MediaPresisi.com — Di tengah upaya nasional memperkuat ketahanan pangan, jajaran Kepolisian Sektor (Polsek) Parigi menunjukkan pendekatan berbeda: turun langsung ke lahan pertanian. Pada Rabu pagi, Kanit Binmas Polsek Parigi, Aiptu Irwan, bersama Bhabinkamtibmas Desa Parigimpu’u, Aiptu Made Adi Kuswanto, meninjau kebun jagung binaan Polri yang dikelola warga setempat di Kecamatan Parigi Barat.
Kunjungan tersebut menjadi bagian dari inisiatif Polri dalam Program Ketahanan Pangan Nasional, yang menitikberatkan pada kemandirian pangan berbasis komunitas desa. Di atas lahan milik Andi Nuru, seorang petani yang sejak awal didampingi Bhabinkamtibmas, hamparan jagung tampak tumbuh subur menjelang masa panen.
“Kami tidak hanya bertugas menjaga keamanan, tapi juga berperan aktif membantu masyarakat menjaga keberlanjutan ekonomi lokal,” ujar Aiptu Irwan sambil memeriksa barisan tanaman jagung yang mulai menguning tanda siap panen.
Program ketahanan pangan ini telah berjalan di sejumlah desa di wilayah hukum Polsek Parigi. Polri tidak hanya memberikan pendampingan teknis, tetapi juga menjembatani kerja sama antara petani dan instansi lain, termasuk Bulog, dalam upaya penyerapan hasil panen kuartal III tahun 2025.
Menurut pantauan di lapangan, jagung di kebun Parigimpu’u diperkirakan siap panen dalam waktu dua pekan mendatang. Hasilnya diharapkan dapat diserap langsung oleh Bulog sebagai bagian dari upaya menjaga stok pangan daerah dan menekan fluktuasi harga di pasar.
Aiptu Made Adi Kuswanto menuturkan, keterlibatan Polri dalam bidang pertanian berangkat dari kebutuhan mendesak untuk memperkuat ketahanan ekonomi masyarakat desa. “Kami ingin menunjukkan bahwa peran Bhabinkamtibmas bukan hanya soal keamanan, tapi juga membangun kesejahteraan warga,” katanya.
Inisiatif tersebut mendapat sambutan positif dari warga sekitar. Sejumlah petani mengaku terbantu dengan pendampingan Polri, mulai dari pengolahan tanah, pengawasan hama, hingga akses distribusi hasil panen. Dukungan ini, kata mereka, memberi rasa aman dan semangat baru dalam mengelola lahan pertanian.
Program ini juga menjadi cerminan sinergi lintas sektor yang lebih luas. Pemerintah daerah, aparat keamanan, dan masyarakat desa kini berkolaborasi dalam satu visi: menciptakan kemandirian pangan di tingkat lokal. Dengan pendekatan ini, desa bukan lagi sekadar penerima bantuan, tetapi aktor utama dalam menjaga rantai pasok pangan nasional.
Langkah Polsek Parigi tersebut menggambarkan perubahan paradigma dalam pelayanan publik Polri—dari sekadar menjaga ketertiban menjadi agen pemberdayaan masyarakat. Di tengah tantangan ekonomi global dan ketidakpastian iklim, model seperti ini memberi harapan baru tentang bagaimana aparat negara dapat hadir lebih dekat dengan rakyat.
Saat matahari mulai meninggi di atas Parigimpu’u, suara semangat para petani berpadu dengan langkah aparat berseragam cokelat di tengah hamparan jagung. Di sanalah ketahanan pangan negeri ini, barangkali, sedang tumbuh dari akar paling dasarnya—desa.***




