Agustina Tekankan Komitmen Pemkot Semarang Ciptakan Kota Ramah Anak

Semangat Anak-Anak Membangun Kota Ramah Anak

Di tengah suasana penuh semangat, Balai Kota Semarang menjadi tempat berlangsungnya Konferensi Anak yang menjadi bagian dari peringatan Hari Anak Nasional 2025. Acara ini tidak hanya sekadar seremonial, tetapi benar-benar menjadi wadah bagi anak-anak untuk menyampaikan aspirasi mereka tentang masa depan Kota Semarang.

Ratusan anak hadir dalam acara tersebut, menunjukkan antusiasme besar terhadap kesempatan yang diberikan. Hadir langsung Wali Kota Semarang Agustina dan Wakil Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) Veronica Tan. Keduanya memberikan apresiasi atas keberanian anak-anak dalam menyampaikan pendapat mereka mengenai kota ramah anak.

Agustina mengapresiasi inisiatif anak-anak yang pertama kali diajak bicara tentang pembangunan Kota Semarang. Ia bahkan memimpin doa bersama bagi anak-anak yang bermimpi menjadi dokter, menteri, atau profesi lainnya. Menurutnya, setiap kata yang diucapkan memiliki kekuatan, sehingga penting untuk selalu menggunakan kata-kata yang baik.

Baja Juga  Libur Maulid, Pertamina Tambah 915.960 Tabung LPG 3 Kg

Selain itu, aspirasi yang disampaikan oleh anak-anak langsung mendapat respons dari pihak terkait. Isu seperti perundungan (bullying), pengakuan prestasi non-akademik, serta kebutuhan ruang khusus bagi anak-anak disabilitas menjadi fokus utama. Agustina menegaskan komitmen Pemkot Semarang dalam menyediakan beasiswa bagi anak berprestasi dan membangun pusat kegiatan anak di setiap kecamatan.

Keysha, seorang anak yang menggagas komunitas orang tua dengan anak disabilitas, mendapatkan apresiasi khusus. Ia dianggap sebagai contoh nyata semangat yang harus didukung oleh masyarakat. Saat ini, Semarang telah memiliki enam Rumah Inspirasi dan Rumah Bersama Indonesia, yang merupakan langkah awal menuju target 16 unit di tingkat kecamatan. Fasilitas ini bertujuan untuk memberikan ruang khusus bagi anak-anak berkebutuhan khusus agar tetap bisa berkarya.

Baja Juga  Polri Pertimbangkan Temuan Baru Keluarga Diplomat Arya Daru

Wamen PPPA Veronica Tan menekankan pentingnya peran negara dalam menjaga hak-hak anak. Ia memberikan contoh pengalamannya saat menjabat Ketua PKK Jakarta, di mana ruang publik terpadu dibangun melalui kolaborasi akademisi dan perusahaan. Menurutnya, anak-anak perlu memiliki ruang olahraga, ruang seni, amphitheater kecil, tempat bermain, hingga ruang keluarga untuk menciptakan lingkungan positif yang dapat mengurangi paparan negatif media sosial.

Selain pembangunan fisik, Veronica juga menyoroti program nasional yang telah diluncurkan Presiden RI, seperti Makan Bergizi Gratis (MBG) di sekolah, cek kesehatan dan imunisasi HPV untuk anak perempuan, serta Sekolah Rakyat bagi anak dari keluarga kurang mampu. Namun, ia menegaskan bahwa semua program ini tidak akan berjalan tanpa kolaborasi antara pemerintah daerah dan masyarakat.

Baja Juga  Banyak pejabat disorot saat tinjau banjir Sumatra, Ustaz Adi Hidayat: Stop dulu atraksi politiknya

Veronica juga menekankan pentingnya pendidikan karakter. Menurutnya, kecerdasan saja tidak cukup tanpa budi pekerti dan empati. Ia mengingatkan anak-anak untuk menggunakan teknologi, tetapi jangan sampai diperbudak olehnya. Teknologi harus dikendalikan, bukan sebaliknya.

Selain itu, ia menyentil guru-guru yang masih meremehkan isu perundungan di sekolah. Menurutnya, jika guru tidak menjaga moral, maka anak-anak sulit merasa aman. Ia juga mendorong pengakuan prestasi non-akademik dalam sistem pendidikan, karena prestasi seperti kemampuan bernyanyi juga layak dihargai.

Konferensi Anak ini menjadi momentum penting dalam pergeseran paradigma. Anak-anak tidak lagi hanya menjadi objek pembangunan, tetapi menjadi subjek yang suaranya didengar. Veronica menegaskan bahwa generasi masa depan adalah generasi AI dan perubahan, tetapi yang membedakan mereka dengan mesin adalah hati dan nurani. Itulah yang harus dijaga dan dikembangkan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *