Perwakilan organisasi kesehatan lokal juga hadir, menegaskan pentingnya kolaborasi lintas sektor dalam penanganan malaria.

Kapuskesmas Yapsi, Eko Hardianto, menjelaskan bahwa hasil pemeriksaan dapat diketahui dalam waktu singkat. Hal ini memudahkan tim medis untuk segera melakukan pengobatan dan mengurangi risiko penyebaran. “Hasil pemeriksaan keluar dalam waktu singkat, sehingga warga yang positif bisa langsung menerima obat. Setelah itu, pasien akan kami pantau selama 3 hingga 14 hari, baik dengan kunjungan langsung maupun laporan mandiri dari warga,” jelasnya.

Untuk memastikan kepatuhan minum obat, warga yang terdiagnosis positif diwajibkan mengirim foto saat mengonsumsi obat dengan timestamp kepada tenaga kesehatan Puskesmas Yapsi. Mekanisme ini dinilai efektif mencegah pasien berhenti mengonsumsi obat sebelum masa pengobatan selesai.

Baja Juga  Kekhawatiran atas Kasus Keracunan MBG, IDAI Minta Keamanan Pangan Jadi Prioritas

Menurut Dinas Kesehatan Kabupaten Jayapura, malaria masih menjadi penyakit endemis di sejumlah distrik, termasuk Yapsi. Karena itu, strategi deteksi dini seperti EDAT sangat penting dilakukan secara rutin. Dengan deteksi lebih awal, rantai penularan bisa diputus dan angka kesakitan di masyarakat dapat ditekan.

Kegiatan EDAT berakhir pukul 15.30 WIT dan berjalan dengan tertib serta lancar. Antusiasme warga Kampung Bumi Sahaja terlihat dari partisipasi mereka dalam pemeriksaan, sekaligus kesediaan mengikuti prosedur pengobatan. Program ini diharapkan menjadi langkah nyata memperkuat upaya pemberantasan malaria di Kabupaten Jayapura, sekaligus meningkatkan kesadaran masyarakat untuk menjaga kesehatan bersama.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *