WHO Minta Zionis Israel Berhenti Picu Krisis Kelaparan di Gaza: 370 Orang Tewas, Termasuk 134 Anak

Kekhawatiran WHO terhadap Krisis Kelaparan di Gaza

Di ruang konferensi WHO di Jenewa, suara Tedros Adhanom Ghebreyesus terdengar berat namun tegas. Ia bukan hanya berbicara sebagai kepala organisasi kesehatan dunia, melainkan sebagai saksi nurani atas tragedi yang menimpa Gaza. Angka-angka yang ia sebutkan terasa menusuk: sedikitnya 370 warga sipil meninggal akibat kelaparan, termasuk 134 anak-anak.

Tedros menegaskan bahwa penderitaan itu bukanlah takdir alam, melainkan bencana buatan manusia. Ia menyebut kelaparan sebagai senjata perang, sebuah metode kejam yang tidak pernah bisa ditoleransi. “Menjadikan kelaparan warga sipil sebagai metode perang adalah kejahatan perang yang tidak pernah bisa ditoleransi,” katanya.

Kata-kata itu menggema hanya dua minggu setelah PBB secara resmi menyatakan adanya kelaparan di Gaza. PBB bahkan menuding Zionis Israel melakukan penghalangan sistematis terhadap bantuan kemanusiaan yang seharusnya bisa menyelamatkan nyawa.

Bencana yang Dihasilkan oleh Tindakan Manusia

Di balik pagar pembatas dan puing-puing bangunan, kehidupan di Gaza berubah menjadi antrian panjang menuju bantuan yang tak pernah sampai. Kementerian Kesehatan Gaza mencatat 373 orang meninggal akibat kelaparan, lebih dari 300 di antaranya hanya dalam dua bulan terakhir.

Baja Juga  OTT Bupati Lampung Tengah: Ardito Wijaya baru 9 bulan menjabat, ditangkap setelah hadiri Hakordia

Ironisnya, makanan yang bisa menyelamatkan nyawa tertahan di truk bantuan, hanya berjarak singkat dari orang-orang yang sekarat. Tedros menyebut situasi ini sebagai bencana yang sepenuhnya bisa dihentikan sekarang juga—jika saja ada kemauan politik untuk membuka jalur bantuan.

Kekurangan makanan, air bersih, dan tempat tinggal membuat sistem imun warga Gaza runtuh. Anak-anak dengan tubuh kurus, lansia yang tak lagi mampu berdiri, hingga keluarga yang bertahan hidup dengan seteguk air kotor—semuanya menjadi wajah nyata dari krisis ini.

Penyakit yang Mengintai di Tengah Kelaparan

Kelaparan hanyalah satu wajah dari tragedi Gaza. Dalam sebulan terakhir, lebih dari 100 kasus sindrom Guillain-Barre—penyakit yang bisa menyebabkan kelumpuhan—telah dilaporkan. Dengan tubuh lemah karena kurang gizi, warga Gaza menjadi lebih rentan terhadap penyakit.

Baja Juga  Hasil Kerja Keras 5 Shio Ini Buahkan Keberuntungan di Akhir Agustus 2025, Banjir Rezeki Deras Mengalir Tanpa Diduga

WHO mencatat lebih dari 15.000 pasien membutuhkan perawatan khusus dan menunggu evakuasi medis. Namun, realitas di lapangan jauh lebih pahit: lebih dari 700 orang meninggal saat menunggu evakuasi tersebut, termasuk hampir 140 anak-anak.

Setiap angka dalam laporan itu bukan sekadar statistik. Ia adalah kisah keluarga yang kehilangan, anak-anak yang tak sempat tumbuh dewasa, dan orang tua yang menatap kosong karena tak mampu lagi melindungi buah hatinya.

Seruan yang Menggema

Di akhir pernyataannya, Tedros tidak hanya berbicara kepada Israel. Ia juga menoleh kepada sekutu-sekutunya di dunia internasional. “Kami menyerukan kepada pemerintah Israel untuk mengakhiri perang yang tidak manusiawi ini. Jika tidak, saya meminta sekutunya untuk menggunakan pengaruh mereka agar menghentikannya,” tegasnya.

Baja Juga  Setelah Perbaikan, Armada Sumud Spanyol Berlayar ke Tunis

Seruan itu menandai batas antara politik dan kemanusiaan. Di satu sisi, ada kekuasaan yang menahan bantuan. Di sisi lain, ada jutaan jiwa yang bergantung pada secuil makanan dan setetes air bersih. Gaza kini menjadi panggung tragedi global yang menuntut respon, bukan sekadar simpati.

Tedros menutup dengan peringatan keras: membiarkan kelaparan digunakan sebagai senjata perang di satu konflik berisiko melegitimasi penggunaannya di konflik-konflik lain di masa depan. Dan itu, bagi WHO, adalah garis merah yang tidak boleh dilewati.

Tragedi Gaza yang Menjadi Perhatian Dunia

Tragedi Gaza bukan lagi soal politik semata, melainkan tentang kemanusiaan yang tercabik. WHO menegaskan: kelaparan sebagai senjata perang adalah kejahatan perang. Seruan Tedros kini menggantung di udara—apakah dunia akan bertindak, atau hanya menjadi saksi bisu dari sebuah bencana yang seharusnya bisa dihentikan?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *