Penurunan Kualitas Beras Bulog dan Tantangan yang Dihadapi
Pengamat pertanian Syaiful Bahari menyampaikan bahwa kualitas beras yang disimpan di gudang Perum Bulog saat ini mengalami ancaman penurunan mutu. Hal ini dipicu oleh program serap gabah dengan harga Rp6.500 per kilogram (kg). Program ini dinilai memiliki kelebihan, namun juga menimbulkan tantangan terkait pengawasan kualitas.
Syaiful menjelaskan bahwa program serap gabah berperan penting dalam membangkitkan kembali industri penggilingan padi kecil dan menengah yang sebelumnya kalah bersaing dengan penggilingan besar. Meski begitu, ia menilai bahwa program ini tidak diiringi dengan kontrol kualitas yang ketat. Sebagian besar penggilingan kecil tidak memiliki teknologi pengeringan gabah dan mesin penggilingan modern, sehingga hasil produksi beras mereka cenderung lebih rendah kualitasnya dan tidak bisa disimpan dalam jangka panjang.
Menurut Syaiful, tantangan utama bagi pemerintah dan Bulog adalah mengintegrasikan program serap gabah dengan modernisasi penggilingan padi kecil. Dengan demikian, para penggiling kecil dapat meningkatkan kualitas beras yang dihasilkan. Ia menyoroti bahwa penggilingan besar lebih diuntungkan dari program ini karena kemampuan mereka memenuhi standar beras Bulog. Mereka juga bisa menyimpan beras Bulog dengan pembayaran yang baik dan membeli kembali jika harga pasar naik.
Syaiful menekankan perlunya peninjauan mendalam terhadap seluruh aspek program serap gabah agar negara tidak merugi, sekaligus melindungi petani dan industri penggilingan rakyat.
Selain itu, masalah kualitas beras juga berdampak pada distribusi beras, terutama beras Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP). Keberadaan beras berkualitas rendah menimbulkan keraguan di kalangan pemangku kepentingan untuk melakukan penyaluran, mengingat risiko protes masyarakat.
Sebelumnya, Anggota Ombudsman RI Yeka Hendra Fatika menyampaikan bahwa 300.000 ton beras di gudang Bulog berpotensi menimbulkan kerugian hingga Rp4 triliun jika menjadi tidak layak konsumsi. Ia menyebut bahwa stok tersebut diduga tidak hanya beras impor dari tahun lalu, tetapi juga gabah yang diserap Bulog.
Direktur Utama Bulog Ahmad Rizal Ramdhani menanggapi isu ini dengan menyatakan bahwa kondisi beras di gudang Bulog saat ini masih baik. Ia menekankan bahwa pemeliharaan stok dilakukan secara berkala, termasuk pemeliharaan harian, mingguan, bulanan, triwulan, dan semester.
Rizal juga menjelaskan bahwa stok beras dari aktivitas impor tahun lalu masih tersedia, namun penyaluran terus dilakukan sesuai kebutuhan masyarakat. Menurutnya, beras tersebut merupakan bagian dari program bantuan pangan yang telah disalurkan hingga Juli 2025.
Saat ini, penyaluran beras bantuan pangan pemerintah mencapai 99%, sementara 1% sisanya ditujukan untuk daerah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T). Rizal menyebut bahwa daerah-daerah rawan konflik seperti Papua Pegunungan juga sedang diupayakan melalui satgas-satgas yang ada di lapangan.




