mediapresisi.com, JAKARTA – Kisah nyata penganiayaan David Ozora yang sempat mengguncang publik beberapa waktu silam diangkat ke layar lebar.
Penggarapan film ini dipercayakan kepada duo sutradara Umbara Brothers, yakni Anggy Umbara dan Bounty Umbara.
Proyek ini sekaligus menjadi ajang reuni bagi kakak-beradik tersebut setelah sekian lama tidak menyutradarai film bersama.
Terkait kolaborasi penyutradaraan ini, Anggy menjelaskan latar belakang penyatuan visi mereka dalam menggarap film yang sarat emosi tersebut.
“Ide awal film ini memang lahir dari Bounty, namun ketika pertama kali merencanakan proyek ini, kami sudah sangat memiliki ceritanya dan sepakat untuk menyutradarainya bersama-sama,” jelas Anggy di kawasan Kuningan, Jakarta Selatan, baru-baru ini.
Produksi film ini melibatkan kolaborasi besar antara Umbara Brothers Film dengan sejumlah studio lain.
Sederet aktor dan aktris papan atas Indonesia dipastikan turut membintangi film ini.
Nama-nama besar, seperti Chicco Jerikho, Muzakki Ramdhan, Erdin Werdrayana, Tika Bravani, Donny Damara, Annisa Kaila, hingga Mathias Muchus ambil bagian dalam jajaran pemain.
Secara garis besar, film Ozora: Penganiayaan Brutal Penguasa Jaksel menceritakan perjuangan Jonathan menghadapi mimpi terburuknya.
Putranya, David Ozora, mengalami koma akibat penganiayaan brutal yang dilakukan oleh anak seorang pejabat tinggi negara.
Saat kasus ini menjadi viral, Jonathan didampingi dua sahabat setianya, Melissa dan Rustam, berjuang untuk terus berupaya menegakkan keadilan bagi putranya.
Perjuangan mereka menghadapi tantangan berat karena harus berhadapan dengan sistem hukum yang terasa timpang.
Sang pelaku justru mendapatkan bantuan dan keringanan karena pengaruh jabatan ayahnya yang mengaku sebagai penguasa Jakarta Selatan.
Pihak produksi menegaskan bahwa film ini bukan sekadar rekonstruksi kriminal semata.
Lebih jauh, film ini bagian dari interpretasi yang memperlihatkan dampak mendalam dari bullying dan kekerasan terhadap korban serta orang-orang di sekitarnya.
Anggy menekankan film ini juga menyoroti aspek spiritual, dengan memperlihatkan cara mukjizat bekerja di tengah situasi yang nyaris mustahil.
“Banyak masyarakat yang tidak tahu bagaimana perjalanan psikologis bahkan spiritual seorang ayah yang melihat anaknya menjadi korban bullying dari seorang anak pejabat negara sampai harapan hidupnya hanya dua persen. Jadi dalam film ini juga akan mengangkat soal harapan dan mujizat Tuhan,” jelas Anggy.
Fokus utama cerita akan mengikuti perjalanan emosional Jonathan yang diperankan oleh Chicco Jerikho.
Chicco mengakui karakter ini memiliki tingkat kesulitan yang tinggi dan sangat menguras energi.
Chicco mengungkapkan tantangan berat yang dirasakan selama proses syuting berlangsung, terutama dalam menjaga emosinya agar sesuai dengan karakter asli.
“Meski bukan film action yang berantem-berantem, rasanya bermain di film ini dan memerankan karakter Jonathan sangat melelahkan,” ujar Chicco.
Chicco mengaku dirinya memiliki kedekatan dengan kasus bully yang dialami David Ozora.
Suami Putri Marino tersebut dapat merasakan beratnya menghadapi cobaan hidup.
“Perasaan emosional itulah yang membuat saya harus benar-benar mengatur emosi agar tetap berada di frekuensi Jonathan pada kejadian aslinya,” tutur Chicco Jerikho.
Mengusung genre drama, thriller, dan kriminal, film Ozora: Penganiayaan Brutal Penguasa Jaksel diharapkan menjadi pengingat bagi masyarakat luas atas kasus perundungan yang pernah terjadi.
Film produksi Umbara Brothers Film ini siap menyapa penonton di bioskop pada 4 Desember nanti. (mcr31/jpnn)




