Gempa Bumi di Kabupaten Bekasi: Penyebab dan Dampak yang Terjadi
Gempa bumi berkekuatan magnitudo 4,7 yang terjadi di Kabupaten Bekasi, Jawa Barat, pada Rabu (20/8/2025) mengakibatkan kerusakan pada sejumlah bangunan di wilayah Karawang. Berdasarkan data dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), beberapa struktur bangunan mengalami kerusakan akibat guncangan yang terasa hingga Jakarta.
Direktur Gempabumi dan Tsunami dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Daryono menjelaskan bahwa gempa tersebut dipicu oleh segmen Citarum, bukan Sesar Baribis seperti yang diberitakan sebelumnya. Ia menegaskan bahwa lokasi Sesar Baribis berada di dekat wilayah Kuningan, Jabar, sedangkan lokasi gempa semalam tidak berada di area tersebut.
“Episenternya gempa semalam ada di selatan segmen Citarum karena West Java Back Arc Thrust itu dipping ke arah selatan,” ujar Daryono saat dikonfirmasi. Hal ini menunjukkan bahwa gempa bumi yang terjadi memiliki mekanisme pergerakan yang berbeda dengan aktivitas sesar Baribis.
Selain itu, pihak BMKG juga menyampaikan bahwa gempa bumi ini tidak menyebabkan tsunami karena pusat gempa berada di darat. Getaran gempa dirasakan masyarakat di beberapa daerah, antara lain skala III MMI di Purwakarta dan Bekasi, II–III MMI di Jakarta, Depok, Kota Tangerang, Tangerang Selatan, serta Pelabuhan Ratu.
Kerusakan Bangunan Pasca-Gempa
Salah satu bangunan yang mengalami kerusakan adalah SDN Kutamaneuh 2 di Kecamatan Tegalwaru, Kabupaten Karawang. Sejumlah ruangan sekolah mengalami kerusakan ringan, termasuk plafon yang jatuh. Meskipun tidak ada korban jiwa, sekitar 26 rumah rusak ringan, terutama rumah-rumah tua yang tidak memiliki struktur tahan gempa.
Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Letjen TNI Suharyanto, memastikan bahwa tidak ada kerusakan berat akibat gempa tersebut. Ia menambahkan bahwa BNPB telah menerjunkan tim untuk memantau kondisi pasca-gempa dan siap memberikan bantuan jika diperlukan.
Upaya Mitigasi dan Kewaspadaan Masyarakat
Meski gempa tidak menyebabkan dampak besar, Daryono tetap mengimbau masyarakat untuk tetap waspada terhadap potensi gempa bumi yang bisa terjadi sewaktu-waktu. Beberapa langkah mitigasi yang dapat dilakukan antara lain:
- Memastikan bangunan tahan gempa atau ramah gempa.
- Menata isi rumah agar tidak berbahaya saat diguncang gempa.
- Menyiapkan perabotan dan furniture sebagai tempat berlindung saat gempa kuat.
- Melakukan latihan evakuasi yang aman setelah guncangan.
- Mengetahui cara selamat dan bertindak saat gempa terjadi.
Analisis Batuan dan Potensi Guncangan
Badan Geologi Kementerian ESDM, Muhammad Wafid, menjelaskan bahwa lokasi pusat gempa berada di darat dengan morfologi wilayah terdekat didominasi oleh dataran, berombak, dan bergelombang hingga pegunungan. Litologi penyusun wilayah ini terdiri atas batuan sedimen berumur Tersier, batuan gunung api berumur Kuarter, serta endapan aluvium berumur Resen.
Keberadaan kelas tanah yang lebih lunak di sekitar pusat gempa berarti potensi guncangan gempa bumi di area tersebut bisa terasa lebih intens. Wilayah terdekat dengan pusat gempa diklasifikasikan ke dalam kelas tanah C, D, dan E, yang menunjukkan variasi tingkat kepadatan tanah.
Informasi Tambahan tentang Gempa
BMKG mendeteksi gempa bumi dengan magnitudo 4,7 yang berpusat di darat sekitar 14 kilometer tenggara Kabupaten Bekasi, Jawa Barat, pada pukul 19.54 WIB. Pusat gempa berada pada koordinat 6,48 lintang selatan dan 107,24 bujur timur dengan kedalaman 10 kilometer. Getaran gempa dirasakan masyarakat di sejumlah daerah, antara lain skala III MMI di Purwakarta dan Bekasi, II–III MMI di Jakarta, Depok, Kota Tangerang, Tangerang Selatan, dan di Pelabuhan Ratu.




