“Kepala BNPB melaporkan dan meminta tambahan personel, baik TNI maupun Polri, khususnya di beberapa wilayah di Aceh yang memang masih banyak tergenang lumpur,” kata Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi.
Prasetyo mengatakan, Presiden Prabowo juga menaruh perhatian pada berbagai persoalan yang menjadi bagian dari evaluasi penanganan bencana Sumatra. Evaluasi itu menyangkut isu lingkungan, penertiban kawasan hutan, perizinan pertambangan, serta aktivitas usaha di bantaran sungai.
“Itu menjadi perhatian dari Bapak Presiden yang tadi disampaikan kepada jajaran terkait, baik gubernur, wakil gubernur, dan para bupati,” kata Prasetyo.
Dalam kesempatan itu, Prasetyo turut menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang terlibat dalam penanganan bencana, termasuk BNPB, TNI, Polri, Basarnas, pemerintah daerah, serta masyarakat yang bekerja sama dalam upaya pemulihan kondisi di wilayah terdampak.
“Yang bahu-membahu bekerja sama, bekerja keras untuk segera mengatasi keadaan dan kembali menjalani kehidupan kita dengan sebaik-baiknya,” kata Prasetyo, seperti dilansir Kantor Berita Antara.
Presiden Prabowo Subianto pun menargetkan, pembangunan hunian sementara bagi warga terdampak bencana di Desa Salareh Aia, Kabupaten Agam, Sumatra Barat, akan rampung dalam satu bulan. Pemerintah akan terus memantau dan memikirkan langkah-langkah yang harus dilakukan untuk memperbaiki kondisi masyarakat terdampak bencana.
“Kita mampu mengatasi semua bersama-sama. Kalian semua tidak sendiri, kita semua memikirkan setiap hari bagaimana kita bisa memperbaiki keadaan saudara-saudara,” ucap Presiden.
Di Sumatra Barat, Prabowo meninjau pemulihan jalur darat di sekitar Lembah Anai, Kabupaten Tanah Datar. Di lokasi terdampak longsor itu, Presiden Prabowo didampingi oleh Wakil Menteri Pekerjaan Umum Diana Kusumastuti.
Presiden Prabowo langsung diarahkan untuk menyimak paparan dari Kementerian Pekerjaan Umum mengenai rencana perbaikan dan pemulihan jalur darat di sekitar Lembah Anai, yang merupakan jalur nasional penghubung Padang-Bukittinggi. Tidak hanya itu, Presiden juga menerima paparan mengenai perbaikan jalur darat ruas Padang Pajang-Sicincin segmen KM 61+600-KM 67+400, kemudian akses jalan di Malalak.
Di tepian aliran sungai dekat posko, Presiden kemudian memberikan instruksi kepada jajarannya. Di sekitar posko, sejumlah alat berat terlihat aktif mengeruk dan mengangkut batu-batu besar serta material lain yang terbawa longsor dan banjir bandang.
Usai mengecek situasi di Lembah Anai, Presiden Prabowo kemudian melanjutkan perjalanan menuju Bandara Minangkabau untuk bertolak kembali ke Pangkalan Udara TNI AU (Lanud) Halim Perdanakusuma, Jakarta.
Donasi
Tak hanya sibuk dengan kurikulum akademik, para siswa, orangtua, dan pihak yayasan keluarga besar TK-SD Prof. Dr. Moestopo Bandung bahu-membahu mengumpulkan donasi kemanusiaan. Total dana sebesar Rp 9,75 juta berhasil dihimpun, terdiri dari sumbangan siswa dan orangtua sebesar Rp 6,75 juta serta kontribusi khusus yayasan sebesar Rp 3 juta.
Kepala SD Prof. Dr. Moestopo, Liesti Ebtariani, S.Pd., menuturkan, penggalangan dana ini bukan sekadar aktivitas seremonial. Di dalamnya, terdapat edukasi mendalam mengenai mitigasi bencana.
Sebelum kotak donasi diedarkan, para siswa diajak memahami realitas fenomena alam. “Kami berikan edukasinya dulu, kenapa terjadi banjir dan longsor, daerah mana saja yang terdampak, hingga penayangan video. Tujuannya agar anak-anak paham bahwa simpati dan empati itu bisa diwujudkan dalam aksi nyata,” ujar Liesti yang didampingi Kepala TK Prof. Dr. Moestopo, Besti Bramanti, saat penyerahan bantuan di Kantor Pikiran Rakyat di Jalan Asia Afrika, Bandung, kemarin.
Keunikan lain dari pola pendidikan di sekolah ini diungkapkan oleh Administrasi Keuangan Yayasan Pendidikan Prof. Dr. Moestopo, Ida Ayu Putu Mila Pratipta, S.Pd. Sekolah ini mengadopsi kedisiplinan ala Jepang dalam melatih kesiapsiagaan bencana. “Anak-anak dilatih sigap, bukan panik. Kebiasaan kecil menjaga lingkungan juga menjadi fondasi mitigasi jangka panjang,” kata perempuan yang akrab disapa Mila tersebut.
Ketua Yayasan Pikiran Rakyat, Puspatriani Agustina, menyambut hangat inisiatif tersebut. Perempuan yang akrab disapa Nenet ini mengapresiasi kepercayaan yang diberikan sekolah kepada Yayasan Pikiran Rakyat untuk menyalurkan amanah tersebut.
Nenet menjelaskan strategi penyaluran bantuan yang akan diterapkan. Alih-alih menumpuk bantuan di masa tanggap darurat yang sering kali berlimpah, Yayasan Pikiran Rakyat memilih fokus pada fase pemulihan atau pascabencana.
“Kini bantuan kan sedang banyak masuk, namun kami justru akan memberikan bantuan pascabencana mereda. Nantinya, agar tepat sasaran, bantuan akan diberikan melalui desa atau kelurahan di lokasi bencana,” kata Nenet.
Bantuan akan difokuskan pada pembangunan infrastruktur, namun tetap fleksibel menyesuaikan kebutuhan mendesak warga, seperti selimut, pakaian dalam, atau popok bayi.
“Kami memiliki jaringan media atau mitra yang ada di bawah naungan Pikiran Rakyat sehingga lebih paham medan dan tahu apa yang benar-benar dibutuhkan,” ucapnya. (Mochamad Iqbal Maulud, Suhirlan)***




