Pengalaman Awal Bertemu Calon Mertua
Malam minggu sering kali menjadi waktu yang tepat untuk merenung dan mengingat masa lalu. Salah satu momen yang terus terkenang adalah pengalaman pertama bertemu dengan calon mertua. Saat itu, saya dan (calon) suami sudah saling kenal cukup lama. Namun, belum ada rencana untuk memperkenalkan ke orang tua masing-masing. Alasannya cukup sederhana, yaitu karena orang tua dan calon mertua saat itu tinggal di pulau yang berbeda. Selain itu, kami juga masih belum yakin dengan arah hubungan kami ke depan.
Selain itu, ada isu dari pihak calon suami bahwa orang tuanya sedang mencari calon mantu yang sesuku. Saya pun tahu bahwa saya tidak cocok dengan kriteria tersebut. Selain beda pulau, kami juga memiliki perbedaan suku yang jelas. Kami bahkan bertemu di ibu kota, tempat yang sangat jauh dari latar belakang kami masing-masing.
Namun, pada suatu hari yang masih jelas terpahat dalam ingatan, calon mertua saya berkunjung ke Jakarta. Karena calon suami bukan anak tunggal, ada adik ipar yang juga bekerja di ibu kota. Secara alami, orang tua mereka ingin menjenguk dua anaknya dan menginap di rumah kontrakan anaknya.
Dari mana asal ide ini, calon suami mengusulkan agar saya bertemu dengan ibunya di salah satu mall di ibu kota. Katanya, sekalian jalan-jalan. Saya setuju meskipun sebenarnya tidak tahu bagaimana reaksi sang calon mertua.
Ketika bertemu, kesan pertama memang biasa saja. Namun yang agak aneh adalah, calon mertua tidak pernah merespons pertanyaan atau obrolan saya. Apa pun yang saya ajukan, ia seolah mengabaikannya. Bukan ketus, tapi lebih seperti silent treatment. Sebagai seseorang yang masih labil usia, saya tentu saja shock, namun berusaha tetap tenang. Pikiran positif saya adalah, mungkin dia lelah atau hanya malas berbicara dengan orang asing.
Setahun kemudian, kami menikah dan akhirnya mendapat restu. Setelah pertemuan itu, hingga setahun berikutnya, saya belum pernah membangun komunikasi apa pun dengan calon mertua. Hanya mendapatkan kabar dari calon suami tentang perkembangan mereka sampai akhirnya beliau setuju.
Ketus Bukan Berarti Jahat
Setelah menikah, awal-awal memang agak kaku. Terutama karena selama ini tidak ada percakapan apa pun. Perbedaan latar belakang dan budaya memang tidak mudah untuk dibangun kedekatannya. Namun, perlahan tapi pasti, komunikasi mulai terjalin. Alhamdulillah hingga saat ini, hubungan kami cukup baik.
Dari pengalaman ini, saya percaya bahwa sesuatu yang tampak buruk di awal belum tentu buruk hingga akhir. Begitu pula sebaliknya, sesuatu yang terlihat baik-baik saja di awal bisa jadi tidak akan baik setelah menikah. Semua butuh proses dan waktu.
Misalnya, ada teman yang merasa calon mertuanya sangat baik, eh setelah menikah malah tidak akur. Banyak ketidakcocokan hingga ucapan yang sering menyakitinya. Jadi, jika suatu hari bertemu dengan calon mertua yang tidak umum, entah ketus atau terasa jahat, jangan langsung men-judge yang bukan-bukan. Pelajari dengan baik terlebih dahulu. Latar belakang keluarga, latar belakang spiritual, dan hal-hal lain yang mungkin menjadi jawaban di masa depan.
Dan satu lagi, menurut saya yang paling penting sebenarnya adalah pasangan kita. Bagaimana sikap dan perilakunya. Mertua dan ipar-ipar bisa saja tidak cocok. Dan mungkin ini akan berpengaruh besar. Namun selama pasangan baik, pro keluarga inti dan berani menyuarakan yang benar, segalanya insyaAllah akan baik-baik saja.
Saat ini, saya memang belum merasakan bagaimana rasanya menjadi calon mertua. Apalagi anak-anak masih di jenjang sekolah semua. Namun bila itu terjadi kelak, bisa jadi saya juga akan menjadi calon mertua yang selektif dalam memutuskan calon menantu yang pas untuk anak. Bukan berarti memaksakan, galak atau ketus, namun yang pasti akan ikut berhati-hati dan memberi banyak pertimbangan dengan pilihan anak kedepannya. Jangan sampai, hanya karena calon mertua terlalu lambat dan tidak peduli, anak salah memilih pasangannya.
Semoga bermanfaat.




