Warta Bulukumba– Langit senja di pelabuhan kecil Koufonisi, tenggara Kreta, dihiasi oleh bayangan kapal yang perlahan bergerak menjauh. Di atas deck, para aktivis memegang spanduk dan bendera, menatap lurus ke arah laut. Mereka menyadari, 500 mil laut di depan, terdapat garis tak terlihat: blokade ketat ‘Israel’ di perairan Gaza. Namun, menyerah bukanlah pilihan.
Inilah Global Sumud Flotillaarmada internasional terdiri dari lebih dari 600 orang, termasuk aktivis, pengacara hak asasi manusia, serta anggota parlemen dari Italia dan Spanyol.
Tujuan mereka jelas: menghentikan blokade yang telah menahan Gaza sejak 2007. Katasumuddalam bahasa Arab artinya “keteguhan”—dan itulah yang mereka bawa, meskipun bayangan ancaman tetap menghantui.
Mediasi ditolak, bahaya meningkat
Minggu, 14 September 2025, kapal-kapal terakhir Flotilla berangkat dari Bizerte, Tunisia. Pada hari Jumat, 26 September 2025, mereka telah tiba di bagian timur Laut Mediterania, mendekati jalur yang paling berisiko. Pemerintah Italia pernah berusaha menjadi perantara.
Mengutip Eunewspada hari Minggu, Presiden Sergio Mattarella mengajak aktivis untuk menerima tawaran Patriarkat Latin Yerusalem agar bantuan dapat disampaikan melalui jalur resmi melalui Siprus, kemudian ke Gaza melalui ‘Israel’.
Mattarella menganggap misi tersebut memiliki nilai yang tinggi. Namun, para aktivis menolaknya. Maria Elena Delia, juru bicara Flotilla untuk Italia, menyatakan: “Kami tidak dapat menerima usulan yang justru menghalangi kapal-kapal untuk berlayar di perairan internasional dengan risiko diserang.”
Kementerian Luar Negeri ‘Israel’ memberikan respons yang tajam. Tel Aviv mengatakan bahwa Flotilla bertujuan “memicu dan mendukung Hamas”.
Menteri Gideon Sa’ar menegaskan, “Tidak ada kapal yang diperbolehkan melanggar blokade laut yang sah.” Ia menyatakan bahwa ‘Israel’ telah memberikan pilihan, termasuk melepaskan barang di pelabuhan Ashkelon untuk selanjutnya dikirim ke Gaza.
Namun, fakta di laut menyatakan hal sebaliknya. Pada 23–24 September, kapal-kapal Flotilla dilaporkan diserang oleh drone yang tidak dikenal.
Menteri Pertahanan Italia, Guido Crosetto, akhirnya mengirimkan fregat angkatan laut untuk melakukan penjagaan, dengan menegaskan bahwa tugasnya hanya terbatas pada bantuan darurat. Spanyol kemudian mengikuti langkah tersebut dengan mengerahkan kapal penyelamat dari Cartagena.
Perdebatan politisi Italia memanas
Di Italia, diskusi mengenai Flotilla memunculkan perdebatan yang semakin panas. Perdana Menteri Giorgia Meloni menyebut tindakan ini sebagai “berbahaya dan tidak bertanggung jawab.”
Di sisi lain, MEP Marco Tarquinio dari Partai Demokrat mengkritik pemerintah yang dianggap tidak memperhatikan fakta bahwa “perairan Gaza adalah milik Palestina, bukan ‘Israel’.”
Benedetta Scuderi, anggota Parlemen Eropa dari aliansi Hijau dan Kiri, berbicara langsung dari kapal Morgana. Ia menyampaikan terima kasih kepada Mattarella atas pernyataannya, tetapi mengkritik Meloni yang menolak misi kemanusiaan.
“Kami meminta dibukanya jalur kemanusiaan di bawah pengawasan PBB,” teriaknya.
Di Brussels, 58 anggota Parlemen Eropa mengirimkan surat kepada Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen, meminta Frontex segera bertindak. Menurut mereka, lembaga tersebut seharusnya melakukan pengawasan udara dan laut guna mencegah terjadinya bencana. Namun, birokrasi menyebabkan keputusan ditunda, sementara Flotilla terus mendekati Gaza.
Lautan yang melintasi batas-batas moral
Sejak tahun 2007, wilayah laut, darat, dan udara Gaza ditutup oleh blokade yang diberlakukan ‘Israel’. Bagi banyak penduduk Eropa yang ikut dalam Flotilla, hal ini bukan hanya pengiriman bantuan, tetapi juga perlawanan simbolis terhadap situasi saat ini.
“Kami siap menghadapi risiko,” ujar seorang aktivis di dek, suaranya hilang terbawa angin laut.
Sekarang, jarak menuju perairan Gaza semakin pendek. Ancaman nyata dari pembatasan, kebijakan Eropa yang tidak pasti, serta tekanan diplomatik ‘Israel’ menjadikan perjalanan Flotilla bukan hanya perahu fisik, tetapi juga ujian keteguhan hati global.




