Cara Menuju Makam Ki Ageng Balak di Sukoharjo: Rute dan Transportasi Lengkap

Destinasi Wisata Religi yang Menarik Perhatian Pengunjung

Makam Ki Ageng Balak yang berada di Desa Mertan, Kecamatan Bendosari, Kabupaten Sukoharjo, menjadi salah satu tempat yang menarik minat para pengunjung. Tempat ini tidak hanya memiliki nilai sejarah yang kaya tetapi juga nuansa religi yang kuat, sehingga sering dikunjungi oleh para peziarah dan wisatawan.

Lokasi makam ini terletak di bagian timur Kabupaten Sukoharjo. Meskipun jauh dari pusat kota, akses menuju tempat ini cukup mudah. Dengan menggunakan kendaraan pribadi, waktu tempuh hanya sekitar 10 menit dari Kota Sukoharjo dan 30 menit dari Kota Solo. Jaraknya sekitar 5 kilometer dari pusat kota Sukoharjo dan 10 kilometer dari Kota Solo.

Area parkir yang luas tersedia untuk berbagai jenis kendaraan, baik roda dua maupun roda empat. Hal ini memudahkan para pengunjung dalam mengakses lokasi. Bagi wisatawan yang berasal dari luar daerah, ada beberapa opsi transportasi yang bisa dipilih.

Baja Juga  Jadwal Maulid Nabi 2025 dan Kisah Singkatnya

Salah satu pilihan adalah menggunakan Bus Batik Solo Trans (BST) Jateng rute Solo–Sukoharjo–Wonogiri dengan tarif Rp4.000. Penumpang dapat turun di Terminal Sukoharjo, kemudian melanjutkan perjalanan menggunakan ojek pangkalan atau ojek daring dengan biaya antara Rp20.000 hingga Rp30.000. Opsi lainnya adalah menyewa sepeda motor di Kota Solo dengan harga mulai dari Rp50.000 per hari, tergantung jenis kendaraan.

Kepala Dinas Pemuda, Olahraga, dan Pariwisata (Disporapar) Sukoharjo, Setyo Aji Nugroho, menyampaikan bahwa saat ini belum ada transportasi umum yang langsung menuju makam Ki Ageng Balak. “Wisatawan biasanya menggunakan kendaraan pribadi seperti sepeda motor dan minibus,” ujarnya.

Dengan daya tarik sejarah dan nuansa religi yang kental, Makam Ki Ageng Balak terus menjadi destinasi yang diminati oleh masyarakat lokal maupun wisatawan dari luar daerah. Makam yang tertutup kain putih ini diyakini sebagai tempat peristirahatan terakhir Ki Ageng Balak, sosok yang dikenal sebagai Raden Sujono, putra Prabu Brawijaya V dari Kerajaan Majapahit.

Baja Juga  Jangan Benarkan Perampasan, Hengky Kurniawan: Fokus pada Tujuan Utama

Juru kunci makam Ki Ageng Balak, Sumarno (83), menjelaskan bahwa cerita tentang Ki Ageng Balak telah diwariskan secara turun-temurun dari leluhurnya. Ia mendapatkan cerita tersebut dari mbah buyutnya, yang dikatakan pernah bertemu dengan Ki Ageng Balak.

Cerita tentang makam ini dimulai dari perselisihan keluarga kerajaan Majapahit. Saat itu, Raden Sujono tidak sejalan dengan pola pikir ayahandanya, Prabu Brawijaya. Perselisihan ini membuatnya meninggalkan Majapahit bersama dua pengawal setia, Tumenggung Simbarjo dan Tumenggung Simbarjoyo.

Dalam perjalanannya, mereka tiba di wilayah yang kini dikenal sebagai Desa Mertan, yang pada masa itu masih berupa hutan dan pegunungan. Di sinilah buyut Sumarno bertemu dengan sosok tinggi besar yang mengaku sebagai Raden Sujono. Awalnya, beliau mengajak berbicara, tetapi ketika mbah buyut menoleh sejenak, sosok itu menghilang.

Baja Juga  Harga Emas Antam Turun Rp12 Ribu Per Gram, Buyback Ikut Terkoreksi

Beberapa waktu kemudian, buyut Sumarno kembali dipanggil dan mendapat pesan untuk merawat tempat tersebut. Raden Sujono berjanji bahwa jika tempat ini dibersihkan dan dijaga, anak cucu mbah buyut akan diberi kemudahan mencari sandang pangan. Untuk menyamarkan identitasnya dari pihak kerajaan, Raden Sujono kemudian dikenal dengan nama Ki Ageng Balak yang berarti penolak bala.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *