bali.MediaPresisi.com, DENPASAR – Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) melakukan penilaian Kajian Lingkungan Hidup Strategis (KLHS) setelah terjadi banjir besar di beberapa daerah di Provinsi Bali.
Tindakan tersebut diambil setelah Menteri Lingkungan Hidup (LH) Hanif Faisol Nurofiq mengunjungi lokasi banjir yang terjadi di berbagai daerah diBali beberapa waktu lalu.
Penilaian dilakukan salah satu di antaranya terhadap beberapa DAS di Bali, termasukDAS Ayungyang kondisi penutupan lahan berada dalam keadaan darurat.
Berdasarkan evaluasi yang dilakukan, KLH menemukan bahwa perubahan tutupan lahan akibat alih fungsi lahan serta pengelolaan sampah menjadi salah satu penyebab terjadinya banjir di beberapa wilayah Bali, selain curah hujan yang tinggi.
Jadi, faktornya beragam, namun terkait dengan aspek kepatuhan lingkungan, tadi saya sampaikan bahwa kami sedang meneliti lebih lanjut.
Paling sedikit terdapat tiga faktor utama yang berkaitan dengan lingkungan.
Pertama mengenai perubahan fungsi lahan, penutupan lahan di daerah aliran sungai,” ujar Deputi Bidang Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan (PPKL) KLH/Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (BPLH) Rasio Ridho Sani yang dilaporkan oleh Antara.
Berdasarkan pendapat Rasio Ridho Sani, selain itu juga terdapat aktivitas yang tidak sesuai dengan rencana tata ruang, termasuk keberadaan bangunan di wilayah tepi sungai.
Selain itu, terdapat pula masalah pengelolaan limbah yang menjadi faktor tambahan.
Kami menemukan adanya limbah pasca banjir, hal ini juga mengindikasikan kemungkinan besar limbah-limbah tersebut masuk ke sungai-sungai.
Hal ini juga membuat banjir semakin memburuk,” kata Rasio Ridho Sani.
Hujan lebat terjadi di Bali antara tanggal 9 hingga 10 September 2025 dengan jumlah curah hujan mencapai 245,75 milimeter dalam sehari.
Curah hujan ini setara dengan 121 juta meter kubik air yang mengalir di DAS Ayung yang sedang menghadapi masalah penutupan hutan.
Situasi ini menyebabkan terjadinya banjir di daerah hulu seperti kawasan Denpasar.
Berdasarkan data Pemprov Bali, dari total luas kawasan DAS Ayung sebesar 49.500 hektare, hanya sekitar 1.500 hektare atau 3 persen yang masih terdiri dari hutan.
Meskipun secara ekologis hanya diperlukan sekitar 30 persen agar ekosistem dapat beroperasi secara optimal.
Oleh karena itu, diperlukan perbaikan kembali lahan yang ada di DAS Ayung serta beberapa DAS lainnya. (lia/JPNN)




