Mata Saya Sulit Dibuka, namun Saya Mampu Mendengar Teman-Teman Mata Saya Tidak Bisa Dibuka, tapi Saya Masih Bisa Mendengar Sahabat-Sahabat Mata Saya Sulit Terbuka, tetapi Saya Bisa Mendengar Kawan-Kawanku Mata Saya Tidak Mudah Terbuka, namun Saya Bisa Mendengar Teman-Teman Mata Saya Sulit Dibuka, tapi Saya Masih Bisa Mendengar Rekan-Rekan
M. Zainal Ali Abidin pingsan selama satu jam di bawah reruntuhan dan sadar ketika tim penyelamat mengangkatnya. Syehlendra Haical Raka tertimbun selama dua hari dan tidak mengalami patah tulang atau cedera parah lainnya.
Ahmad Rezatriya, Sidoarjo
Tulang ekor M.Zainal Ali Abidin masih terasa nyeri. Sementara itu, kepalanya mengalami gegar otak ringan. Kemarin (1/10), santri dari Pondok Pesantren (Ponpes) Al-Khoziny masih berada di kamar perawatan inap Mawar Kuning RSUD RT Notopuro Sidoarjo, Jawa Timur.
Ibu kandungnya, Siti Fatimah, berada di samping tempat tidurnya. “Alhamdulillah, Ali ditemukan dalam keadaan selamat. Ini adalah anak pertama saya, sebenarnya adiknya juga tinggal di sana, tetapi hari itu dia berada di rumah karena mengalami sakit perut,” ujar wanita berusia 41 tahun tersebut kepadaJawa Pos.
Hari yang dimaksud oleh Siti adalah Senin (29/9), sekitar pukul 14.30, ketika Ali bersama santri lainnya melaksanakan salat Asar berjamaah di musala pondok pesantren. Musala pondok pesantren yang terletak di Buduran, Sidoarjo, memiliki tiga lantai, dengan dua di antaranya digunakan untuk kegiatan.
Lantai tiga sedang dalam proses pengerjaan. Shalat dilaksanakan di lantai satu. “Posisi saya paling kanan (utara) dari bangunan,” ujar Ali yang duduk di kelas XIMAN Al-Khoziny.
Saat ruku’ pada rakaat kedua, remaja berusia 17 tahun mendengar suara seperti batu yang jatuh, dua–tiga kali. Sejumlah temannya yang ikut berjamaah spontan kabur.
“Cuma saya nggak merasa begitu ya karena saya kira hanya runtuhan molen cor yang jatuh,” paparnya.
Ali salah menduga. Sekejap kemudian atap runtuh dan menimpanya. ”Badan saya terjepit dan kemudian tidak ingat apa-apa lagi,” katanya.
Sadar saat Dievakuasi
Sekitar sejam lamanya Ali tertimbun di bawah reruntuhan dalam kondisi pingsan. Dia baru sadar bahwa dirinya habis tertimpa reruntuhan saat diangkat tim penyelamat. Itu pun dia masih kesulitan membuka mata. Saya tidak mampu membuka mata, tapi telinga saya dengar suara teman-teman saya,” kata warga Peneleh, Surabaya,itu.
Tim penyelamat segera melarikannya ke ambulans. ”Saya hanya bisa beristighfar,” katanya.
Sampai pukul 17.00 kemarin (1/10), telah tercatat 102 korban berhasil dievakuasi dari balik puing musala. Tapi, empat di antaranya kemudian meninggal. Belum semua santri yang tertimbun terevakuasi. Termasuk Suwaifi, anak Sholehudin, warga Bangkalan. ”Saya bolak-balik baca yang sudah dievakuasi, tapi tidak ada anakku,” kata pria berusia 46 tahun tahun itu.
”Kenapa nggak langsung pakai alat berat, saya telah menerima apapun kondisi anak saya, biar seluruh anggota keluarga yang ada di sini lega,” lanjutnya.
Ali sendiri sudah sejak SD bersekolah di Pondok Pesantren Al-Khoziny. “Sebenarnya (Senin)” malam itu saya rencananya mau mengunjungi anak saya, tetapi ternyata ada peristiwa tersebut, dan saya tiba hanya bisa berdoa ke lokasi agar dia selamat,” ujarnya dengan nada getir.
Meski masih terbaring di ruang perawatan, kondisi Ali terus membaik. Siti mengapresiasi gerak cepat Bagus Sulistiono, dokter spesialis bedah saraf di Rumah Sakit Umum Daerah RT Notopuro yang menangani sang buah hati. ”Alhamdulillah, setiap hari dicek kondisinya,” katanya.
Lemas, tapi Masih Bicara
Bendungan di kedua mata Abdul Hawi ambrol kala sang anak, Syehlendra Haical Raka, berhasil dievakuasi dengan selamat kemarin setelah dua hari tertimbun di bawah reruntuhan. ”Alhamdulillah, ini doa yang sebelumnya kami panjatkan, di rumah dan di posko informasi,” kata pria asal Probolinggo, Jawa Timur, itu sembari terus mengusap matanya di IGD RSUD RT Notopuro.
Haical dan santri lainnya yang juga tertimbun, Yusuf, sebelumnya tercatat berkomunikasi dengan tim penyelamat saat masih di bawah puing. Video percakapan tersebut tersebar ke berbagai platform.
Kemarin, kata Hawi, sang anak berusia 14 tahun tersebut juga masih bisa berbicara meski kondisinya lemas. Kabar baik lainnya, dia tidak mengalami patah tulang atau luka parah lainnya. ”Mudah-mudahan, Haical bisa segera pulih dan pulang,” ujar Hawi sembari terus menangis bahagia. (*/ttg)




