Hadapi Kekurangan Air, BRIN Kembangkan Teknologi Ramah Lingkungan

PIKIRAN RAKYAT –Kekurangan pasokan air bersih di berbagai daerah Indonesia diperkirakan akan terjadi dalam waktu tidak terlalu lama. Laporan dari Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) tahun 2020 menyebutkan, beberapa wilayah di Indonesia akan menghadapi krisis air bersih pada tahun 2045.

Selain itu, proporsi wilayah yang mengalami krisis air juga diperkirakan akan meningkat. Pada tahun 2000 sebesar 6 persen menjadi 9,6 persen pada 2045. Anggota Dewan Pengarah Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) I Gede Wenten menyampaikan, pengelolaan air bersih perlu menerapkan konsep eco-efficient atau efisiensi ekologis.

Menurut I Gede Wenten, yang juga merupakan inovator dalam teknologi pengolahan air bersih, menekankan pentingnya memanfaatkan sumber daya air secara optimal dengan mengurangi penggunaan energi, bahan kimia, lahan, serta biaya operasional.

Baja Juga  Gelombang Baru Kreator Digital: Dampak Ekonomi dan Perubahan Sosial di TikTok Indonesia

Prinsip utamanya, sebagaimana dijelaskan oleh Wenten, adalah memproses air tanpa menghasilkan dampak lingkungan baru, sambil tetap memastikan kelancaran pasokan air untuk masyarakat. Salah satu metode dalam pengelolaan air bersih yang dikembangkan adalah teknologi penangkapan air hujan dengan sistem remineralisasi.

Air hujan diolah dengan cara disaring dan disimpan, kemudian ditambahkan mineral alami seperti kapur dan magnesium agar layak dikonsumsi. Teknologi ini dinilai sangat menjanjikan bagi daerah yang masih memiliki curah hujan tinggi, namun menghadapi keterbatasan air tanah.

Pada webinar Diseminasi dan Pemanfaatan Teknologi Pengolahan Air Bersih yang diadakan pada hari Rabu, 12 November 2025, ia juga memperkenalkan Atmospheric Water Generator (AWG), yaitu alat yang mampu mengembunkan uap air dari udara lembab. Alat ini dinilai sesuai digunakan di daerah pesisir atau pulau-pulau terpencil yang tidak memiliki sumber air sama sekali.

Baja Juga  Daniel Ek Mundur, Ini Pengganti CEO Spotify

Pengolahan Air Minum di Wilayah Pantai

Meskipun alat tersebut termasuk boros dalam penggunaan listrik, menurutnya, teknologi ini menjadi pilihan solusi bagi daerah terpencil yang sama sekali tidak memiliki akses air. Wenten menyampaikan, versi terbaru AWG dirancang dengan menggunakan energi matahari agar dapat beroperasi di wilayah yang tidak memiliki pasokan listrik maupun bahan bakar.

Di kawasan pesisir dan daerah air payau, menurut Wenten, pengolahan air minum dapat dilakukan dengan teknologi solar still. Teknologi ini merupakan sistem penguapan air laut menggunakan panas matahari.

Ia mengatakan, alat tersebut memiliki fungsi ganda, mampu menghasilkan air minum, garam, listrik sederhana dari turbin angin, serta berfungsi sebagai tempat berlindung.

Baja Juga  5 HP Android Tercepat 2025 dengan Snapdragon 8 Elite, Hancurkan Lawan!

Bahkan, menurutnya, jika dikembangkan secara luas, alat ini mampu menjadikan daerah pesisir sebagai sumber garam sekaligus air bersih.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *