Kepala BLUD UPTD SPAM Manggarai Timur, Fransiskus Y. Aga, menjelaskan bahwa mata air yang digunakan sebenarnya memiliki potensi besar. Namun kapasitas pipa yang menghubungkan mata air dengan unit produksi masih terlalu kecil, sementara kebutuhan masyarakat meningkat setiap tahun.
“Masalahnya bukan di sumber. Mata air kita kuat. Tapi pipa transmisi dari mata air ke instalasi masih berdiameter 6 dim, sehingga debit tidak bisa ditarik maksimal. Ini yang membuat air kurang lancar,” ujar Fransiskus.
Ia memaparkan bahwa untuk memenuhi kebutuhan warga Kota Borong yang mencapai 23.046 jiwa diperlukan kapasitas produksi sebesar 70 liter per detik, namun demikian yang tersedia saat ini baru mencapai 30 liter per detik. “Artinya kita masih minus 40 liter per detik. Selama jaringan pipanya tidak ditingkatkan, suplai air tidak akan stabil,” tegasnya.
Solusi BLUD SPAM: Ganti Pipa 6 Dim ke 8 Dim, Terkendala Anggaran
Sebagai langkah strategis, BLUD SPAM Manggarai Timur telah menyiapkan solusi utama untuk mengatasi kemacetan air: menaikkan diameter pipa transmisi dari 6 dim menjadi 8 dim agar meningkatkan debit produksi dengan menggunakan sumber air baku dari Wae Racang yang memiliki cukup debit air baku.
“Kalau pipa diperbesar dengan penambahan debit dari sumber baru Wae Racang akan berdampak besar. Itu langsung meningkatkan kapasitas produksi kita,” kata Fransiskus.
Namun, rencana ini belum bisa direalisasikan cepat karena terkendala keterbatasan anggaran daerah. Peningkatan jalur transmisi membutuhkan biaya besar mulai dari pengadaan pipa, pemasangan, hingga normalisasi jalur pipa yang melintasi area berbukit.
“Kita sudah siapkan desain teknis, tapi memang terkendala anggaran. Pipa ukuran 8 dim membutuhkan investasi yang cukup besar. Karena itu kita butuh dukungan Pemda untuk memprioritaskan ini,” jelasnya.
Warga Minta Pemda Segera Realisasikan Solusi
Di tengah penjelasan teknis BLUD SPAM, warga Borong semakin mendesak Pemerintah Kabupaten Manggarai Timur untuk bergerak cepat. Banyak warga mengeluhkan air yang hanya mengalir beberapa hari dalam seminggu.
Robert, salah satu warga, mengaku pasokan air tidak pernah stabil.
“Kalau solusinya sudah jelas, Pemda harus segera eksekusi. Jangan biarkan warga terus kesulitan air,” katanya.
Warga lainnya, Mikael, menilai bahwa pembenahan pipa transmisi merupakan kebutuhan mendesak.
“Kalau inti masalahnya di pipa dari mata air, ya perbaiki itu dulu. Ini bukan kebutuhan tambahan, ini kebutuhan dasar,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa ketidakstabilan layanan air bersih dapat menghambat perkembangan daerah.
“Daerah ini mau maju bagaimana kalau air saja tidak stabil? Investor pun pasti ragu masuk,” tegasnya.***




