Oleh: KH Husin Naparin Lc MA, Ketua MUI Provinsi Kalsel
Mediapresisi.com –Sudah sepekan merayakan kemerdekaan Republik Indonesia yang ke-80, tetapi melihat berita di televisi nasional maupun media sosial terasa seperti belum merasakan makna sebenarnya dari kemerdekaan. Masih ada kemiskinan, pajak yang tinggi, kasus kriminal, ditambah persaingan politik yang tak pernah berakhir.
Perbedaan pendapat yang disampaikan melalui forum diskusi di televisi, ditambah dengan narasi saling merendahkan lawan dan caci-maki, tampaknya telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari masyarakat. Menurut kabar, seseorang dianggap paling benar sementara yang lain dianggap menciptakan masalah, belum lagi orang-orang yang tidak memenuhi syarat ikut menyampaikan pendapat di depan umum. Sungguh mengecewakan fenomena ini, seharusnya perbedaan pendapat dapat membuka wawasan justru berubah menjadi ejekan masyarakat.
Allah SWT menciptakan dunia ini dengan berbagai variasi dan perbedaan. Manusia lahir dalam bentuk yang beragam, termasuk jenis kelamin, warna kulit, bentuk tubuh, dan lainnya. Semua perbedaan ini merupakan bagian dari rahmat Allah yang harus diterima dan dihargai. Tanpa adanya perbedaan, dunia tidak akan terasa menarik.
Dalam ayat 13 Surat Al-Hujurat, Allah SWT menyampaikan makna bahwa, “Wahai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kalian dari seorang laki-laki dan perempuan, serta menjadikan kalian berkelompok dan berbangsa agar kalian saling mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di sisi Allah adalah yang paling taqwa. Sesungguhnya Allah sangat mengetahui dan mengenal.”
Perbedaan yang terjadi di dunia ini merupakan bagian dari kehendak Tuhan, bukan hanya dalam hal fisik, tetapi juga sampai pada perbedaan cara berpikir. Setiap individu memiliki pikiran yang berbeda, termasuk dalam memahami agama.
Perbedaan terjadi akibat berbagai hal, seperti faktor pendidikan, lingkungan, sumber bacaan, dan lainnya. Nabi Muhammad selama hidupnya tidak menyangkal adanya perbedaan pendapat para sahabat dalam memahami perkataannya. Bahkan, Nabi sering mengakui dua pandangan yang berbeda, selama tidak bertentangan dengan aturan agama.
Sebuah kisah yang terdapat dalam Shahih al-Bukhari dan Muslim, Nabi pernah mengirimkan beberapa sahabat untuk berkunjung ke kampung Bani Quraizhah. Sebelum mereka berangkat, Nabi memberi pesan, “Kalian tidak boleh mengerjakan shalat ashar kecuali di kampung Bani Quraizhah.”
Di tengah perjalanan, waktu Ashar telah tiba. Salah seorang sahabat menyarankan agar shalat terlebih dahulu. Khawatir jika perjalanan dilanjutkan setelah waktu shalat berakhir.
Sementara sahabat lainnya menolak usulan tersebut. Alasannya, Nabi memerintahkan shalat di kampung Bani Quraizhah. Meskipun waktu shalat ashar telah lewat.
Akhirnya, kedua belah pihak dari rombongan sahabat ini tetap bersikeras dengan keyakinan masing-masing dan tidak ada yang menyerah. Ketika kembali, kedua belah pihak melaporkan kejadian tersebut kepada Nabi. Setelah mendengar penjelasan mereka, Nabi mengonfirmasi bahwa keduanya benar dan tidak menyalahkan salah satu dari keduanya.
Jika pada masa Nabi terdapat perbedaan pendapat, maka pada masa para sahabat juga demikian, apalagi di masa sekarang. Saat ini banyak sekali pandangan dan pemikiran yang ada di sekitar kita, informasi tersedia dengan sangat luas dan tidak terbatas.
Oleh karena itu, ketika terjadi perbedaan, sikap kita seharusnya adalah bijak dalam menghadapinya, jangan terburu-buru menolak atau menyalahkan orang yang memiliki pendapat berbeda dengan yang kita pahami. Mungkin saja pendapat yang berbeda tersebut juga memiliki alasan dan dasar yang valid.
Kita juga tidak perlu khawatir tentang perbedaan pendapat, namun yang kita tolak adalah mereka yang paling membangkang dan mengklaim bahwa hanya mereka yang benar sementara yang lain salah, suka menghina yang bisa menyebabkan perselisihan, meskipun memiliki banyak alasan.
Seharusnya terdapat empat sikap yang dimiliki seseorang dalam menghadapi perbedaan pendapat, baik dalam hal agama maupun isu lainnya. Pertama, sebelum merasa paling benar dengan pendapat yang dipercayai, lebih baik terlebih dahulu memperluas wawasan dan membaca berbagai sumber. Seseorang yang memiliki wawasan luas biasanya jarang menyalahkan orang lain. Cukup memahami satu ayat atau satu hadis, lalu kita mudah menyalahkan orang lain yang justru sudah belajar agama lebih lama dari kita. Ironis jika hanya mengandalkan pengetahuan yang dangkal, lalu dengan mudahnya menunjuk orang lain seakan-akan kita paling benar.
Kedua, menempatkan toleransi dan rasa empati sebagai prioritas, saling memahami sesama tanpa menghakimi orang lain. Meskipun Nabi tegas dalam menentang perbuatan maksiat, Nabi tetap memiliki kasih sayang kepada sahabatnya yang belum mampu taat dalam menjalani ajaran Allah.
Peristiwa ini pernah terjadi pada sahabat Nabi yang bernama Nuaiman. Ia seorang peminum alkohol, namun tetap memiliki cinta kepada Allah dan Rasul-Nya. Oleh karena itu, Nabi melarang sahabat-sahabatnya yang lain untuk menghina Nuaiman. Menurut Nabi, menghina seseorang akan memudahkan setan untuk menjerumuskan Nuaiman tersebut.
Ketiga, lebih memilih berdialog daripada sekadar ingin menang sendiri. Nasihat untuk berdialog ini terdapat dalam surah al-Nahl ayat 125 yang menyuruh kita sebagai umat Muslim untuk berbicara dengan cara yang bijak, tidak emosional, dan terbuka terhadap masukan serta kritik. Terlebih lagi, kita hidup di masa demokrasi yang memungkinkan siapa saja untuk menyampaikan pendapat.
Allah SWT berfirman yang maksudnya, “Panggilah manusia kepada jalan Tuhanmu dengan kebijaksanaan dan nasihat yang baik, serta debatlah mereka dengan cara yang lebih baik. Sesungguhnya Tuhanmu adalah yang paling mengetahui siapa yang tersesat dari jalannya dan Dia juga yang paling mengetahui siapa yang mendapatkan petunjuk.”
Empat, berusaha mencari kesepahaman yang dalam bahasa Al-Qur’an disebut kalimatun sawa (QS. Ali ‘Imran ayat 64). Kesepahaman tersebut umumnya dapat dilakukan dengan memilih suara terbanyak dari hasil diskusi yang telah dilakukan.
Mufasir nusantara seperti Hasbi as-Shiddiqy. Al-Siddiqy mengggunakan istilah kalimatun sawa’ sebagai konsep kesepahaman dalam perbedaan keyakinan.
Secara sederhana, istilah “sawa'” mengacu pada suatu titik kesepahaman yang terletak di tengah perbedaan agar dapat mencegah konflik dan mencapai keuntungan bersama. Imam Syafi’i menyatakan bahwa pendapat saya benar, namun bisa saja salah, sedangkan pendapat orang lain salah, tetapi mungkin saja benar. Pendapat yang bijaksana ini menunjukkan bahwa kebenaran bersifat relatif dan bukan sesuatu yang mutlak.
Pada akhirnya, perbedaan adalah suatu kepastian. Mudah bagi Allah untuk menyatukan segalanya, tetapi terdapat banyak hikmah yang Allah hadirkan dalam setiap perbedaan. Ingatlah bahwa Allah SWT berfirman dalam Surah Hud ayat 118 yang maknanya “Jika Tuhanmu menghendaki, tentu Dia menjadikan kalian sebagai umat yang satu…”.(*)




