“Kota Dodol” Merek yang Mengikis Identitas Garut

Priangan Insider –Jika kamu mendengar nama Garut, apa yang langsung terpikir di benakmu? Ya, dodol. Camilan manis yang lembut dan melekat di hati para pengunjung. Bahkan, karena ketenarannya, Garut disebut sebagai “Kota Dodol.”

Tetapi pertanyaannya, apakah itu sudah cukup? Apakah benar dodol mampu mencerminkan seluruh identitas daerah yang memiliki sejarah, budaya, dan alam yang begitu kaya seperti Garut?

Ternyata, kekhawatiran ini bukan hanya sekadar percakapan santai di kafe. Ratno Sureatno atau yang dikenal sebagai Wa Ratno, seorang aktivis dan pengamat budaya Garut, dengan tegas menyampaikan kritik terhadap pemasaran yang monoton yang mempersempit identitas kota ini.

Dalam pendapatnya yang sedang menjadi perbincangan, ia menyatakan bahwa label“Kota Dodol”telah mengurangi identitas Garut secara signifikan.

Ikonik, Tapi Juga Membatasi

Menurut Wa Ratno, jangan salah mengerti dulu. Tidak ada yang menolak bahwa dodol merupakan bagian penting dari identitas Garut.

Kuliner khas ini telah menembus pasar nasional, bahkan menjadi sumber penghidupan bagi banyak UMKM lokal. Namun, ketika dodol dijadikan satu-satunya cerita tentang identitas daerah, itulah masalahnya, kata Wa Ratno.

Ia menjelaskan, ketika branding Garut hanya terfokus pada oleh-oleh, secara tidak langsung masyarakat diwajibkan mengaitkan kota ini dengan hal-hal yang bersifat konsumtif, bukan dengan nilai sejarah, intelektual, atau potensi alamnya.

Baja Juga  Satreskrim Polres Aceh Tengah Tangkap Pelaku Curanmor dan Amankan 7 Motor Hasil Curian

Garut menjadi seperti “koleksi menarik” di etalase wisata, bukan sebagai wilayah penting yang memiliki banyak potensi.

Dari Naskah Tua hingga Salinan Unik

Wa Ratno mengingatkan kita akan kekayaan budaya dan sejarah yang sering kali tidak mendapat perhatian. Contohnya, di kaki Gunung Cikuray, terdapat naskah-naskah kuno Kabuyutan Ciburuy, seperti Siksa Kandang Karesian dan Amanat Galunggung.

Ini bukan hanya kertas yang usang, melainkan bukti asli bahwa Garut dahulu merupakan pusat kebudayaan dan spiritualitas Sunda, cetus dia.

Belum lagi keindahan alamnya, Wa Ratno mengatakan, di bagian selatan terdapat air terjun luar biasa di Rancabuaya yang langsung mengalir ke laut, pemandangan yang jarang diketahui oleh penduduk setempat, apalagi para wisatawan.

Bidang pertanian? Jangan lewatkan kopi Papandayan dan teh Cikajang, dua produk unggulan yang ternyata memiliki kualitas yang layak diekspor.

Namun, sayangnya, menurut Wa Ratno, semua potensi tersebut tersembunyi di balik narasi yang satu.“Kota Dodol”.

Bila perhatian hanya tertuju pada satu produk, maka secara tidak langsung arah pembangunan dan kebijakan daerah bisa terpengaruh. Sektor-sektor lain seperti pertanian, pariwisata alam, serta pelestarian budaya menjadi kurang mendapat perhatian.

Baja Juga  Line Up AXEAN Festival 2025 Lengkap, Ada AVHATH hingga Kiwako Ashimine

Rebranding yang Harus Dimulai Kembali

Ternyata, menurut Wa Ratno, Garut pernah memiliki julukan yang lebih maju, Kota INTAN, akronim dari Industri, Pertanian, dan Wisata Nasional.

Julukan ini muncul dari visi besar untuk menjadikan Garut sebagai kawasan pembangunan yang berbasis pada potensi lokal. Sayangnya, branding ini hilang, tergantikan oleh narasi yang lebih kuat. “eye-catching” dan komersial, dodol.

Sebenarnya, berkat posisi geografis yang strategis, dikelilingi oleh gunung, hutan, laut, dan sungai, Garut memiliki seluruh unsur yang diperlukan untuk menjadi pusat kebudayaan, pertanian, dan ekowisata, kata Wa Ratno.

Namun, ketika identitasnya dikurangi menjadi hanya sekadar oleh-oleh manis, banyak peluang emas akhirnya tidak dimanfaatkan secara maksimal.

Wa Ratno menekankan bahwa hal ini bukan berarti menentang dodol. Justru sebaliknya, dodol tetap menjadi bagian penting dari kumpulan budaya Garut.

Namun dia mengajak seluruh pihak untuk berani mengeksplorasi dan menyampaikan kisah-kisah lain yang sama pentingnya.

Pemuda, Pemerintah, dan Masyarakat, Siapkah Beraksi?

Wa Ratno juga menyatakan, kritik ini seharusnya tidak berhenti hanya dalam ruang diskusi. Rebranding identitas daerah memerlukan kerja sama lintas sektor, mulai dari pemerintah daerah, pelaku seni dan budaya, komunitas setempat, hingga generasi muda.

Baja Juga  Panduan Lengkap CPNS 2026: Daftar, Syarat, dan Tips Lolos Jadi ASN

Bayangkan jika Garut dikenal sebagai:

  • Kota yang menjaga naskah kuno Sunda,
  • Kebun pertanian surgawi yang menghasilkan kopi terbaik dari daerah pegunungan,
  • Tempat wisata alam yang belum terpengaruh oleh komersialisasi,
  • Sebagai tempat usaha mikro, kecil, dan menengah di bidang kuliner, termasuk produk dodol.

Kuncinya terletak pada keberanian untuk meninjau kembali identitas, bukan hanya untuk tujuan estetika merek, tetapi juga untuk arah kebijakan pembangunan yang lebih inklusif dan berkelanjutan, tukasnya.

Waktunya Garut Bersuara Lebih dari Hanya Kemanisan Dodol

Wa Ratno mengatakan, identitas daerah bukan hanya terkait dengan citra pada spanduk atau stiker mobil. Hal itu mencerminkan nilai, potensi, serta arah yang ingin ditempuh oleh suatu wilayah.

Garut memiliki berbagai kisah, mulai dari yang tercatat dalam lontar tua, hingga yang berkembang di sawah dan mengalir di sungainya.

“Kota Dodol”mungkin menarik dan mudah diingat. Namun, Garut pantas memiliki cerita yang lebih mendalam, lebih kaya, serta lebih berani.

Sudah saatnya Garut bersuara sepenuhnya, bukan hanya melalui rasa manis dodol, tetapi juga melalui sejarah, budaya, dan alam yang luar biasa, cetusnya. (***)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *