Kehidupan di Kelurahan Karangtalun
Pada pagi hari yang tenang, angin laut berembus lembut di Kelurahan Karangtalun, Cilacap Utara. Pada Jumat, 15 Agustus 2025, suasana Tempat Pelelangan Ikan (TPI) RW 05 terasa berbeda. Bukan lagi kegempaan para nelayan dengan hasil tangkapan mereka, melainkan puluhan warga yang antusias berkumpul. Mereka duduk rapi di kursi sederhana, menunggu pengetahuan baru yang dibawa oleh mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Sebelas Maret (UNS) kelompok 37.
Tema Sosialisasi yang Unik
Tema sosialisasi yang diangkat cukup menarik yaitu “Pemanfaatan Mangrove menjadi Produk.” Warga yang hadir, sebagian besar ibu-ibu rumah tangga, awalnya mengira kegiatan ini hanya sebatas penyuluhan lingkungan. Namun, siang itu mereka dikejutkan oleh sesuatu yang tak biasa—mangrove yang selama ini dianggap sekadar penahan abrasi, ternyata bisa diolah menjadi minuman, sabun, hingga spray anti nyamuk.
Pembuatan Teh Mangrove
Dari meja demonstrasi, Kinanti Prameswari Tungga Dewi mulai meracik daun mangrove yang telah dikeringkan. Tak lama kemudian, aroma seduhan teh menyeruak memenuhi ruangan. Beberapa warga tampak penasaran, ada pula yang langsung mendekat untuk mencicipi.
“Awalnya saya kira hanya tanaman pesisir, ternyata bisa diminum juga,” ungkap seorang ibu dengan wajah berbinar, sambil menyeruput hangatnya teh mangrove. Rasa penasaran seketika berubah menjadi kekaguman.
Manfaat dan Potensi Mangrove
Teh mangrove bukan sekadar minuman. Kandungan alaminya dipercaya memiliki manfaat kesehatan, sekaligus membuka jalan baru bagi masyarakat pesisir untuk mengembangkan potensi lokal yang sebelumnya terabaikan.
Dari Sabun Hingga Spray Anti Nyamuk
Setelah teh, giliran Dyna Nurhauna Nisa’ mengambil alih. Dengan cekatan, ia memperagakan cara membuat sabun cair dari mangrove. Cairan pekat berwarna lembut perlahan berubah menjadi sabun yang harum dan segar. Warga tampak antusias, bahkan beberapa langsung mengabadikan prosesnya dengan kamera ponsel.
Tak berhenti di situ, Dimas Bonar Cahyo Wahyuono melanjutkan dengan memperkenalkan antisida dan spray anti nyamuk berbahan dasar mangrove. Sederhana, namun sangat bermanfaat. Produk-produk itu memperlihatkan bahwa mangrove tak hanya berfungsi menjaga garis pantai, tetapi juga bisa hadir di rumah-rumah dalam bentuk yang lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Harapan Baru dari Produk Mangrove
“Kalau bisa dikembangkan, produk ini bisa dijual. Lumayan untuk tambahan penghasilan,” komentar seorang bapak sambil mencoba sabun cair yang lembut di tangannya. Senyumnya menandakan harapan baru.
Inovasi untuk Ekonomi Kreatif
Program KKN ini ternyata lebih dari sekadar praktik keterampilan. Ia menjadi pintu bagi lahirnya ekonomi kreatif di desa pesisir. Warga tak lagi memandang mangrove sebatas deretan pohon yang berdiri di tepi laut, tetapi sebagai sumber daya yang mampu memberi nilai tambah.
“Kami ingin masyarakat melihat mangrove bukan hanya sebagai pelindung pantai, tapi juga sebagai peluang usaha,” ujar Dyna mewakili tim KKN.
Identitas Baru Desa Pesisir
Cilacap Utara, yang selama ini identik dengan nelayan dan pantai, kini perlahan menemukan identitas baru melalui inovasi berbasis mangrove. Teh, sabun cair, antisida, hingga spray anti nyamuk hanyalah langkah awal. Dengan bimbingan yang berkelanjutan, bukan mustahil suatu hari nanti Karangtalun dikenal sebagai desa penghasil produk berbahan dasar mangrove.
Kontribusi Nyata untuk Masyarakat
Bagi mahasiswa UNS, keberhasilan program ini bukan sekadar capaian akademik, melainkan kontribusi nyata bagi masyarakat. Bagi warga, ini adalah awal perjalanan untuk mengubah cara pandang terhadap potensi yang ada di sekitar mereka.
Di balik rimbunnya hutan pesisir, mangrove yang dahulu hanya dikenal sebagai penjaga garis pantai, kini bertransformasi menjadi simbol harapan, kreativitas, dan peluang baru.




