Kritik terhadap Menteri yang Dikuasai oleh Geng Solo
Seorang pengamat politik, Pangi Syarwi Chaniago, yang menjabat sebagai Direktur Voxpol Center Research and Consulting, mengeluarkan pernyataan tajam terkait kebijakan pemerintahan Presiden Prabowo Subianto. Ia menilai bahwa Presiden Prabowo seharusnya tidak lagi mempertahankan menteri-menteri yang dianggap sebagai warisan dari mantan Presiden Joko Widodo (Jokowi), yang dikenal dengan istilah “Geng Solo”. Menurut Pangi, loyalitas ganda atau apa yang disebut sebagai “matahari kembar” dalam pemerintahan tidak bisa diterima.
Isu “matahari kembar” sempat menjadi perbincangan beberapa waktu lalu, yang mengacu pada hubungan antara Prabowo dan Jokowi. Pangi menilai bahwa situasi ini menyebabkan ketidakjelasan dalam kepemimpinan negara. Selain itu, ia juga mengkritik bagaimana kekacauan dalam demonstrasi belakangan ini terjadi karena kurangnya kontrol terhadap intelijen dan aparat keamanan.
Pangi menjelaskan bahwa kekacauan saat ini mencerminkan kondisi negara yang lemah. Ia menegaskan bahwa masalah ini harus segera diselesaikan agar stabilitas dapat dipulihkan. Dalam sebuah wawancara di program Rakyat Bersuara di iNews, ia menyampaikan bahwa tidak semua pernyataan yang dikeluarkan oleh para menteri Geng Solo layak dianggap serius.
Beberapa pernyataan kontroversial yang dilontarkan oleh menteri-menteri tersebut menimbulkan kritik. Misalnya, ada menteri yang mengatakan bahwa seseorang akan lebih cepat meninggal jika memiliki ukuran pinggang tertentu. Ada juga yang menyatakan bahwa pendapatan di atas Rp15 juta membuat seseorang lebih pintar dan sehat. Pangi menilai hal-hal seperti ini tidak pantas diucapkan oleh seorang menteri.
Selain itu, Pangi juga menyebut adanya isu tanah yang tidak digunakan akan disita oleh negara, serta adanya konflik antar pulau yang disebabkan oleh Menteri Dalam Negeri. Ia juga mengkritik kebijakan tambang di Raja Ampat yang dinilai merusak ekosistem alam yang indah. Pernyataan-pernyataan ini menunjukkan ketidakpekaan menteri terhadap rakyat.
Pangi menyarankan agar Prabowo lebih waspada terhadap kebijakan yang diambil oleh menteri-menterinya. Ia menekankan bahwa tidak boleh ada kesetiaan ganda dalam pemerintahan. Lebih lanjut, ia menilai bahwa kemarahan rakyat saat ini berasal dari kebijakan menteri dan anggota DPR yang terus menaikkan tunjangan pejabat.
Perbedaan Antara Geng Solo dan Geng Kertanegara
Sementara itu, Muhammad Tri Andika, dosen Jurusan Ilmu Politik di Universitas Bakrie, menyebut adanya aroma ketegangan antara “kubu Solo” dan “kubu Kertanegara” setelah eks Wakil Menteri Ketenagakerjaan (Wamenaker) Immanuel Ebenezer atau Noel ditangkap oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Noel, yang merupakan pendiri Jokowi Mania, kelompok relawan pendukung mantan Presiden Jokowi, ditangkap karena diduga terlibat dalam kasus pemerasan terkait pengurusan sertifikat keselamatan dan kesehatan kerja (K3) di Kementerian Ketenagakerjaan (Kemnaker).
Andika mengatakan bahwa meskipun ketegangan antara Solo dan Jakarta belum sepenuhnya terlihat, aroma konflik sudah tercium. Ia menilai bahwa suasana konfliktual antara dua kubu ini pasti ada. Dalam wawancara di program Apa Kabar Indonesia di tvOne, Andika menegaskan bahwa ini adalah momen penting dalam dinamika politik nasional.




