Suasana Haru dalam Rapat Konsolidasi Komisi IV DPRD Provinsi Bengkulu
Rapat konsolidasi yang diadakan oleh Komisi IV DPRD Provinsi Bengkulu pada Rabu (20/8/2025) berlangsung dengan suasana penuh haru. Banyak orang tua siswa SMA Negeri 5 Kota Bengkulu tidak bisa menahan air mata saat menceritakan nasib anak-anak mereka yang tiba-tiba dinyatakan tidak terdaftar di Data Pokok Pendidikan (Dapodik).
Sebanyak 72 siswa SMAN 5 Kota Bengkulu sebelumnya telah diterima melalui jalur SPMB, melakukan daftar ulang, mengikuti Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS), dan belajar selama sebulan penuh. Namun, mereka kemudian dinyatakan tidak memiliki Dapodik, sehingga dianggap tidak terdaftar resmi di sekolah dan diminta mencari sekolah lain.
Akibatnya, 42 orang tua dari 72 siswa tersebut mengadukan nasib anaknya ke Komisi IV DPRD Provinsi Bengkulu. He, salah satu orang tua siswa, mengungkapkan kekecewaannya atas keputusan yang merugikan anaknya. Anaknya sering menangis dan sempat jatuh sakit akibat insiden ini.
“Anak saya menangis, tidak mau sekolah, malu, bahkan sampai dirawat di rumah sakit,” ujar He sambil meneteskan air mata saat rapat konsolidasi tertutup di DPRD Provinsi Bengkulu, Rabu (20/8/2025). Dijelaskannya, awalnya anaknya sangat bahagia bisa diterima di SMAN 5 Kota Bengkulu karena sejak SMP telah mendambakan sekolah tersebut.
Kisruh ini tidak hanya menimbulkan tekanan psikologis, tetapi juga berdampak pada kesehatan siswa dan orang tua. Seorang ibu mengaku anaknya jatuh sakit setelah mengetahui tidak tercatat di Dapodik. Sang ibu pun ikut terguncang hingga harus dirawat di rumah sakit. “Anak kami sakit, saya juga sakit. Psikis anak saya benar-benar terguncang. Padahal sudah sebulan belajar, sudah punya teman baru,” ujarnya lirih.
Bentuk Tim Khusus untuk Menyelesaikan Masalah
Dalam rapat konsolidasi ini, Komisi IV DPRD Provinsi Bengkulu bersama pihak sekolah, Dinas Dikbud Provinsi Bengkulu, dan wali murid sepakat membentuk tim khusus untuk menangani kasus tersebut. Tim ini juga akan mencarikan sekolah terdekat dari alamat siswa dan menyesuaikan kuota untuk Rombongan Belajar (Rombel).
Anggota DPRD Provinsi Bengkulu, Sri Astuti, menjelaskan bahwa tim ini terdiri dari perwakilan berbagai pihak agar keputusan yang diambil lebih adil. “Tim ini kita bentuk dengan komposisi 2 orang dari Komisi IV, 2 orang dari wali murid, 2 orang dari Dinas Pendidikan, dan 2 orang dari pihak sekolah,” kata Sri Astuti.
Menurutnya, tim tersebut akan bekerja dengan mendata alamat para siswa dan mencarikan sekolah terdekat yang masih memiliki kuota. “Misalnya kalau rumahnya dekat SMA 8 tapi sudah penuh, maka bisa diarahkan ke sekolah lain seperti SMA 9 yang kuotanya masih tersedia. Itu solusi yang paling realistis,” jelasnya.
Tindakan Lanjutan dan Penyelidikan
Komisi IV DPRD Provinsi Bengkulu bersama pihak terkait sepakat membentuk tim khusus untuk menangani kasus tersebut. Hal ini terungkap usai rapat konsolidasi tertutup dengan pihak sekolah dan Dikbud Provinsi Bengkulu, yang juga diikuti oleh wali murid 42 siswa, Rabu (20/8/2025).
Selain itu, Komisi IV merekomendasikan kepada Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Bengkulu untuk melakukan audit menyeluruh, baik terhadap sistem maupun kemungkinan adanya oknum. Usin Abdisyah Putra Sembiring, Ketua Komisi IV DPRD Provinsi Bengkulu, menjelaskan bahwa para orang tua siswa lebih banyak berhubungan dengan S, selaku operator dan panitia Seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru (SPMB), dibandingkan dengan ketua panitia resmi penerimaan siswa baru.
Solusi untuk Siswa yang Terdampak
Sementara itu, Kepala SMA Negeri 5 Kota Bengkulu, Bihanudin, menegaskan masalah Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) tersebut murni akibat kesalahan teknis sistem dan kelalaian operator, bukan karena unsur kesengajaan maupun permainan. Ia menjelaskan, sejumlah laporan terkait siswa cadangan maupun pengumuman error dipicu oleh gangguan pada sistem aplikasi.
Dari 42 siswa yang terdampak, sebagian sudah dipindahkan ke sekolah lain. Namun, Bihanudin menegaskan status “cadangan” bukan berarti otomatis diterima. “Cadangan itu artinya masih menunggu, bukan berarti sudah diterima. Kalau ada yang salah mengartikan, itu murni kesalahan panitia,” tegasnya.
Pihak sekolah dan dinas tengah mengumpulkan data riil siswa yang belum tertampung untuk dipetakan ke sekolah-sekolah yang masih memiliki kuota. “Prinsipnya, solusi terbaik tetap untuk anak-anak,” pungkasnya.




