Peran Klub dan I.League dalam Mengelola Suporter Sepak Bola Indonesia
Ketua Umum PSSI, Erick Thohir, memberikan pernyataan terkait kericuhan antar suporter yang terjadi setelah pertandingan PSIM Jogja melawan Persib Bandung. Ia menyoroti pentingnya klub-klub di Indonesia mampu mengendalikan para pendukungnya seperti yang dilakukan oleh Persija Jakarta, yang dikenal memiliki komunitas suporter yang sangat terorganisir.
Peristiwa kericuhan terjadi di luar Stadion Sultan Agung, Bantul, setelah pertandingan berakhir. Awalnya, insiden terjadi ketika bus rombongan suporter dari Bandung menabrak salah satu suporter PSIM di kawasan simpang empat Pingit, Yogyakarta, sekitar pukul 21.00 WIB. Meski kejadian ini telah diselesaikan dengan korban dibawa ke rumah sakit dan suporter Persib memberikan santunan sebesar Rp 2.500.000, informasi yang tidak lengkap menyebabkan kekacauan di beberapa titik lain. Namun, akhirnya situasi mereda tanpa korban jiwa.
Erick Thohir menjelaskan bahwa semua masalah yang terjadi dalam kompetisi Super League 2025/2026, termasuk isu suporter, menjadi tanggung jawab penuh dari klub dan I.League sebagai operator kompetisi. Menurutnya, PSSI sudah menyerahkan sepenuhnya tanggung jawab tersebut kepada lembaga tersebut.
“Tanya ke Liga (I.League), kan kita dari PSSI sudah menyerahkan secara penuh tanggung jawab ke I.League dan klub. Dan kami akan monitoring langkah-langkah apa yang dilakukan oleh I.League,” ujar Erick Thohir saat berbicara di Hotel Mulia, Senin (25/8) malam.
Ia juga menekankan bahwa PSSI ingin memastikan bahwa seluruh pemain dan suporter dapat pulang ke rumah dengan selamat. Oleh karena itu, ia menuntut agar I.League dan klub-klub bertanggung jawab atas keamanan di sekitar pertandingan.
Erick menegaskan bahwa hal ini sudah sering ia sampaikan kepada seluruh klub dan I.League. Selain itu, PSSI kini telah membentuk komite suporter yang berupaya untuk bekerja sama dengan para penggemar sepak bola.
Di samping itu, Erick menyebut Persija Jakarta sebagai contoh yang baik dalam mengelola suporternya. Ia memberikan apresiasi terhadap tindakan Persija yang mampu mengendalikan aksi para suporternya.
“Saya apresiasi kemarin dari Persija, melakukan self-control dengan suporternya, saya apresiasi. Saya berharap ya klub-klub di seluruh Indonesia mesti ada tadi kerjasama yang baik dengan suporternya,” ucap Erick Thohir.
Selain itu, Erick menyarankan agar I.League memiliki aturan yang lebih keras terkait perilaku suporter. Hal ini sesuai dengan petunjuk FIFA yang telah memberi peringatan. Ia juga menegaskan bahwa PSSI tidak boleh turun tangan dalam urusan suporter.
“I.League juga harus punya policy yang benar-benar keras dan sesuai dengan pembicaraan dengan PSSI, kan kita sudah warning. Bahkan dari FIFA sudah me-warning. Cuma ya itu yang kita bilang makanya kita keras dan saya akan intervensi I.League percaya saya,” katanya.
Erick menambahkan bahwa jika diperlukan, PSSI siap mengambil tindakan keras, seperti yang pernah dilakukan saat mengintervensi sistem VAR di Liga 1 dan Liga 2. Dengan intervensi tersebut, kualitas wasit meningkat secara signifikan.
“Ya kalau saya udah keras saya keras seperti PSSI mengintervensi Liga ketika VAR Liga 1 Liga 2 berhasil kita juga intervensi perwasitan dan terbukti perwasitan membaik ya tetapi kalau operasionalnya Liga harus bertanggung jawab gitu,” tutup Erick.




