Peningkatan Angka Menyusui Eksklusif di Indonesia
Kesadaran para ibu untuk menyusui anaknya sejak bayi lahir sesuai rekomendasi dari organisasi kesehatan global seperti WHO memang perlu terus ditingkatkan. Terbaru, angka penyusuan eksklusif di Indonesia mengalami peningkatan signifikan, yaitu mencapai 66,4 persen berdasarkan data yang dirilis oleh lembaga internasional. Ini menunjukkan bahwa upaya pemerintah dan masyarakat dalam mendukung ibu menyusui semakin efektif.
Menyusui memiliki peran penting dalam mendukung pertumbuhan bayi dan menjaga kesehatan ibu. Meskipun masih ada sebagian ibu yang belum sepenuhnya dapat memenuhi tugas tersebut, tren positif ini memberikan harapan bahwa kesadaran akan manfaat menyusui semakin meningkat.
Dalam rangka memperingati World Breastfeeding Week 2025, Unicef dan WHO menekankan pentingnya memperkuat sistem pendukung bagi ibu menyusui. Hal ini dilakukan sebagai bentuk dukungan terhadap perjuangan para ibu dalam memberikan ASI kepada bayi mereka. Di Indonesia, perayaan ini diperingati sepanjang bulan Agustus dengan tema “Prioritaskan Menyusui: Ciptakan Sistem Pendukung yang Berkelanjutan.”
Unicef dan WHO sangat mengapresiasi komitmen pemerintah Indonesia dalam melindungi, mempromosikan, dan mendukung pemberian ASI. Angka pemberian ASI eksklusif pada bayi di bawah enam bulan telah meningkat dari 52 persen pada 2017 menjadi 66,4 persen pada 2024. Namun, meski angka ini meningkat, masih banyak bayi yang tidak mendapatkan ASI eksklusif selama enam bulan penuh, padahal durasi tersebut sangat penting untuk mendapatkan manfaat kesehatan maksimal.
Dengan adanya dukungan yang penuh dan berkelanjutan, para ibu bisa lebih mudah mengakses bantuan ketika dibutuhkan, baik di tempat kerja, rumah, atau lingkungan komunitas. Dukungan ini mencakup konseling dari tenaga kesehatan yang terlatih, kebijakan di tempat kerja yang ramah ibu menyusui, serta pengaturan fisik yang memungkinkan pemberian ASI.
“Berinvestasi dalam sistem pendukung bagi ibu menyusui adalah langkah penting untuk memastikan tidak ada ibu yang harus menghadapi tantangan menyusui sendirian,” ujar Maniza Zaman, perwakilan Unicef Indonesia. Ia juga menambahkan bahwa dukungan yang baik dapat menciptakan hasil positif, tidak hanya untuk perkembangan anak, tetapi juga untuk keluarga yang lebih kuat dan masyarakat yang lebih sehat.
Dr. N. Paranietharan, perwakilan WHO untuk Indonesia, menyatakan bahwa peningkatan pemberian ASI eksklusif di Indonesia mencerminkan komitmen yang kuat dari keluarga, masyarakat, dan sistem kesehatan. Dengan sistem pendukung yang lebih kuat, setiap ibu di Indonesia bisa memiliki sumber daya yang cukup untuk menyusui secara eksklusif selama enam bulan sesuai rekomendasi.
Menyusui merupakan sumber perlindungan dan nutrisi pertama bagi bayi. WHO merekomendasikan agar bayi disusui dalam waktu satu jam setelah lahir dan disusui secara eksklusif selama enam bulan pertama tanpa makanan atau cairan lain. Banyak bukti menunjukkan bahwa menyusui dapat meningkatkan perkembangan kognitif anak, mengurangi risiko obesitas, dan memberikan perlindungan jangka panjang terhadap penyakit tidak menular.
Selain itu, bayi yang tidak disusui memiliki risiko hingga 14 kali lebih tinggi untuk meninggal sebelum ulang tahun pertamanya dibandingkan mereka yang disusui secara eksklusif selama enam bulan pertama.
Menyusui juga lebih ramah lingkungan dibandingkan produksi susu formula. Proses ini tidak menghasilkan emisi karbon yang besar dan mengurangi sampah kemasan. Oleh karena itu, menyusui adalah pilihan yang berkelanjutan dan bermanfaat bagi lingkungan.
Upaya Mendukung Ibu Menyusui
Unicef dan WHO mengimbau semua pemangku kepentingan untuk mempercepat upaya mendukung ibu menyusui. Beberapa langkah prioritas yang bisa dilakukan antara lain:
- Memperluas akses konseling menyusui melalui fasilitas kesehatan dan layanan masyarakat.
- Menerapkan Sepuluh Langkah Menuju Keberhasilan Menyusui di semua fasilitas bersalin.
- Melindungi keluarga dari pemasaran produk susu formula yang tidak sehat.
- Mengintegrasikan pendidikan menyusui ke dalam pelatihan tenaga kesehatan.
- Mengadopsi kebijakan yang ramah keluarga, seperti cuti hamil berbayar dan ruang laktasi di tempat kerja.
Dengan dukungan yang lebih kuat, diharapkan kesadaran para ibu dalam menyusui bayinya sejak lahir semakin tinggi. Hal ini akan membantu memenuhi hak bayi untuk mendapatkan nutrisi terbaik sejak awal kehidupannya.




