Pemkab Bandung Barat Hentikan Status KLB Keracunan Massal Paket MBG

jabar.MediaPresisi.com, BANDUNG BARAT – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bandung Barat secara resmi menghapus status Kejadian Luar Biasa (KLB) terkait kejadian keracunan massal yang diduga disebabkan oleh hidangan Makan Bergizi Gratis (MBG) pada hari Sabtu (27/9/2025).

Pada kejadian ini, setidaknya terdapat lebih dari 1.300 siswa yang menjadi korban.

Bupati Bandung Barat Jeje Ritchie Ismail menyampaikan bahwa pencabutan KLB dilakukan setelah mempertimbangkan berbagai faktor. Terutama adalah tingkat kesembuhan pasien yang terus meningkat serta tidak adanya kasus baru.

“Berdasarkan analisis epidemiologi, penghentian penyaluran makanan dari dapur yang diduga bermasalah, tindakan pencegahan yang telah dilakukan, tingkat kesembuhan pasien, serta tidak ditemukannya kasus baru, maka status KLB atau kejadian luar biasa secara resmi kami hentikan,” ujar Jeje, dikutip Minggu (28/9).

Diketahui, kejadian keracunan massal di Kabupaten Bandung Barat terjadi dalam dua tahap, yaitu pada hari Senin (22/9) dan Rabu (24/9).

Di gelombang pertama, kejadian keracunan massal awalnya terjadi pada sejumlah siswa SMK Pembangunan di Cipongkor, Bandung Barat pada hari Senin (22/9) siang.

Baja Juga  Merdeka Copper Gold (MDKA) Capai Pendapatan US$ 854,6 Juta di Paruh Pertama 2025

Mereka mengalami berbagai gejala seperti pusing, demam, mual, muntah, sakit perut, sesak napas, hingga kejang-kejang diduga akibat mengonsumsi hidangan MBG yang disebarkan oleh dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang terletak di Kampung Cipari, Desa Cijambu, Kecamatan Cipongkor, KBB.

Siswa-siswa dari sekolah lainnya kemudian datang mengantri di Cipongkor mulai dari jenjang PAUD hingga SMA yang diduga setelah mengonsumsi MBG dari dapur yang sama.

Hingga hari berikutnya, yaitu Selasa (23/9), jumlah korban terus meningkat hingga paling sedikit tercatat sebanyak 393 siswa. Mereka dievakuasi agar segera mendapatkan perawatan medis, baik di Posko Kecamatan Cipongkor maupun RSUD Cililin.

Selanjutnya, pada gelombang kedua kejadian keracunan dimulai dengan gejala yang dirasakan oleh sejumlah siswa di SMK Karya Perjuangan pada hari Rabu (24/9) pagi.

Mereka mengalami mual, pusing, dan gejala lainnya diduga akibat mengonsumsi MBG dari dapur SPPG Neglasari di Kecamatan Cipongkor. Kejadian ini diikuti oleh jatuhnya siswa dari sekolah lain di Cipongkor, diduga karena mengonsumsi MBG dari dapur yang sama.

Baja Juga  Kebiasaan Tersembunyi Pelaku Pembunuhan Kepala Cabang Bank BUMN Terungkap

Pada hari yang sama, di Kecamatan Cihampelas KBB, juga terjadi kejadian serupa. Siswa-siswa di beberapa sekolah mengalami sejumlah gejala keracunan yang diduga disebabkan oleh konsumsi MBG yang disuplai oleh dapur SPPG di Desa Mekarmukti, Cihampelas, KBB.

Hingga hari berikutnya atau Kamis (25/9), jumlah korban terus meningkat. Korban yang terdaftar di Cipongkor mencapai paling sedikit 730 siswa, sementara di Cihampelas sebanyak 192 siswa.

Dengan demikian, jika dijumlahkan, total jumlah korban keracunan massal MBG dari Senin (22/9) hingga Kamis (25/9) mencapai 1315 orang.

Dari jumlah tersebut, Bupati Jeje menyampaikan, tersisa 74 siswa yang hingga kini masih dalam perawatan, sementara sisanya telah dinyatakan pulang ke rumah.

“Total kasus sebanyak 1.315 orang, pasien yang telah pulang atau sembuh berjumlah 1.241 orang, sementara 74 orang masih dalam perawatan. Alhamdulillah, kondisi pasien yang masih dirawat menunjukkan perkembangan yang positif menuju pemulihan,” kata Jeje.

Baja Juga  Kejari Alor Selidiki Pengelolaan Dana Desa, 14 Kades di ATU Diperiksa

“Kami saat ini fokus pada pemulihan seluruh pasien, sehingga mereka sehat dan dapat segera kembali ke rumah masing-masing,” tambahnya.

Ia menekankan bahwa Pemkab Bandung Barat terus berkoordinasi dengan para tenaga medis serta pihak-pihak terkait untuk memastikan penanganan berjalan secara maksimal, serta kebutuhan pasien dapat terpenuhi dengan baik.

Selain itu, mengenai tiga dapur SPPG yang diduga memiliki masalah, yaitu Cipari Cipongkor, SPPG Neglasari Cipongkor, dan Mekarmukti Cihampelas, Jeje menyatakan bahwa hingga kini masih ditutup. Penutupan sementara dilakukan karena proses penyelidikan yang sedang berlangsung.

“Saat ini ketiga dapur tersebut masih ditutup sementara dalam rangka penyelidikan. Pemerintah daerah juga mendorong serta bekerja sama dengan BGN agar ketiga SPPG ini diadakan penilaian menyeluruh,” katanya.(mcr27/jpnn)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *