jatim.bengkalispos.com, SURABAYA – Para Bupati/Wali Kota diminta untuk memperkuat langkah-langkah strategis dalam menghadapi musim kemarau yang menyebabkan kekeringan dan membahayakan produksi pertanian.
Perintah tersebut disampaikan oleh Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa, melalui surat dengan nomor 500.6.1/10499/110/2026, sebagai tindak lanjut dari surat Menteri Pertanian Republik Indonesia bernomor B-73/TI. 050/M/03/2026 yang dikeluarkan pada tanggal 9 Maret 2026.
Gubernur Khofifah menyampaikan, tindakan ini harus dilakukan untuk memastikan kelangsungan produksi pertanian, sekaligus mendukung tujuan swasembada pangan nasional.
“Upaya penanggulangan tidak boleh menunda sampai dampak kekeringan terjadi. Produksi pertanian perlu tetap dipertahankan agar dapat memenuhi kebutuhan pokok di tingkat lokal maupun nasional,” kata Khofifah, Jumat (3/4).
Menurutnya, berdasarkan prediksi dari Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), musim kemarau di Jawa Timur akan terjadi antara April hingga Agustus 2026, dengan kemungkinan meningkatnya ancaman kekeringan di beberapa daerah.
Oleh karena itu, pemerintah daerah perlu mengambil beberapa tindakan nyata, seperti melakukan pemetaan wilayah yang rentan kekeringan, membangun sistem peringatan dini, serta membentuk tim tanggap kekeringan.
“Meningkatkan pengelolaan sumber daya air dengan merehabilitasi jaringan irigasi, embung, pemanfaatan sumur dangkal, serta pemanfaatan teknologi pompa, pipa, dan irigasi berpompa,” katanya.
Mantan Menteri Sosial itu mendorong percepatan masa tanam di daerah yang memiliki potensi dengan memakai varietas tanaman yang tahan terhadap kekeringan dan berumur pendek.
“Mengatur pola tanam sesuai dengan kondisi iklim dan ketersediaan air di setiap daerah,” tambahnya.
Ia menekankan pentingnya koordinasi dan keterpaduan antara pemerintah daerah dengan berbagai pihak terkait harus diperkuat, agar dapat meningkatkan produksi pertanian secara berkelanjutan.
Selain itu, pemerintah daerah secara aktif memberikan laporan mengenai perkembangan produksi pertanian di wilayahnya masing-masing, sebagai bagian dari upaya pemantauan dan penilaian.
“Ketahanan pangan merupakan dasar. Jawa Timur tetap menjadi penyumbang utama pangan nasional, bahkan di tengah kondisi iklim yang sulit,” ujar Khofifah.(mcr23/jpnn)




