Khutbah Jumat 22 Agustus 2025: Persiapan Akhirat Sebelum Kematian Datang

Naskah Khutbah Jumat dalam Bahasa Sunda: Kemuliaan bagi Para Pekerja dan Pencari Nafkah

Pada hari Jumat, salah satu rukun yang penting adalah penyampaian khutbah oleh khatib. Dalam Islam, disarankan agar khutbah tidak terlalu panjang agar jemaah tidak merasa bosan. Hal ini juga dijelaskan dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Muslim dan Ahmad, yang berbunyi:

“Ketika seseorang shalat lama dan khutbahnya pendek, itu menunjukkan pemahaman agamanya. Oleh karena itu, perpanjanglah shalat dan singkatkan khutbah; sesungguhnya dalam penjelasan singkat ada daya tarik.”

Dalam penerapannya, terdapat berbagai topik khutbah Jumat, namun kali ini kita akan membahas tema “Menyiapkan Bekal Akhirat Sebelum Datang Kematian”. Karena salah satu kesalahan terbesar manusia adalah menunda-nunda amal kebaikan dengan anggapan masih ada waktu. Padahal, ajal bisa datang kapan saja.

Karenanya, sudah seharusnya kita memanfaatkan setiap detik hidup dengan ibadah dan kebaikan, sebelum maut menjemput secara tiba-tiba dan meninggalkan penyesalan yang tak berguna.

Khutbah I

Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam. Kita bersyukur atas segala nikmat dan karunia yang diberikan kepada kita. Dia yang menetapkan ajal setiap manusia tanpa bisa dimajukan atau dimundurkan sesaat pun.

Shalawat dan salam mari kita haturkan kepada junjungan kita, Nabi Muhammad saw. Semoga Allah memberkati beliau serta keluarga dan sahabatnya.

Selanjutnya, khatib mengingatkan bahwa hidup hanyalah sekejap, sedangkan kematian adalah pintu yang pasti kita masuki. Maka marilah kita gunakan sisa waktu ini untuk meningkatkan keimanan dan ketakwaan kepada Allah swt, dengan memperbanyak amal saleh yang bisa kita lakukan. Karena ia yang akan menjadi satu-satunya bekal yang akan kita bawa menuju akhirat.

Baja Juga  DPR Kritik Rencana Penggabungan Pelita Air dan Garuda, Ini Jawaban Danantara

Allah berfirman dalam Al-Qur’an:
“Bawalah bekal, karena sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa. Dan bertakwalah kepada-Ku wahai orang-orang yang mempunyai akal sehat.” (QS Al-Baqarah [2]: 197).

Tidak ada satu pun di antara kita yang tahu kapan ajal akan tiba. Tidak ada manusia yang bisa memastikan bahwa ia akan membuka matanya esok pagi, atau ia masih sempat pulang ke rumah sore nanti. Sebab kematian datang tanpa aba-aba dan tanpa pengingat waktu. Ia bisa menjemput di tengah tawa, di sela-sela rencana, atau bahkan di saat kita merasa paling sehat dan paling aman.

Allah berfirman dalam Al-Qur’an:
“Setiap umat mempunyai ajal (batas waktu). Jika ajalnya tiba, mereka tidak dapat meminta penundaan sesaat pun dan tidak dapat (pula) meminta percepatan.” (QS Al-A’raf, [7]: 34).

Dalam ayat yang lain, Allah berfirman bahwa ajal atau kematian akan datang dengan sebenar-benarnya, tanpa bisa dielakkan, tanpa bisa ditunda, dan tanpa bisa ditawar.

“Seketika itu, datanglah sakratulmaut dengan sebenar-benarnya. Itulah yang dahulu hendak engkau hindari.” (QS Qaf, [50]: 19).

Dua ayat di atas merupakan sebuah realitas yang tidak bisa kita bantah, bahwa cepat atau lambat, kematian akan datang menjemput. Kita mungkin bisa menghindari banyak hal dalam hidup, seperti kesusahan, kegagalan, bahkan musibah, tetapi tidak dengan kematian. Sebab ia adalah janji Allah yang pasti datangnya.

Baja Juga  Pratama Arhan Sibuk Berkembang di Bangkok, Gajinya Capai Miliaran

Ajal bisa datang kapan saja. Maka jangan tunggu esok untuk berbuat baik. Jangan tunda kebaikan dengan dalih menunggu waktu yang lebih lapang. Karena bisa jadi, waktu yang kita tunggu tidak akan pernah datang. Maka siapa yang hari ini hidup dalam semangat memberi dan berbuat baik, dialah yang sejatinya sedang mempersiapkan kematiannya dengan baik.

Demikian salah satu hikmah disembunyikannya waktu kematian menurut Syekh Muhammad Mutawalli asy-Syarawi, yaitu agar setiap manusia selalu mempersiapkan diri dengan senantiasa istiqamah dalam melakukan amal saleh dan perbuatan-perbuatan baik.

Karenanya, mari gunakan peran dan profesi kita masing-masing untuk menyiapkan bekal akhirat. Pegawai dan karyawan, bekerjalah dengan jujur, kerjakan tugas dengan amanah dan hindari manipulasi. Pejabat dan pemegang amanah, manfaatkan jabatan untuk melayani bukan mencari keuntungan pribadi. Petani dan buruh, niatkan setiap tetes keringat sebagai ibadah, karena rezeki yang halal datang dari kerja keras yang ikhlas.

Kemudian pedagang dan pelaku usaha, mari jujur dalam timbangan, jauhi riba, dan bahagiakan pembeli dengan pelayanan yang baik. Suami, jadilah pemimpin yang adil dan bertanggung jawab di rumah tangga. Jangan biarkan keluarga kehilangan arah. Istri, jadilah penyejuk dan penuntun dalam rumah. Karena kebaikan rumah tangga banyak bertumpu pada kelembutan dan kebijaksanaannya.

Termasuk juga para penjual jasa, guru, seniman, tukang ojek, penjahit, penulis, dan profesi lainnya, jangan remehkan pekerjaan sehari-hari. Selama diniatkan untuk Allah dan membawa manfaat, semua itu adalah amal yang besar nilai pahalanya di sisi Allah swt.

Baja Juga  Saham ASII dan Tren Otomotif 2025: Masih Jadi Pendorong Pertumbuhan?

Maka jika kita berada di salah satu pekerjaan di atas, mari jangan tunda untuk melakukan kebaikan melalui profesi masing-masing, karena sungguh merugi orang-orang yang hidupnya hanya untuk menunda amal saleh.

Itulah mengapa para ulama sangat takut menyia-nyiakan satu hari pun tanpa mengerjakan kebaikan. Bahkan ada yang selama tiga puluh tahun mempersiapkan diri untuk menghadapi kematian. Hal ini sebagaimana ditulis oleh Imam al-Ghazali dalam kitab Ihya Ulumiddin, jilid IV, halaman 456:

“Al-Qa’qa’ bin Hakim berkata, ‘Aku telah mempersiapkan diri untuk menghadapi kematian sejak tiga puluh tahun yang lalu. Maka andai saja kematian datang menjemputku sekarang, aku tidak akan ingin menunda satu urusan pun dari urusan yang lain.'”

Khutbah II

Segala puji bagi Allah yang telah menurunkan kitab kepada hamba-Nya untuk membawa manusia dari kegelapan menuju cahaya sepanjang zaman. Aku bersaksi bahwa tidak ada tuhan selain Allah, dan aku bersaksi bahwa Nabi Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya.

Sesudah itu, khatib memperingatkan kepada manusia untuk bertakwa kepada Tuhan dan berbicara dengan lembut dan tegas. Allah dan malaikat-Nya bershalawat kepada Nabi. Bagi yang beriman, marilah kita bershalawat kepada beliau.

Semoga khutbah ini menjadi peringatan yang menggugah hati kita, menjadi pelita yang menuntun langkah kita untuk senantiasa mempersiapkan bekal terbaik menuju kehidupan abadi. Amin ya rabbal alamin.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *