Ari Junaedi Kritik Penonaktifan Deddy Yevri Sitorus PDIP, Bandingkan dengan Kasus Ahok

Tindakan Penonaktifan Anggota DPR Dinilai Tidak Adil

Direktur Lembaga Kajian Nusakom Pratama, Ari Junaedi menyampaikan pandangan terkait tindakan penonaktifan terhadap beberapa anggota DPR seperti Ahmad Sahroni, Adies Kadir, Uya Kuya, Nafa Urbach, dan Eko Patrio. Menurutnya, tindakan tersebut dianggap sebagai konsekuensi dari perbuatan yang dinilai menyakiti hati masyarakat.

Ari Junaedi, seorang ahli komunikasi politik dengan gelar doktor, juga menekankan bahwa perilaku para anggota DPR tidak bisa disamaratakan. Ia menyoroti khususnya kasus Deddy Yevri Sitorus, anggota DPR dari Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP), yang juga dikabarkan akan dinonaktifkan.

Deddy Yevri Sitorus menjadi sorotan setelah video pernyataannya di sebuah stasiun televisi swasta viral di media sosial. Video tersebut dianggap membandingkan DPR dengan rakyat jelata. Namun, Ari menegaskan bahwa pernyataan Deddy disampaikan jauh sebelum aksi-aksi besar unjuk rasa terjadi. Ia menilai, ada upaya untuk memotong video secara sengaja agar informasi yang disampaikan terkesan tidak sesuai dengan konteks aslinya.

Baja Juga  5 Fakta Mengejutkan Kepala Cabang Bank BUMN Diculik dan Dibunuh, Pelaku Ditangkap di Bandara NTT

“Mirip dengan kasus pernyataan Ahok yang dipenggal sehingga menimbulkan misinformasi di masyarakat,” ujar Ari.

Selain itu, Ari juga mengungkap bahwa Deddy Yevri Sitorus tidak terlihat sedang berjoget usai pidato tahunan Presiden Prabowo di MPR. Namun, ia tetap mendapat serangan masif di media sosial. Ari menjelaskan bahwa pernyataannya justru dipotong dan dikaitkan dengan konteks yang berkembang saat ini.

Deddy Yevri Sitorus Dikenal oleh Masyarakat

Sebagai seorang pakar komunikasi politik dari The London School of Public Relations (LSPR Communication & Business Institute), Ari menekankan bahwa Deddy Yevri Sitorus sangat dikenal di daerah pemilihannya karena kepeduliannya terhadap masyarakat. Ia sering melakukan kunjungan ke berbagai daerah, termasuk Tarakan, Tanjung Selor, dan pedalaman Kalimantan Utara.

Menurut Ari, warga di Kecamatan Lumbis dan Krayan di Kabupaten Nunukan atau Kayan hingga Bahau Ulu di Kabupaten Malinau sangat merasakan bantuan dan kepedulian Deddy. Misalnya, ketika warga kesulitan mendapatkan listrik atau tabung gas melon, Deddy selalu sigap membantu tanpa pamrih.

Baja Juga  Ramalan Zodiak Karier Hari Ini: Gemini Totalitas, Libra Dapat Peluang Baru

Di wilayah lain, seperti Sesayap Hilir hingga Betayau di pedalaman Kabupaten Tana Tidung, masyarakat juga sangat mengandalkan bantuan dari Deddy ketika menghadapi kesulitan pendidikan atau pengobatan. Ari menilai, Deddy memiliki sifat yang kritis, mudah iba, dan rajin membantu orang tanpa memandang suku, agama, atau golongan.

Pemilu Legislatif 2024: Deddy Mengungguli Rekan

Pada pemilu legislatif 2024, Deddy Yevri Sitorus berhasil meraih suara jauh lebih banyak dibandingkan Immanuel Ebenezer di Dapil Kalimantan Utara. Ari menilai, masyarakat tidak terpukau oleh gaya kampanye yang penuh uang atau serbuan sembako, melainkan oleh kepedulian dan ketulusan Deddy di daerah perbatasan dan daerah miskin Kaltara.

Ari menegaskan bahwa keberadaannya di Kaltara tidak terkait dengan kepentingan politik Deddy. Justru, hal tersebut terkait dengan kepentingan pemerintah daerah yang kerap berselisih dengan Deddy Yevri Sitorus.

Baja Juga  Perang Rusia-Ukraina Hari ke-1.291: Serangan ke Fasilitas Energi, Kyiv Janjikan Balasan, Abaikan Kritik

Respons Fraksi PDIP

Sebelumnya, Fraksi PDI Perjuangan (PDIP) DPR RI menyampaikan permintaan maaf kepada publik jika anggotanya, yakni Deddy Sitorus dan Sadarestuwati, melakukan kesalahan dan kekhilafan. Hal ini disampaikan oleh Anggota DPR RI F-PDIP Said Abdullah sebagai respons atas sorotan publik terhadap Deddy dan Sadarestuwati.

Deddy Sitorus dipersoalkan setelah potongan video pernyataannya di salah satu televisi swasta dinilai membandingkan DPR dengan rakyat jelata. Sementara itu, Sadarestuwati mendapat kritik karena ikut berjoget dalam acara Sidang Tahunan MPR/DPR/DPD bersama anggota DPR Fraksi PAN, Surya Utama (Uya Kuya), dan Eko Hendro Purnomo (Eko Patrio).

Said Abdullah menyampaikan permintaan maaf atas nama Pak Deddy Sitorus dan Ibu Sadarestuwati, dengan segala kerendahan hati. Hingga kini, DPP PDIP belum menentukan sikap atas dugaan pelanggaran etik yang dilakukan oleh kedua anggota tersebut. Said menilai, DPP akan menelaah persoalan ini secara menyeluruh.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *